Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi (Liputan6.com)
Dream - Dampak Covid-19 terjadi hampir merata dan menyerang banyak orang. Pemerintah tidak bisa dibiarkan sendirian melakukan upaya pemberantasan Covid-19.
Rektor Istitut Pertanian Bogor, Arif Satria, mengatakan, kampanye edukasi harus efektif. Hal itu tidak melulu dari pemerintah namun dibutuhkan gerakan sosial berskala luas.
" Edukasi campaigne harus benar-benar efektif dan enggak bisa melulu dari pemerintah, butuh gerakan sosial luar biasa," ujar Arif dalam talkshow yang disiarkan channel YouTube BNPB.
Menurut Arif, kesadaran menerapkan protokol kesehatan 3M hanya terjadi di perkotaan. Sementara di daerah tidak sepatuh masyarakat perkotaan.
Dia beralasan ini disebabkan ada problem keteladanan tokoh di daerah. Sehingga, diperlukan keterlibatan tokoh agar kampanye 3M bisa efektif.
" DPRD, Bupati, Wali Kota, ahli agama memberi contoh yang baik, akan lebih mudah menyerap ke bawah," kata dia.
Sementara, Katib Aam PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, mengatakan, tokoh agama sudah banyak terlibat dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Utamanya untuk lingkungan pesantren.
Kiai Yahya mengatakan hampir semua pesantren menunda pembelajaran tatap muka. Rata-rata pesantren menerapkan pembelajaran jarak jauh.
Jikapun ada pesantren yang mulai membuka asrama sehingga santri bisa kembali mondok, hal itu dilakukan dengan diiringi penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat.
" Ini menjadi sosialisasi yang sangat kuat, sehingga orang tua murid atau wali santri tahu apa yang harus dilakukan dengan wabah ini," kata dia.
Kiai Yahya juga mengatakan kegiatan komunitas yang biasanya dengan berkumpul kini sudah dilakukan secara virtual. Hal ini, menurut dia, sudah menjadi wahana sosialisasi kampanye masyarakat.
" Saya melihat masyarakat dari kalangan terdidik dengan kelas menengah sudah banyak mengetahui seluk beluk Covid-19 dan sudah punya kesadaran cukup tinggi. Tapi ada sebagian masyarakat, karena kondisi kehidupan secara realistis tidak membuat dia terhalan dari akses informasi," ucap Kiai Yahya.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Dream - Ilmuwan pengembang vaksin di seluruh negara di dunia kini tengah bekerja keras untuk membuat vaksin Covid-19. Virus yang berasal dari Wuhan, China itu memicu pandemi dan menyebabkan angka kematian yang sangat tinggi di banyak negara.
Vaksin Covid-19 sangat dibutuhkan demi menekan penambahan kasus serta kematian. Nantinya, vaksin bakal diberikan pada mereka yang sehat. Sampai saat ini sudah ada 10 jenis vaksin Covid-19 yang sudah sampai tahap uji klinis fase tiga.
Hal tersebut diungkapkan oleh Prof. Dr. dr. Cissy Rachiana Sudjana Prawira-Kartasasmita, Sp.A. (K), M.Sc, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran dalam webinar " Mendalami soal Vaksin dan Imunisasi" yang digelar Selasa, 27 Oktober 2020.
Menurut Prof Cissy, jenis vaksin Covid-19 yang tengah dikembangkan cukup beragam. Ada yang berupa vaksin hidup yang dilemahkan, ada juga yang berupa inactivated dan masih banyak lagi.
" Untuk covid-19, ini satu vaksin dibuat dengan berbagai platform. Ada yang virus mati inactivated, virus hidup yang dilemahkan, ada DNA RNA, ada delapan macam platform, yang di Indonesia inactivated, yang sedang kita lakukan penelitiannya," ujar Prof Cissy.
Sebelum memasuki uji klinis fase tiga, vaksin Covid-19 melewati banyak tahapan untuk menjamin keamaan. Tahap pertama adalah Pra Klinik, berupa identifikasi calon vaksin yang dilakukan oleh tim peneliti antigen. Uji antigen pada tahap ini dilakukan pada binatang.

Calon vaksin Covid-19 yang lolos kemudian melalui tahap uji klinis fase 1 dengan melibatkan 100 orang untuk pengujian respons imun. Setelah itu tahapan selanjutnya adalah uji klinis fase 2, untuk melihat keamanan dan efektivitasnya, yang melibatkan 400-600 orang.
Pada calon vaksin Covid-19 yang kini tengah diteliti di Indonesia, sedang dalam tahapan uji klinis fase 3, di mana pengujian dilakukan pada ribuan atau puluhan ribu orang. Nantinya, jika vaksin bekerja dengan baik dapat disetujui oleh pihak yang berwenang untuk diproduksi dan diedarkan.
Untuk di Indonesia, pihak yang berwenang adalah BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Menurut Prof Cissy, jika BPOM sudah memberi izi produksi dan izin edar maka bisa dikatakan aman.
" BPOM sudah melakukan hal yang baik, tidak kalah dengan FDA (Food and Drug Adminstration) di Amerika. Kalau BPOM sudah rilis sertifikat, dan diproduksi, percayalah itu aman," ungkap Prof Cissy.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam