Penembak Jitu Ini Robohkan 5 Militan ISIS dengan 3 Peluru

Reporter : Sandy Mahaputra
Selasa, 15 Desember 2015 07:32
Penembak Jitu Ini Robohkan 5 Militan ISIS dengan 3 Peluru
Sebelumnya sniper ini juga menembak mati algojo ISIS dari jarak 1.000 meter.

Dream - Kehebatan pasukan khusus Inggris SAS dalam menumpas kelompok teroris ISIS kembali menjadi buah bibir di dunia maya.

Kali ini seorang veteran penembak jitu SAS berhasil membunuh lima pengebom bunuh diri ISIS. Yang membuat takjub, penembak itu merobohkan lima orang militan itu  hanya dengan tiga peluru.

Penembakan ini terjadi di dekat sebuah pabrik bom di Mosul, Irak, yang menjadi garis pertahanan paling kuat ISIS, dari jarak 800 meter.

Penembak jitu itu melepaskan tembakan setelah pengebom bunuh diri terlihat meninggalkan pabrik sambil memakai mantel tebal - tanda bahwa mereka menyembunyikan rompi peledak.

Peluru pertama mengenai dada seorang pengebom sehingga memicu ledakan yang menewaskan teroris tersebut dan dua rekannya.

Pengebom kedua tumbang setelah sebutir peluru tepat mengenai kepalanya. Sementara pengebom ketiga tewas saat ia mencoba untuk kembali ke pabrik bom.

Sebuah sumber mengatakan kepada Army Express: " Itu adalah misi klasik dari SAS."

" Sekitar tiga minggu yang lalu orang-orang intelijen mendapat informasi bahwa sebuah pabrik bom telah didirikan di desa tetangga. Dengan hanya tiga tembakan jitu, tim tunggal tersebut mungkin telah menyelamatkan nyawa ratusan orang tak bersalah."

Sebelumnya, kisah kehebatan anggota SAS Inggris juga menghebohkan jagat maya. Pada bulan Agustus, seorang penembak jitu Inggris menyelamatkan pria dan anaknya yang masih delapan tahun dari tangan ISIS.

Penembak jitu itu menembak mati pria yang hendak mengeksekusinya dengan peluru kaliber 50 dari jarak sekitar 1.000 meter sebelum menghabisi tiga teroris lainnya.

(Sumber: Mirror.co.uk)

1 dari 4 halaman

Penembak Jitu Paling Mematikan di Dunia

Dream - Seorang penembak jitu anggota marinir Inggris melampaui rekor membunuh penembak jitu asal Amerika Serikat (AS), Chris Kyle, yang baru-baru ini kisahnya diangkat ke layar lebar dengan judul American Sniper.

Anggota marinir yang dirahasiakan namanya itu, dikabarkan telah membunuh 173 orang saat bertugas di Afghanistan selama enam bulan.

Jumlah tersebut melampaui angka yang dicetak Chris Kyle yang telah membunuh 160 orang selama ia bertugas.

Menurut The Sun dikutip Al Arabiya, Rabu 4 Februari 2015, marinir Inggris ini mampu membunuh 90 milisi Taliban dalam satu hari.

Seorang sumber yang dikutip The Sun mengatakan tentara itu tetap melihat korbannya sebagai manusia bukan target. Ia tidak terlibat secara emosional atau psikologis dengan apa yang sudah dilakukannya.

" Dia tak tertarik dengan berapa banyak musuh yang telah dibunuhnya. Mungkin dia sniper yang paling mematikan, tapi bukan itu yang diinginkannya."

Film American Sniper yang mengisahkan kehidupan Chris Kyle selama bertugas di Irak berhasil mencetak box office lebih dari US$200 juta. Film ini bahkan mendapat 6 nominasi Piala Oscar atau Academy Awards, termasuk film terbaik dan aktor terbaik.

Pekan kemarin, Ibu Negara AS, Michelle Obama memuji film tersebut dengan menyebutnya sebagai 'film yang mampu menyuguhkan emosi yang kompleks' dari para veteran perang Irak.

Namun banyak yang mengkritik film tersebut karena menyanjung perang dan kekerasan serta memicu sentimen anti-Muslim. (Ism)

2 dari 4 halaman

Cerita Mantan Penembak Jitu Dihantui Korban-korbannya

Dream - Craig Harrison, pria asal Inggris tersohor sebagai salah satu penembak jitu. Rekor rekor dunia tembakan terjauh digenggamnya. Namun, kini hidupnya justru dihantui oleh para korbannya.

Craig yang sudah bertugas 22 tahun sebagai penembak jitu mengungkapkan, dirinya kini tak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang korban yang dibunuhnya.

" Saya masih ingat para korban yang saya bunuh dari jarak jauh. Saya bisa mencium (bau) mereka, saya bisa melihat mereka -setiap orang yang saya bunuh," katanya seperti dikutip Dream dari laman abc.net.au, Kamis, 11 Juni 2015.

Pemerintah Inggris telah menugaskan Craig di berbagai medan perang. Irak, Afghanistan, hingga konflik di Balkan pernah disambanginya.

Namun pertempuran terakhirnya di Balkan telah membuat dirinya menderita stres yang dikenal sebagai post-traumatic stress disorder (PTSD).

Kondisi tersebut semakin parah setelah dia ditugaskan ke Afghanistan pada tahun 2009. Di sinilah Craig mencetak rekor sebagai penembak jitu dengan tembakan terjauh.

Berpangkat sersan di kesatuan Blues dan Royals, Craig kala itu membunuh seorang Taliban dari jarak lebih dari 2,5 kilometer atau berjarak 25 kali lapangan sepak bola. Tembakan yang tampaknya tidak mungkin berhasil itu, telah menyelamatkan nyawa rekan-rekannya.

" Saya hanya percaya bahwa saya harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan 12 rekan yang terjebak dalam kendaraan," kenangnya.

Namun Craig merasa sangat kecewa dengan kesatuan, bahkan negaranya. Meski telah terjun di perang Bosnia dan bertugas di Irak dan Afghanistan, mantan sniper Inggris ini mengatakan kesatuannya telah melupakannya dirinya ketika dia mengalami PTSD.

" Mereka bahkan tidak mengucapkan terima kasih. Saya bergabung ketika saya masih 16 dan setelah semua ini terjadi saya merasa ditinggalkan, benar-benar ditinggalkan oleh kesatuan saya," katanya.

Craig mengatakan kepercayaannya pada angkatan bersenjata Inggris telah lenyap.

Pria yang menuangkan kisahnya di sebuah buku The Longest Kill ini mengatakan dia tidak menyadari mengalami PTSD akut hingga istrinya mengajaknya periksa ke dokter. Saat pulang dari tugas di Afghanistan pada 2009, istri Craig melihat sikap aneh pada dirinya.

" Ketika saya pergi ke kamar, saya akan memeriksa setiap pintu. Ini mimpi buruk yang mengerikan. Serasa seperti dicekik di awan," katanya.

" Saya selalu berpikir ada orang berjalan di belakang dan semua orang keluar untuk menangkap saya. Saya hanya ingin menutup diri di sebuah ruangan gelap."

Craig seharusnya disambut bak pahlawan dan mendapat medali Military Cross karena keberaniannya. Namun semua itu ditolak oleh atasannya. Craig merasa dikhianati oleh ulah atasannya itu.

" Saya yang seharusnya menolak, bukan orang lain. Saya waktu itu tidak bisa karena sedang mengalami stres," katanya.

3 dari 4 halaman

Dari Jarak 1.000 Meter, Sniper Tembak Mati Algojo ISIS

Dream - Seorang sniper atau penembak jitu Inggris berhasil menyelamatkan seorang pria dan anaknya yang berusia delapan tahun dari tangan algojo ISIS. Sniper tersebut menembak mati algojo itu saat dia  hendak mengeksekusi ayah-anak tersebut.

Dari jarak sekitar 1.000 meter, sniper Inggris menembak mati algojo ISIS di kepala sebelum menghabisi tiga teroris lainnya.

Ayah dan anak tersebut dari sekte Syiah dan akan dibunuh oleh ISIS karena menolak untuk meninggalkan ajaran mereka.

Sniper Inggris mendapat informasi dari mata-mata Irak tentang pasukan ISIS di Suriah utara dekat perbatasan Turki. Dia kemudian sampai di tempat kejadian pada waktunya untuk mencegah pembunuhan tersebut.

Saat itu sniper Inggris menyaksikan dari kejauhan pria dan anak laki-lakinya diseret keluar dengan mata tertutup. Seorang pria berjanggut siap mengayunkan pedangnya disaksikan kerumunan warga yang terlihat ketakutan.

Namun sebelum algojo ISIS mengayunkan pedangnya, sniper dari kesatuan elit SAS Inggris itu menembakkan peluru kaliber 50 dari senapan yang dilengkapi peredam sehingga menembus kepala algojo itu hingga tewas.

" Algojo ISIS yang hendak memenggal ayah dan anak itu ditembak di kepala dan jatuh. Semua orang hanya bisa binggung menatap kejadian. Sniper Inggris kemudian mengirim dua anggota ISIS lainnya dengan tembakan tunggal. Jadi tiga peluru telah menghabisi tiga anggota ISIS," kata seorang sumber yang tak disebutkan namanya kepada Daily Star Sunday.

Seorang warga kemudian membebaskan ikatan pria dan anaknya, termasuk membuka penutup mata mereka.

Sumber itu menambahkan, anggota ISIS lainnya hanya menatap tubuh rekan-rekannya yang tewas, sebelum berlari dan tidak kembali ke desa tersebut.

Tim SAS Inggris telah berada di Irak dan Suriah selama lebih dari satu tahun. Mereka ikut berjuang bersama pejuang lain untuk menghadapi ISIS.

(Sumber: Mirror.co.uk)

4 dari 4 halaman

Kisah `Siluman Cibaduyut` Jadi Sniper Handal Dunia

Dream - Bangsa Indonesia kehilangan putra terbaiknya, Tatang Koswara. Sniper handal dunia itu tutup usia akibat serangan jantung saat tampil di acara 'Hitam Putih' yang dipandu Deddy Corbuzier, Selasa kemarin.

Pria asal Cibaduyut, Bandung itu masuk jajaran penembak jitu terbaik di dunia. Dalam buku Sniper Training, Techniques and Weapons karya Peter Brookesmith terbitan 2000, nama Tatang masuk dalam daftar 14 besar Sniper's Roll of Honour di dunia.

Berbekal ijazah SR (Sekolah Rakyat) atau Sekolah Dasar, ia melamar sebagai prajurit tamtama di Banten pada 1966. Saat itu, sebenarnya ia memiliki ijazah Sekolah Teknik (setara SMP). Selang beberapa tahun, Tatang mengikuti penyesuaian pangkat sesuai ijazah yang dimilikinya.

Sebagai bintara, Tatang ditempatkan di Pusat Kesenjataan Infanteri (Pusenif). Di sana pula Tatang mengikuti berbagai pelatihan, mulai kualifikasi raider hingga sniper. Tatang menggunakan sandi `S-3` alias `Siluman 3`.

Tatang kemudian ditugaskan dalam Timor Timur pada 1977-1978. Di bekas provinsi Indonesia itu, 49 orang Fretilin menjadi korban tembakan jitu Tatang.

Kala itu Tatang hanya berbekal 50 butir, satu peluru untuk satu nyawa. Sedangkan satu peluru ia sisakan buat dirinya. Bila tertangkap, Tatang akan menembak dirinya sendiri dibanding jatuh ditangan lawan.

Selamat jalan Pahlawan Bangsa, Tatang Koswara. Insya Allah, Khusnul Khotimah. Amien. Tatang Koswara tidak sendiri. Ada sederet penembak jitu dari seluruh dunia yang disegani. Siapa saja mereka? Klik halaman berikutnya. 

(Ism, Berbagai sumber)

Beri Komentar