Pertama Dalam Sejarah, Mahasiswa Indonesia Pidato di Harvard Law School

Reporter : Sugiono
Kamis, 25 Juni 2020 09:02
Pertama Dalam Sejarah, Mahasiswa Indonesia Pidato di Harvard Law School
Dia juga satu-satunya mahasiswa Indonesia yang menjadi salah satu dari 8 anggota Class Marshal di HLS.

Dream - Setelah Nadhira Nuraini Afifa, hijaber Indonesia yang didaulat memberikan pidato saat wisuda online Harvard pada 28 Mei 2020, kini ada lagi mahasiswa Indonesia berprestasi di kampus terbaik dunia itu. 

Kini, Andhika Putra Sudarman, mahasiswa Indonesia asal Tanjungpinang, Kepulauan Riau, yang dipercaya memberi pidato kelulusan Harvard Law School mewakili angkatan Class of 2020.

Siapa yang tak ingin kuliah di Harvard University, kampus terkenal yang menghasilkan ribuan lulusan dengan segudang prestasi di bidangnya masing-masing.

Namun Harvard Law School (HLS) yang merupakan bagian Harvard University menerima hanya sekitar 800 mahasiswa yang berasal dari seluruh dunia setiap tahunnya.

Tahun ini, Andhika merupakan satu-satunya mahasiswa dari Indonesia yang lulus dari HLS, almamater mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Andhika tak hanya sekadar lulus. Dia jadi satu-satunya mahasiswa Indonesia yang menjadi salah satu dari 8 anggota Class Marshal di HLS.

Tidak hanya itu, Andhika juga lulus dengan membawa penghargaan Dean’s Award dari HLS.

Yang paling membanggakan adalah Andhika memberikan pidato di hari kelulusan Harvard Law School mewakili angkatan Class of 2020.

Segudang prestasi yang diraih Andhika di HLS ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi dirinya, keluarganya, dan bangsa Indonesia.

1 dari 7 halaman

Prestasi Mulai Terlihat Sejak Kuliah Hukum di UI

Prestasi Andhika sebenarnya sudah terlihat sejak dia kuliah Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 2011 lalu.

Lulusan SMA Negeri 1 Tanjung Pinang, Kepri, ini merupakan penyandang predikat Juara 1 Mapres (Mahasiswa Berprestasi) Tingkat Nasional 2014.

Dia juga menjadi anak muda Indonesia pertama dalam sejarah yang memberikan pidato di hari kelulusan sejak HLS berdiri pada tahun 1817 silam.

2 dari 7 halaman

Tak Ingin Menyia-nyiakan Uang Rakyat

Ketika ditanya bagaimana rasanya jadi orang Indonesia pertama dalam sejarah yang berpidato di hari kelulusan HLS, berikut ini jawaban Andhika.

" Saya cukup beruntung karena sudah banyak senior sebelum saya yang membagikan pengalaman mereka, sehingga saya pun bisa memaksimalkan waktu saya di sini," katanya.

Andhika menambahkan dia bisa kuliah di HLS juga karena mengikuti program beasiswa yang diselenggarakan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

" Berkat LPDP, pajak masyarakat Indonesia. Kalau saya tidak benar-benar memanfaatkannya, saya merasa bersalah pada rakyat-rakyat yang mau makan saja susah,” Andhika menjelaskan.

3 dari 7 halaman

Hidup Harus Berjuang Keras demi Impian

Andhika kemudian bercerita bagaimana dia akhirnya bisa kuliah di HLS. Awalnya dia harus ke Jakarta untuk kuliah di Universitas Indonesia.

 Andhika saat masih kuliah di Universitas Indonesia© Universitas Indonesia

" Dulu saya pergi ke Jakarta untuk kos sendiri, ikut bimbingan belajar 3 bulan berharap bisa diterima di UI. Siapa sangka, perjuangan mengantarkan saya tidak hanya ke UI, tetapi juga ke Harvard," katanya.

Andhika mengatakan 10 tahun yang lalu, dia tidak berani mimpi untuk kuliah di Harvard. Tetapi lihat sekarang, dia tidak hanya lulus tetapi mendapatkan anugerah yang luar biasa.

" Dari situ saya belajar, hidup harus berjuang keras demi impian, dan tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk digapai. Saya (adalah) buktinya,” tambahnya.

4 dari 7 halaman

Kurang Percaya Diri Ikut Pemilihan Class Marshal

Sejak awal kuliah di HLS, Andhika sudah terpilih untuk menjadi Class Marshal di angkatannya. Hanya ada 6 orang Class Marshal atau perwakilan kelas yang dipilih melalui voting yang mewakili sekitar 800 orang.

 Andhika jadi salah satu anggota Class Marshal di Harvard Law School.© Andhika Putra Sudarman

Andhika mengatakan awalnya dia sendiri kurang yakin bisa tembus jadi Class Marshal karena memiliki tingkat kesulitan sendiri.

Setiap tahun yang terpilih menjadi Class Marshal biasanya adalah orang Amerika atau Amerika Latin. Jadi Andhika merasa dirinya yang merupakan satu-satunya orang Indonesia sudah pasti memiliki peluang yang rendah.

5 dari 7 halaman

Class Marshal Keren dan Punya Keistimewaan

" Namun, Indah Shafira (S2 Harvard), teman dekat saya di sini mengingatkan bahwa selain keren, Class Marshal memiliki keistimewaan.

" Mereka akan berjalan di barisan paling depan ketika lulus dan membawa bendera Harvard Law School," katanya.

Jadi, jika Andhika berhasil maka itu pasti akan membuat bangga teman-teman dari Indonesia, sekaligus bisa membawa nama baik Indonesia.

" Saya pun menjadi semakin semangat mengikuti pemilihannya,” ungkap Andhika yang merupakan bagian dari Harvard Law School’s First Class Association.

6 dari 7 halaman

Berbagai Pengalaman Luar Biasa Selama Kuliah di HLS

Salah satu pengalaman Andhika yang menarik sekaligus membanggakan selama kuliah di HLS adalah memenangkan kompetisi hackaton yang diadakan oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT).

 Andhika bersama 2 rekannya memenangkan kompetisi hackaton di MIT.© Universitas Indonesia

“ Hackaton menarik karena prosesnya meliputi coding dan modeling, yang merupakan pengalaman baru bagi saya. Beruntungnya saya punya team mate yang handal, Fransisca Susan (S3 MIT) dan Nadia Amalia (S2 MIT)," kata Andhika.

" Ketika mengerjakan modeling-nya, perbedaan memungkinkan kami untuk berpikir kritis, kreatif, dan mempertimbangkan segala kemungkinan," ujar Andhika yang juga pernah 2 kali menjadi juara di simulasi sidang (mocktrial) penerapan sistem hukum Amerika.

7 dari 7 halaman

Andhika juga pernah menjadi pembicara dalam American Democratic Debate, acara yang mensimulasikan debat calon presiden saat itu.

“ Cita-cita saya dari dulu adalah membuat perubahan fundamental berjangka panjang di sistem pemerintahan. Saya pun menerima tawaran untuk mewakili Joe Biden," kata Andhika.

Dia bersedia menerima tawaran itu atas dasar kesadaran bahwa mengikuti debat semacam ini sebagai orang asing adalah pengalaman sangat berharga.

Andhika mempersiapkannya dengan sangat serius. Dia bersyukur mendapatkan masukan dari temannya Dimas Muhamad (S2 Harvard) yang lebih mengerti konstelasi politik di Amerika.

" Pengalaman tersebut mungkin tidak akan pernah datang lagi, apalagi digelar di depan ruangan yang dipenuhi mahasiswa HLS," pungkas Andhika.

Sumber: UI.ac.id

Beri Komentar