Ribuan Warga Gaza Menderita Tak Punya Rumah

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 22 Juli 2015 18:00
Ribuan Warga Gaza Menderita Tak Punya Rumah
Rencana bantuan pembangunan rumah dari sejumlah lembaga donor ditunda lantaran Israel memperketat masuknya bahan bangunan.

Dream - Fouad Abu Asser, 54 tahun, dan keluarganya telah kembali dari pengungsian di perbatasan Gaza ke rumahnya. Tetapi, rumah yang dia idamkan sudah tidak berbentuk lagi, setelah setahun sebelumnya Israel melancarkan serangan ke kawasan Gaza.

" Kami dengar omongan dan omongan, tapi kami tetap tidak menemukan apa-apa," ujar Fouad kepada wartawan.

Fouad begitu frustasi lantaran rumahnya tidak juga terbangun. Hal itu memaksa Fouad dan penduduk lain untuk membangun sendiri tempat tinggal mereka.

Rencana bantuan pembangunan rumah dari sejumlah lembaga donor terpaksa mengalami penundaan. Ini lantaran Israel memberlakukan syarat ketat yang mempersulit bahan bangunan bisa masuk ke Gaza.

Alhasil, para warga Gaza membangun kembali rumahnya dengan cara apapun yang bisa dilakukan. Sebagian besar dari mereka terpaksa menempati bagian rumah yang masih untuk, padahal sebagian besar sudah menjadi puing-puing.

Sebanyak 18.000 unit rumah mengalami rusak berat dalam serangan yang berlangsung selama 50 hari pada tahun lalu.

Pada puncak konflik, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengubah 91 sekolah di Gaza menjadi tempat penampungan 300.000 warga. Lantaran kekurangan anggaran, PBB menutup beberapa penampungan tersebut.

Sebagian pengungsi memutuskan untuk kembali ke rumah mereka, tetapi lebih dari 100.000 orang masih tunawisma. Jumlah tersebut merupakan 5 persen dari total penduduk perbatasan sebesar 1,8 juta jiwa.

Kondisi ini merupakan penderitaan utama yang dialami warga Gaza setelah perang di tahun sebelumnya. Pada perang tersebut, sebanyak 2.251 warga Palestina meninggal termasuk 551 anak-anak, dan sebanyak 73 orang meninggal di kubu Israel.

Fouad Abu Asser memanfaatkan sisa bangunan rumahnya yang masih bisa dipakai. Menggunakan sekat kayu, Fouad bisa membuat tiga ruangan untuk tempat tinggalnya bersama para keluarganya sebanyak 15 orang.

" Saya tinggal bersama istri dan anak-anak pondok prefabrikasi di lantai dasar dan anak-anak saya, Bashir dan Salah, hidup dengan keluarga mereka di dua kabin prefabrikasi di atas," kata Fouad.

Saat ini Fouad merupakan seorang pengangguran. Menurut data Bank Dunia, sebanyak 44 persen warga Palestina merupakan pengangguran akibat konflik tahun lalu.

Dia mengaku begitu khawatir dengan kondisi rumahnya, lantaran begitu ringkih. Tetapi, Fouad tidak memiliki pilihan lain.

" Karena ini satu-satunya pilihan kami," ungkap dia.

Sumber: palestinechronicle.com

Beri Komentar