Kamis, 8 Oktober 2026 Cari

Sebaiknya Mulai Mengajari Anak Berbicara dengan Bahasa Daerah atau Bahasa Indonesia Terlebih Dahulu?

Reporter : Abidah
Rabu, 12 Agustus 2026 14:00
Sebaiknya Mulai Mengajari Anak Berbicara dengan Bahasa Daerah atau Bahasa Indonesia Terlebih Dahulu?
Pertanyaan apakah akan mengajari anak Bahasa Indonesia dulu atau Bahasa Daerah dulu merupakan suatu hal yang kerap menjadi pertanyaan bagi banyak orang tua.

DREAM.CO.ID - Pertanyaan ini kerap muncul di kalangan orang tua muda, terutama yang tumbuh di lingkungan dengan bahasa daerah masih kuat digunakan sehari-hari. Ada yang khawatir mengenalkan bahasa daerah lebih dulu akan membuat anak kesulitan di sekolah nanti. Ada pula yang justru cemas, jika terlalu fokus pada bahasa Indonesia sejak awal, warisan bahasa leluhur akan hilang dari generasi mendatang. Ternyata, jawabannya bukan soal memilih salah satu, melainkan soal bagaimana keduanya bisa berjalan beriringan.

Penelitian di bidang linguistik dan psikologi perkembangan anak secara konsisten menunjukkan bahwa penguasaan bahasa pertama, atau bahasa ibu, justru menjadi fondasi penting sebelum anak mempelajari bahasa kedua. Anak yang sudah menguasai keterampilan bahasa dalam bahasa pertamanya cenderung lebih mudah memanfaatkan kemampuan itu untuk mempelajari bahasa lain, sebuah dampak signifikan bagi proses belajar bahasa tambahan di kemudian hari.

Konsep ini dikenal sebagai hipotesis interdependensi perkembangan, yang menyatakan bahwa perkembangan kompetensi bahasa kedua sebagian merupakan fungsi dari tingkat kompetensi yang sudah dikembangkan di bahasa pertama, pada saat anak mulai terpapar intensif dengan bahasa kedua. Ada pula hipotesis ambang batas yang menyebut, seorang anak dwibahasa perlu mencapai level kecakapan bahasa minimum di kedua bahasa untuk menghindari kerugian kognitif sekaligus memperoleh manfaat positif dari kemampuan berdwibahasa.

1 dari 3 halaman

Anak Dwibahasa Justru Punya Keunggulan Kognitif

Kekhawatiran bahwa mengenalkan dua bahasa sekaligus akan membuat anak bingung ternyata tidak terbukti secara ilmiah. Salah satu kekhawatiran paling awal yang ditangani para peneliti adalah anggapan bahwa dwibahasa membuat anak bingung. Namun riset menunjukkan dwibahasa tidak memicu kebingungan, tidak memberi dampak negatif inheren terhadap perkembangan, dan yang lebih penting, justru punya keunggulan sosio-kognitif yang signifikan.

Studi yang membandingkan anak dwibahasa dan satu bahasa menemukan bahwa anak dwibahasa menunjukkan skor lebih tinggi pada kemampuan bahasa asli maupun fungsi eksekutif otak dibanding anak yang hanya menguasai satu bahasa, menandakan fleksibilitas bahasa dan kognitif yang lebih unggul. Temuan ini mendukung inklusi pendidikan dwibahasa dalam program anak usia dini untuk mendorong perkembangan bahasa dan keterampilan kognitif anak secara bersamaan.

Manfaatnya bahkan tidak berhenti di masa kanak-kanak. Riset menunjukkan kemampuan berdwibahasa dapat menunda munculnya penurunan kognitif terkait usia, seperti demensia, dengan individu dwibahasa cenderung menunjukkan gejala demensia beberapa tahun lebih lambat dibanding individu yang hanya menguasai satu bahasa.

 

2 dari 3 halaman

Konsistensi Jadi Kunci, Bukan Urutan yang Kaku

Konsistensi Jadi Kunci, Bukan Urutan yang Kaku © Dream

Menurut lembaga riset perkembangan anak ZERO TO THREE, variabel kunci dalam perolehan dwibahasa adalah konsistensi cara anak terpapar dua bahasa sepanjang masa kanak-kanak awal. Keluarga bisa memilih berbagai pendekatan untuk menjaga konsistensi ini, misalnya satu orang tua konsisten menggunakan satu bahasa sementara orang tua lain menggunakan bahasa lainnya, atau keluarga konsisten memakai satu bahasa di rumah dan bahasa lain di luar rumah.

Dengan kata lain, bukan urutan mana yang diajarkan lebih dulu yang paling menentukan, melainkan konsistensi paparan terhadap kedua bahasa tersebut sejak dini. Persoalan ini jadi makin relevan mengingat kondisi bahasa daerah di Indonesia sendiri. Dilansir dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, data menunjukkan minat anak muda semakin menurun untuk menggunakan bahasa daerah, baik di rumah maupun dalam pergaulan sehari-hari, dan mereka lebih memilih bahasa Indonesia dibanding bahasa daerah. Penduduk usia 5 hingga 17 tahun justru mencatat persentase penggunaan bahasa daerah terendah dibanding kelompok usia lain, sementara persentase penggunaan bahasa Indonesia justru tertinggi pada rentang usia yang sama.

Kondisi ini bukan sekadar statistik, melainkan ancaman nyata terhadap keberlangsungan bahasa daerah itu sendiri. Badan Bahasa mencatat sedikitnya 11 bahasa daerah di Indonesia sudah punah, dengan Maluku menjadi wilayah yang paling banyak kehilangan bahasa daerahnya. UNESCO turut mengategorikan tingkat keterancaman bahasa berdasarkan sejauh mana bahasa itu masih diwariskan ke generasi muda: sebuah bahasa dianggap terancam ketika anak-anak tidak lagi menggunakannya di rumah sebagai bahasa ibu, dan berstatus sangat terancam ketika hanya digunakan antargenerasi tua tanpa diwariskan kepada anak-anak.

 

3 dari 3 halaman

Jadi, Mana yang Harus Didahulukan?

Berdasarkan bukti ilmiah dan konteks Indonesia, jawaban paling realistis bukan memilih salah satu, melainkan mengenalkan keduanya secara paralel sejak dini, dengan pola konsisten yang bisa disesuaikan kondisi masing-masing keluarga. Bagi keluarga yang tinggal di lingkungan dengan bahasa daerah masih kuat digunakan, mengenalkan bahasa daerah sebagai bahasa rumah sejak bayi, sembari tetap memberi paparan bahasa Indonesia lewat interaksi sosial, sekolah, dan media, adalah pendekatan yang didukung riset perkembangan bahasa anak.

Justru kekhawatiran bahwa bahasa daerah akan " menghambat" penguasaan bahasa Indonesia tidak berdasar secara ilmiah. Anak yang fasih dalam bahasa ibunya justru belajar bahasa kedua lebih cepat dan menyeluruh, sekaligus pembelajaran bahasa ibu membuka jalan bagi anak untuk beradaptasi lebih baik dengan bahasa, budaya, dan masyarakat negaranya secara luas.

Dengan kata lain, mengajarkan bahasa daerah kepada anak bukan pilihan yang berlawanan dengan penguasaan bahasa Indonesia, melainkan justru fondasi yang memperkuatnya, sekaligus langkah nyata menjaga warisan bahasa daerah agar tidak menyusul 11 bahasa lain yang sudah lebih dulu punah dari bumi Indonesia.

Beri Komentar