Setelah Hagia Sophia, Erdogan Ubah Gereja Chora Jadi Masjid

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Sabtu, 22 Agustus 2020 10:23
Setelah Hagia Sophia, Erdogan Ubah Gereja Chora Jadi Masjid
Presiden Tayyip Erdogan kembali mengubah gereja bersejarah di Turki, gereja Chora, menjadi masjid.

Dream - Presiden Turki, Tayyip Erdogan, kembali mengubah gereja bersejarah di Turki, menjadi masjid. Setelah Hagia Sophia, kini giliran museum Chora.

Gereja Chora merupakan salah satu gedung era Bizantium yang sangat terkenal di Istanbul. Gereja Holy Savior di Chora itu dibangun dekat dinding kota kuno Konstantinopel, yang berisi mozaik dan lukisan dinding berbagai kisah alkitab era Bizantium abad 14.

Gedung itu ditutup setelah kota Istanbul dikuasai Muslim Ottoman pada 1453 tapi gedung itu diubah menjadi museum oleh pemerintah sekuler Turki sejak 70 tahun silam.

Tahun lalu, pengadilan Turki mencabut keputusan pemerintah pada 1945 yang mengubah Chora jadi museum yang dikelola Kementerian Pendidikan. Chora disebut Kariye oleh warga Turki.

1 dari 3 halaman

Pengadilan administrasi tertinggi Turki menyetujui konversi museum menjadi masjid pada November tahun lalu.

Struktur berwarna pasir yang terlihat saat ini, merupakan pengganti bangunan yang dibuat sebagai bagian dari biara pada abad keempat ketika Konstantinopel adalah ibu kota baru Kekaisaran Romawi.

Selain itu, masjid dengan satu menara dan kubah kecil bertingkat memang terlihat seperti masjid besar yang menggumamkan adzan di Istanbul, tetapi ketika memasuki bangunan, akan terlihat lukisan di dinding dan mosaik megah yang mewakilkan karya seni Bizantium terbaik dalam sejarah Kristen.

 

2 dari 3 halaman

Diketahui upaya keras pemerintahan Erdogan ini, dilakukan untuk mendamaikan kedua sejarah peradaban Turki yang membentuk dasar-dasar politik dan kehidupan sosial kontemporer negara tersebut.

Konversi ini jelas mendapat kritikan dari beberapa pejabat tinggi negara seperti salah satunya anggota parlemen partai oposisi HDP, Garo Paylan, dalam Tweet-nya, ia mengatakan perubahan ini " memalukan bagi negara" .

" Salah satu simbol identitas multikultural yang dalam dan sejarah multi-agama negara kami telah dikorbankan," katanya dalam Tweetnya, dikutip dari Indiatimes.com, Sabtu 22 Agustus 2020.

3 dari 3 halaman

Namun beberapa penduduk lain mendukung transformasi ini.

" Ada lusinan, ratusan gereja, sinagog di Istanbul dan hanya beberapa yang dibuka untuk sholat sebagai masjid," kata Yucel Sahin saat dia berjalan-jalan di sekitar bangunan.

" Ada banyak toleransi dalam budaya kami."

Sumber: India Times

Beri Komentar