Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pasien Covid-19 OTG Dijemput Untuk Menjalani Isolasi Di Wisma Atlet (Merdeka.com)
Dream - Sembuh dari Covid-19 rupanya bukan penanda perjuangan selesai bagi para penyintas. Mereka masih harus berhadapan dengan tantangan baru yang juga berat, yaitu stigma negatif dari masyarakat.
Psikolog Anak dan Keluarga, Mira Amir, menjelaskan, stigma ini muncul akibat minimnya informasi yang diterima masyarakat terkait Covid-19. Bisa pula karena informasi yang sampai telah mengalami distorsi atau mengandung kekeliruan sehingga menghasilkan kesimpulan yang salah.
Tak hanya itu, informasi yang sampai masyarakat bisa jadi tidak utuh. Apalagi, tidak sedikit informasi yang didapat masyarakat bersumber dari 'katanya'.
Mira pun menyarankan masyarakat mencari informasi yang lebih terpercaya. Tentunya dari sumber yang valid seperti pernyataan pakar, dokter, maupun tenaga medis.
" Akan lebih mudah untuk menghilangkan stigma jika ada yang mempersuasi, mengomunikasikan seperti figur yang disegani atau yang mempunyai kompetensi mungkin dari segi pendidikan atau orang yang memang dinilai bijaksana," ujar Mira dalam diskusi online yang disiarkan channel YouTube BNPB.
Mira mengatakan menghapus stigma bukan persoalan mudah. Dia menilai stigma yang terlanjur berkembang tidak bisa dikendalikan karena di luar kontrol pasien sehingga disarankan untuk lebih bijak dalam menanggapinya.
Apalagi untuk pasien positif Covid-19. Mira menyarankan mereka fokus pada pemulihan.
" Begitu positif, lebih baik fokus kepada hal yang bisa kita kontrol atau ubah, bukan omongan orang lain atau stigma," kata dia.
Selain itu, pasien juga diharapkan bisa menerima kondisi yang dialami. Kemudian mengalihkan pikiran ke hal yang lebih positif dan mendukung kesembuhan.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Dream - Virus corona memiliki bentuk yang sangat kecil hingga tak bisa dilihat mata telanjang. Efeknya baru bisa diketahui jika seseorang mengalami gejala tertentu seperti sesak napas, batuk, hingga kehilangan kemampuan mencecap maupun mencium bau.
Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan, Rita Rogayah, meminta masyarakat yang mengalami gejala seperti Covid-19 untuk segera memeriksakan diri ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat. Pihak RS atau fasilitas kesehatan akan segera melakukan rapid test untuk memastikan kondisi orang yang bersangkutan.
" Selama hasilnya belum keluar masyarakat menjalankan isolasi mandiri di rumah agar tidak menularkan ke orang lain," ujar Rita dalam diskusi online yang disiarkan BNPB.
Selama isolasi mandiri, kata Rita, masyarakat diharuskan menjalankan protokol kesehatan. Mulai dari memakai masker, menjaga jarak, maupun mencuci tangan dengan sabun.
Setelah hasil keluar dan dinyatakan positif Covid-19, petugas akan menjemput pasien yang bersangkutan untuk dibawa ke fasilitas isolasi dan perawatan. Petugas juga melaporkan kasus tersebut ke Dinas Kesehatan provinsi setempat.
Rita melanjutkan kendaraan yang menjemput akan diisi pasien yang semuanya sudah terkonfirmasi positif Covid-19. Tentu dalam satu mobil terdapat lebih dari satu orang pasien.
" Kalau di dalam itu seluruhnya terkonfirmasi positif tidak masalah," ucap dia, dikutip dari Covid19.go.id
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Dream - Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo, mengatakan, dokter yang gugur akibat terinfeksi virus corona didominasi dokter umum. Jumlahnya mencapai 60 persen dari keseluruhan dokter yang meninggal karena Covid-19.
" Kalau kita lihat data yang terakhir, ternyata sekitar 60 persen dokter yang wafat adalah dokter umum," ujar Doni melalui video conference disiarkan channel YouTube Sekretariat Kabinet.
Menurut Doni, para dokter itu sebenarnya tidak bersentuhan langsung dengan pasien positif Covid-19. Para dokter itu tertular dari pasien Covid-19 yang masuk kategori tanpa gejala.
" Mereka yang bukan pasien Covid ternyata sudah OTG yang justru menulari para dokter," kata Doni.
Atas hal ini, Doni meminta masyarakat tidak mengabaikan pentingnya menerapkan protokol kesehatan. Ini menjadi salah satu cara melindungi para dokter dan tenaga medis dari ancaman penularan Covid-19.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya