Ayah di Garut yang Terpaksa Curi Ponsel demi Anak Bisa Sekolah Dibebaskan

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 10 November 2021 19:00
Ayah di Garut yang Terpaksa Curi Ponsel demi Anak Bisa Sekolah Dibebaskan
Comara dan keluarganya tergolong tidak mampu.

Dream - Seorang ayah di Garut, Comara Saiful, 41 tahun, akhirnya bisa kembali kepada keluarga. Statusnya sebagai tersangka pencurian ponsel dihapus oleh Kejaksaan Negeri Garut melalui surat penghentian penanganan kasus.

Kejari Garut memutuskan menerapkan langkah restorative justice terhadap Comara yang sempat dijerat Pasal 362 KUHP. Sebab, Comara terpaksa melakukan tindak pidana pencurian ponsel karena anaknya tak bisa mengikuti sekolah online akibat tak punya ponsel.

" Yang bersangkutan melakukan pencurian handphone pada 8 September 2021 milik seorang siswa yang tengah PKL (praktik kerja lapangan) di Kantor Desa Sakawayana, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut," ujar Kepala Kejari Garut, Neva Sari Susanti, dikutip dari Merdeka.com.

Kasus ini berawal ketika Comara datang ke kantor desa untuk meminta bantuan beras untuk keluarganya yang tergolong tidak mampu. Ketika keluar ruangan, Comara melihat ponsel tergeletak di meja.

Tanpa pikir panjang, Comara langsung mengambil ponsel itu. Dia hanya berpikiran anaknya yang duduk di kelas VI SD butuh ponsel agar bisa belajar online.

" Situasi saat itu di kantor desa tidak ramai dan hanya diketahui Comara saja yang ada di situ sehingga mudah diketahui," kata Neva.

1 dari 3 halaman

Dilaporkan ke Perangkat Desa, Lalu Dibawa ke Polisi

Kasus tersebut kemudian dilaporkan ke aparat desa. Comara lalu dipanggil dan pria itu mengaku sudah mengambil ponsel namun langsung mengembalikan barang tersebut.

Kemudian, Comara dibawa beberapa perangkat desa ke kantor polisi. Kasus tersebut kemudian ditangani Polres Garut.

Ketika pelimpahan berkas, kejaksaan mempelajari kasus tersebut. Hingga akhirnya diputuskan kasus tersebut dihentikan.

" Ternyata dimungkinkan untuk diajukan restorative justice atau penghentian penuntutan," kata dia.

 

2 dari 3 halaman

Penghentian Penuntutan

Neva menerangkan beberapa pertimbangan yang menjadi dasar diberlakukannya restorative justice seperti alasan pencurian ponsel, aksi pencurian baru pertama kali dilakukan, nilai kerugian di bawah Rp2,5 juta dan ancaman hukuman penjara di bawah 5 tahun. Status Comara yang tergolong tidak mampu juga menjadi pertimbangan.

" Yang pasti HP-nya juga sama sekali belum digunakan atau dipakai, oleh Comara dikembalikan lagi langsung ke korban. Korban juga intinya tidak dirugikan sama sekali karena bisa tetap menggunakan HP itu," kata Neva.

Neva menerangkan selama menjalani proses hukum di Kepolisian, Comara sempat ditahan selama dua bulan. Hal itu tercantum dalam berkas pemeriksaan yang dilimpahkah dari Polres ke Kejari.

 

3 dari 3 halaman

Alasan Kemanusiaan

Penahanan tersebut, kata Neva, telah disampaikan ke Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat dan diteruskan ke Jaksa Agung Muda Pidana Umum. Setelah berkoordinasi, Kejaksaan bersepakat untuk menghentikan penuntutan atas kasus tersebut.

" Ini (RJ) juga pertimbangan kemanusiaan. Yang utama juga adalah adanya perdamaian dari kedua belah pihak," kata Neva.

Kini, Comara telah terbebas dari penjara. Dia bisa kembali berkumpul bersama keluarganya.

Beri Komentar