Berpoligami Tanpa Sepengetahuan Istri, Bagaimana Hukumnya?

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 17 November 2017 15:02
Berpoligami Tanpa Sepengetahuan Istri, Bagaimana Hukumnya?
Seseorang diharuskan jujur dalam kehidupannya.

Dream - Poligami merupakan fenomena yang menjadi perdebatan di kalangan publik. Banyak yang membolehkan pernikahan poligami, namun tidak sedikit pula yang melarang.

Belakangan terjadi sejumlah kasus poligami yang berujung masalah. Penyebabnya, poligami dijalankan seorang pria tanpa sepengetahuan istri.

Kasus ini kemudian berujung perceraian. Sang istri merasa tidak terima karena suaminya melakukan poligami secara sembunyi-sembunyi.

Terkait praktik poligami semacam ini, bagaimana pandangan ulama?

Dikutip dari laman rumaysho, Syeikh Ibnul Jibrin dalam kitab Fawaid wa Fatawa Tahummu Al Mar'ah Al Muslimah berpendapat demikian.

" Yang jelas seorang pria tidak mesti mengabarkan pada istri kedua atau keluarganya bahwa ia telah menikah sebelumnya (masih berkeluarga) ketika tidak ditanya. Akan tetapi hal itu mustahil tersembunyi. Karena yang namanya nikah pasti akan menelusuri dan ingin mencari tahu keadaan masing-masing pasangan sebelum terjadinya akad, lantas diputuskan pantas ataukah tidak dijadikan pasangan. Yang jelas tidak boleh sampai menyembunyikan status dari kenyataan. Jika sampai ada dusta di antara pasangan suami-istri tersebut, lantas akad sudah berlangsung, maka ada hak khiyar (memutuskan untuk lanjut ataukah tidak). Jika salah satunya mengaku bahwa ia belum menikah, padahal itu dusta, maka boleh memilih untuk fasekh (membatalkan nikah) atau boleh tetap lanjut. Begitu pula ketika ada yang mengaku sebagai gadis padahal tidak lagi gadis, maka boleh memilih lanjut ataukah membatalkan nikah."

Dengan demikian, seorang suami disyaratkan untuk jujur dan terbuka kepada istrinya jika berpoligami. Islam pun menekankan pentingnya sifat jujur.

Dalam hadis riwayat Muslim dari Ibnu Mas'ud, Rasulullah Muhammad SAW bersabda,

Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.

Selengkapnya...

(ism)

Beri Komentar