Helvy Tiana Rosa: Film, Dakwah, dan Uang Lusuh

Reporter : Ratih Wulan
Rabu, 3 Februari 2016 16:45
Helvy Tiana Rosa: Film, Dakwah, dan Uang Lusuh
Helvy tidak ingin film 'Ketika Mas Gagah Pergi' hanya bernilai komersil. Dia ingin menjadikan film ini sebagai lahan dakwah.

Dream - Film ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ telah resmi hadir di dunia sinema Indonesia. Kehadiran film ini mendapat sambutan begitu meriah dari para penggemar film, terutama pecinta sastra religi. Banyak dari mereka yang telah menunggu lama kehadiran film ini.

Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama ini mengangkat kisah seorang pemuda bernama Gagah yang mengalami hijrah spriritual. Film ini juga sarat akan nilai kemanusiaan. Dua tema ini, hijrah dan kemanusiaan menjadi inti pesan yang ingin disampaikan oleh sang penulis novel sekaligus produser film, Helvy Tiana Rosa.

Sebagai bukti totalitas, Helvy pun mengaku terjun langsung membuat tontonan baru di layar sinema Indonesia itu. Dia juga tidak ingin ada kekurangan dan perbedaan persepsi antara film dengan cerita pada novelnya. 

Helvy bahkan sampai menolak tawaran dari 11 Production House (PH) yang ingin memfilmkan novel tersebut. Alasannya, dia tidak mau ada unsur komersil dalam film ini. Helvy ingin film ini sepenuhnya menjadi jalan bagi dia untuk berdakwah.

Kepada Dream, Helvy sempat mengungkapkan seluk beluk di balik pembuatan film ‘Ketika Mas Gagah Pergi’. Berikut wawancara reporter Dream, Ratih Wulan Pinandu dengan Helvy.


Apa yang menginspirasi Anda dalam menulis novel ‘Ketika Mas Gagah Pergi’?

Dari awal saya berkomitmen untuk dapat berdakwah lewat bidang seni. Saya dari dulu punya cita-cita kalau bikin buku yang bagus, berkualitas.

Lalu saya bercita-cita bikin film yang bagus dan Buya Hamka itu guru imaginer saya. ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ ini 75 persen berdasarkan kisah nyata. Kisah saya, yang saya potret waktu SMA. Tapi bedanya bukan kakak kandung saya.

Cerita ini ditulis tahun 1992, tapi baru dibukukan pada 1997. Mengapa ada jeda waktu begitu lama dan tidak segera dibukukan?

Ini berawal dari cerpen di tahun 1992 yang awalnya merupakan tugas kuliah. Lalu pada 1993 diterbitkan di majalah Annida. Kenapa baru tahun 1997 diterbitkan jadi novel, karena pada waktu itu belum tren fiksi Islami. Jadi belum ada yang mau nerbitin buku saya.

Mengapa judulnya ‘Ketika Mas Gagah Pergi’? Apakah judul ini punya pesan khusus bagi Anda?

Islam itu indah. Islam itu cinta. Tapi harus terlihat gagah. Selama ini, walaupun kita umat Islam yang sangat besar, tapi sering disudutkan, lemah, kurang bersatu. Jadi menurut saya, Islam itu harus gagah. Tapi gagah dalam artian yang punya izzah yaitu harga diri.

Respon masyarakat?

Insyaallah menerima. Cuma kalau untuk film kita terkendala di promonya. Harus gencar dan saya merasa masih kurang.

 

1 dari 4 halaman

Melawan Arus

Buku sekaligus film ini garis besarnya bercerita tentang apa?

Tentang hidayah dan tentang keluarga yang menceritakan hubungan persaudaraan adik-kakak. Uniknya ini kan cerita konflik antara adik dan kakak yang mendapat hidayah. Cerita mengenai hijrah itu akan selalu ada dan ternyata memang banyak yang suka.

Yang membuat lebih menarik dari tema cinta atau poligami?

Saya kira membuat film Islami ini rentangnya banyak banget yang bisa kita bikin. Kalau cinta-cinta sudah banyak. Jadi, pas kita angkat konflik adik-kakak malah itu yang membuat lebih menarik. Segmen untuk remaja dan keluarga.

Kendala yang dihadapi untuk mewujudkannya menjadi film?

Selama 12 tahun kendala utama yang dihadapi yaitu dana. Kalau yang lain-lain sih ok, tapi karena ini kan film patungan.

Kabarnya banyak Production House (PH) yang menawar?

Memang sudah ada 11 PH yang menawar cerita ini sejak 12 tahun lalu. Tapi karena ada beberapa hal yang ingin saya pertahankan, jadi agak susah ketemunya. Mereka baik-baik nawarinnya. Tapi karena ada beberapa hal yang kurang sesuai dengan yang diinginkan seperti pemeran utama yang harus sama seperti yang di buku, yang sama di kesehariannya dalam menjaga nilai-nilai Islami, nilai-nilai syari, adegan-adegan yang bersentuhan itu sangat dibatasi. Kemudian adegan tentang Palestina juga harus ada, lalu tentang charitynya juga.

Apakah ada alasan khusus, kenapa harus memasukkan bagian cerita tentang Palestina?

Ini adalah film pertama yang mengangkat masalah kemanusiaan. Jadi, semacam kegiatan revolusi mental. Kalau mengenai Palestina itu begini. Jadi pada tanggal 6 September 1944, sebelum kita merdeka, rakyat Palestina itu sudah dukung kita melobi negara-negara Arab untuk mendukung kemerdekaan negara Indonesia.

 

2 dari 4 halaman

Dari Novel Menuju Layar Sinema

Buku ini sudah berapa kali terbit? Dan total sudah berapa eksemplar yang terjual?

Buku ini sudah melalui tiga kali penerbit. Dua penerbit sebelumnya sudah 30 kali naik cetak kemudian yang terakhir penerbit Asma Nadia sudah 16 kali. Sekali cetak rata-rata minimal 20.000-50.000. Jadi sekitar satu juta eksemplar lebih. Cuma uangnya nggak pernah saya ambil. (Cuma) untuk dana kemanusian seperti tsunami dan lain-lain. Cuma royalti yang ke-16 (46) ini baru saya ambil untuk bikin film.

Hal apa sih yang membuat pembaca novel sangat fanatik sehingga mendukung untuk diangkat ke layar lebar?

Tidak tahu juga sih, tapi mungkin mereka punya ikatan dengan novel ini, karena membaca jadi lebih baik dan lain-lain. Seperti kisah ibu-ibu di daerah yang meraih Liputan6 Award atau ada juga anggota DPRD yang menyatakan membaca novel ini sejak SMA dan dia mengakui novel ini membawa pengaruh besar tehadap perubahan hidupnya. Kisah-kisah kesaksian mereka saya tulis lagi di buku ‘Jejak-Jejak Mas Gagah.’ Jadi ini buku yang melahirkan buku.

Sejak kapan mulai menulis? Dan sudah berapa buku yang berhasil diterbitkan?

Pertama kali menulis cerpen pas kelas tiga SD yaitu pada tahun 1979. Total baru 50 buku yang diterbitkan.

Apakah ada buku lain yang ingin difilmkan lagi?

Mudah-mudahan segera, di film KGMP ada adegan yang berasal dari buku saya lainnya. Itu clue untuk film selanjutnya.

KMGP apakah akan ada sekuel-nya?

Rencana KMGP 2 paling lambat akan tayang Lebaran. Tapi sepertinya akan tayang sebelumnya ya. Kalau kendala paling karena saya juga sibuk menyelesaikan desertasi juga ya saat ini.


3 dari 4 halaman

Konsep Sedekah

Apakah ada kisah-kisah mengharukan mengenai crowd founding film ini?

Banyak sekali yang mengharukan, ada anak-anak SDIT di Jambi yang menyumbang Rp8 juta dalam sehari. Mereka mau lihat film Islam dan mereka menyumbang dalam bentuk pecahan lima ratusan dan seribu. Lalu ada anak tukang sampah juga. Ada pemuda yang ngasih lembaran 10.000an lusuh lima lembar. Jadi dia ngasih Rp50.000 yang kumel karena dia ingin lihat film yang novelnya sudah menginspirasi perubahan ayahnya dan membuat adiknya berhijab.

Apakah ada pihak yang menyumbang paling besar dan berapa?

Ada seseorang hamba Allah nyumbang Rp 100 juta dan tidak disebutkan siapa namanya.

Film ini launching pada tanggal 21 Januari, hingga hari ke 12 sudah berapa tiket yang terjual?

Sudah di atas 100.000 tapi belum signifikan. Harusnya sudah ada 400.000-an. Saya niatkan kalau film ini tembus 1 juta penonton akan saya saya sumbangkan Rp1 miliar untuk pendidikan Indonesia Timur dan Rp1 miliar untuk Palestina.

Proses menemukan pemeran utama bagaimana, sampai akhirnya bisa ketemu Hamas Syahid Izzudin?

Last minute dia ikut casting melalui You Tube, setengah jam sebelum ditutup. Bahkan ada cerita khusus mengenai Hamas dan cerita mengenai ibunya.

Ibu Hamas adalah orang pertama yang membedah novel ini untuk pertama kali di Surabaya. Saat itu dia sempat berpikir kalau difilmkan siapa yang akan menjadi pemeran utamanya.

Subhanallah, ternyata anaknya sendiri yang terpilih untuk menjadi Mas Gagah. Saya nggak mau aktor yang pura-pura alim di film. Hamas penghafal 6 juz Alquran dan dia dari awal membuat syarat tidak mau ada pegangan tangan.

Wulan Guritno yang berperan sebagai ibunya sempat bilang, 'Aduh gimana ini ciptain chemistry antara ibu dan anak tapi nggak boleh sentuhan?’ Tapi saya bilang itu tantangan akting, dan akhirnya bisa kok kita buat adegan yang menyentuh tanpa ada kontak fisik.

 

4 dari 4 halaman

Membangun Dunia Sastra Indonesia

Kalau pendapat Anda mengenai kesusastraan Indonesia bagaimana? Terutama pada fiksi-fiksi Islami?

Kesusastraan kita berkembang sangat bagus. Bahkan sekarang banyak lahir penulis perempuan. Jadi, intinya sudah cukup berkembang, hanya memang masih perlu digenjot lagi.

Kalau yang berkembang ke arah Islami bagus apalagi setelah terbentuknya Forum Lingkar Pena. Semoga setelah ini mudah-mudahan makin marak.

Harapan Anda ke depan?

Semoga lebih banyak karya-karya bermutu yang lahir dari buku.

Apakah ada yang disampaikan berkaitan dengan film ini?

Film ini didedikasikan untuk tiga orang. Almarhum Khairul Umam, Didi Petet dan Pepeng. Mereka 12 tahun membantu saya mewujudkan film ini tapi tidak sempat melihatnya. Saya juga mengapresiasi 30 artis papan atas yang bersedia menjadi cameo. Bahkan artis-artis non-muslim seperti Fendi Chow, Joshua dan Elma Princes yang mau mendukung karena menurut mereka ceritanya bagus.

Saya dengar Ridwan Kamil baru saja meluncurkan program dakwah di bus-bus, nggak tahu apakah beliau terinspirasi dari film ini.

Beri Komentar