Mencontoh Prinsip Kepemimpinan Rasulullah

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 3 November 2017 19:00
Mencontoh Prinsip Kepemimpinan Rasulullah
Melalui Piagam Madinah, Rasulullah menyatukan semua kalangan dan bersama membangun Madinah.

Dream - Dalam perjalanan Rasulullah Muhammad SAW menyebarkan agama Islam, fase Madinah sangat penting. Fase ini merupakan masa cemerlang, lantaran pengaruh Islam begitu cepat tersebar.

Ketika tiba di Madinah, Rasulullah bersama rombongan mendapat sambutan yang luar biasa. Banyak orang menawarkan tempat tinggal, hingga Rasulullah kebingungan.

Akhirnya, Rasulullah memutuskan melepaskan unta yang dikendarai Nabi Muhammad, yang diberi nama Al Qushwa, sehingga bebas berjalan. Kepada umat Islam Madinah, Rasulullah mengatakan jika unta tersebut berhenti di satu tempat, maka di situlah tempat tinggalnya.

" Biarkan unta itu berjalan, di mana dia berhenti, di situlah kami tinggal, karena unta itu sudah ada yang memerintah," ucap Rasulullah.

Semua orang mengikuti arah unta itu berjalan. Sampai di tanah lapang yang kerap digunakan untuk menjemur kurma, unta itu berhenti dan beristirahat. Semua orang bersorak.

Rasulullah pun mengatakan di lokasi yang menjadi tempat unta itu beristirahat akan dibangun masjid. Rasulullah pun membeli tanah lapang itu dari pemiliknya, kakak beradik yatim Sahal dan Suhail.

Kakak beradik itu sempat menolak uang Rasulullah dan ingin mewakafkan tanah mereka. Tetapi, Rasulullah tak mau menyia-nyiakan hak orang lain terutama anak yatim, sehingga tanah itu tetap dibeli dengan harga wajar.

Dari masjid itulah, yang saat ini dikenal dengan Masjid Nabawi, Rasulullah membangun Madinah menjadi kota yang makmur. Modal yang digunakan Rasulullah adalah semangat persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar yang telah diikat dalam ukhuwah Islamiyah.

Tak hanya itu, Rasulullah membuat perjanjian dengan sejumlah pihak dari berbagai latar belakang suku, ras, dan agama. Perjanjian itu dituangkan dalam catatan yang hingga saat ini dikenal sebagai Piagam Madinah.

Piagam Madinah memuat 47 pasal yang kesemuanya mengatur tentang persatuan, persaudaraan, hak asasi, dan lain-lain. Piagam Madinah juga memuat pasal mengenai kewajiban setiap orang beriman, apapun agamanya, untuk melawan segala bentuk kezaliman, pelanggaran ketertiban, permusuhan, dan penipuan.

Hingga saat ini, dunia mengakui Piagam Madinah merupakan wujud konstitusi tertulis pertama di dunia. Nilai-nilai yang terkandung dalam Piagam Madinah sangat universal, sehingga relevan diterapkan pada masyarakat dunia manapun.

Uraian mengenai kisah ini dapat Anda simak pada tautan berikut.

Beri Komentar