Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Dream - Iman bukanlah perkara yang bisa dirasakan hanya dengan memperbanyak ilmu agama. Apalagi dengan memperbanyak ibadah seperti sholat dan puasa.
Kenikmatan iman tak akan pernah dirasakan jika tanpa amalan. Dan amalan tak akan ada rasanya jika tanpa pengorbanan.
Dalam catatan sejarah Islam, sudah banyak kisah tentang mereka yang mereguk nikmatnya iman dengan mengorbankan harta bendanya maupun dirinya. Semua mereka lakukan demi tujuan mulia, tegaknya peradaban Islam.
Contoh paling mudah kita dapatkan adalah para sahabat Rasulullah Muhammad SAW yang berjihad di jalan Allah SWT. Juga para ulama yang tekun menyebarkan ilmu kepada murid-muridnya. Semua karena ingin merasakan nikmatnya iman.
Sehingga, untuk meningkatkan keimanan, tidak ada jalan lain selain menjalankan segala macam amalan. Jika perlu, dengan bersungguh-sungguh dan berkorban.
Inilah inti persoalan mengapa banyak sekali perintah dalam Islam yang hanya bisa dilakukan sebagian kecil orang. Sang pelaku adalah mereka yang yakin betul pada ajaran Islam, sehingga bisa merasakan keindahan dan kenikmatan iman.
Contoh mengenai hal ini dapat kita lihat pada kehidupan Rasulullah Muhammad SAW. Dari ibadah, Rasulullah selalu mengisi malam-malamnya dengan sholat.
Dari harta, Rasulullah tidak pusing dengan ketiadaan kekayaan. Justru Rasulullah sampai terganggu sholatnya jika ada sedikit saja harta di rumahnya yang belum disedekahkan.
Dan sebagai pemimpin, pikiran Rasulullah hanyalah umatnya. Bahkan sampai di saat-saat terakhirnya, Rasulullah masih menyebut-nyebut umatnya.
Di sisi lain, para sahabat begitu heroik dalam mencari ridho Allah SWT. Mereka serahkan hartanya demi agama. Tekad mereka dalam belajar sangat tinggi dan rela melakukan apapun untuk menuntut ilmu.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang