Membatalkan Nazar yang Terlanjur Terucap, Berdosakah?

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 5 Maret 2018 20:00
Membatalkan Nazar yang Terlanjur Terucap, Berdosakah?
Hukum dasar nazar dalam agama Islam adalah wajib.

Dream - Nazar kerap dipahami sebagai janji. Biasanya, nazar disampaikan seseorang agar keinginannya terkabul.

Misalnya, seseorang berjanji puasa Senin-Kamis selama setahun jika diterima bekerja di perusahaan mentereng. Atau bernazar sedekah satu kali gaji jika menang lelang proyek tertentu.

Lantas, jika dalam rentan waktu tertentu harapan belum juga terkabul, apakah berdosa jika nazar dibatalkan?

Dikutip dari laman rumah fiqih Indonesia, Ustaz Ahmad Sarwat Lc., menjelaskan sebenarnya hukum bernazar dibolehkah dalam Islam. Tetapi, sesungguhnya amalan ini kurang disukai oleh sebagian ulama.

Sebab, ada akhlak yang dinilai kurang baik kepada Allah SWT di balik nazar tersebut. Kesannya, orang baru mau menjalankan amalan ibadah jika keinginannya dikabulkan Allah SWT.

Dalam sejumlah kitab fikih, nazar dimaknai sebagai amalan yang mewajibkan diri sendiri atau orang yang bernazar untuk melakukan perbuatan (ibadah) untuk Allah yang asal hukumnya tidak wajib menjadi wajib.

Contohnya, bernazar sedekah satu kali gaji kalau menang tender. Sedekah yang mulanya hukumnya sunah menjadi wajib karena nazar.

Sedangkan kewajiban membayar nazar terdapat dalam firman Allah SWT di Surat Al Hajj ayat 29.

Dan hendaklah mereka melaksanakan nazarnya.

Juga dalam Surat Al Insan ayat 7.

Mereka menunaikan nazarnya dan takut atas hari yang azabnya merata di mana-mana.

Hukum dasar nazar adalah wajib jika sudah diucapkan. Tidak boleh dicabut karena merupakan janji kepada Allah SWT.

Tetapi, apabila nazarnya mengandung kemaksiatan atau justru berkebalikan apa yang dibolehkan oleh Allah, maka nazar wajib dibatalkan. Contohnya seperti tidak menjimak istri selama tiga hari usai pernikahan untuk menjaga kesucian istrinya.

Sementara terkait nazar yang belum terjadi kemudian dibatalkan, hal itu boleh dilakukan selama belum ada tanda-tanda keinginannya terkabul. Jika sebaliknya, dia mendapati tanda-tanda harapannya dikabulkan, maka terlarang baginya untuk membatalkan nazarnya.

Selengkapnya...

Beri Komentar