Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Wiskha Dan Orangtuanya (ugm.ac.id)
Dream - Muhammad Wiskha Al Hafiidh Suskalanggeng. Dialah anak pemulung yang lolos seleksi masuk Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Kesmepatan untuk mewujudkan impian menjadi dokter pun semakin besar.
Semula, remaja yang karib disapa Wiskha pemilik nama asli ini sempat ragu untuk mewujudkan cita-citanya ini. Sebab, nilai masuk program studi Pendidikan Dokter UGM sangatlah tinggi.
“ Awalnya ia sempat ragu, tapi saya terus meyakinkannya bahwa ia mampu masuk pendidikan dokter,” kata Ibunda Wiskha, Dwi Asih Prihati, dikutip Dream dari ugm.ac.id, Sabtu 16 Juli 2016.
Remaja asal Dusun Saragan, Pendowoharjo, Sleman, ini sempat gagal dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Namun dia tak menyerah dan mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) hingga diterima.
“ Waktu tidak diterima SNMPTN, kemudian saya belajar giat lagi supaya dapat lolos di tes SBMPTN. Alhamdulillah, lewat jalur SBMPTN akhirnya saya diterima di pendidikan dokter UGM,” jelas Wiskha.
Saat ini, Whiska berusaha mendapatkan beasiswa Bidikmisi agar dibebaskan dari biaya perkuliahan. Sebab, orangtuanya tergolong tidak mampu. Jangankan biaya kuliah, untuk biaya sehari-hari pun keluarga ini sangat pas-pasan.
“ Saya sedang mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk persyaratan beasiswa bidikmisi. Semoga saya diterima sehingga meringankan beban orangtua,” ujar Wiskha.
Orangtuanya pemulung, tak punya rumah..
© Dream
Ayah Wiskha, Permana Suskalanggeng, memang hanya seorang pemulung. Sus, panggilan sang ayah, bahkan tidak memiliki tempat tinggal. Keluarga ini menempati rumah milik saudara yang kini merantau ke Kalimantan.
Sus adalah tulang punggung keluarga. Sejak 8 tahun silam, pekerjaannya adalah memulung rongsokan. Saban hari keliling dengan motor butut dari desa satu ke lainnya, mencari rongsokan.
Malangnya lagi, Sus tak punya modal untuk membeli rongsok milik warga. Justru warga lebih sering memberinya rongsokan secara cuma-cuma dan menyuruh Sus untuk sekalian membersihkan pekarangan atau rumah pemilik rongsok.
Dari bersih-bersih itulah kadang Sus mendapat uang tambahan. Dalam sebulan Sus rata-rata mengantongi uang sejumlah Rp 900 ribu untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya.
Meski berpenghasilan pas-pasan, Sus tetap mengupayakan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Beruntung anak-anaknya tergolong rajin dan berprestasi sehingga mendapat BOS dan dapat sekolah secara gratis.
Wiskha pun anak berotak encer. Semenjak SD, SMP, dan SMA, dia sering menjadi juara kelas. Dia bahkan lulus SMA dengan predikat nilai paling tinggi se-SMA 1 Sleman dan nomor empat tingkat Provinsi DIY.
Selain itu, Wiskha juga sempat meraih Juara 2 Olimpiade Fisika Paket Hari Ilmiah se-Jawa Bali pada Oktober 2015.
© Dream
Sebagai ibu, Dwi berharap Wiskha kelak bisa memanfaatkan ilmu yang diperoleh bisa berguna untuk orang banyak, khususnya adik Whiska yang mengidap penyakit syaraf perut yang menyebabkan harus menjalani perawatan jangka panjang.
“ Semoga kelak Wiskha dapat merawat adiknya yang selama ini sakit dengan ilmu yang ia dapatkan,” ungkap Dwi.
Senada dengan istrinya, Sus berharap Wiskha tidak hanya berguna bagi keluarga dan orang banyak, melainkan juga dapat mengubah derajat keluarganya menjadi lebih baik dengan ilmu yang dia miliki.
“ Bagi saya yang terpenting dapat berguna bagi orang banyak, itu saja sudah cukup,” tambah Sus.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya