Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Tim Dokter Muda Indonesia Sedang Memeriksa Kesehatan Bayi Etnis Rohingya (Muhammadiyah.or.id)
Dream - Nuha Aulia Rahman rela meninggalkan peralatan kedokteran lengkapnya di Yogyakarta. Dia kini tengah bertugas memantau kesehatan para Muslim Rohingya yang harus menempati kamp pengungsian di Jamtoli, Bangladesh.
Ruang yang dia gunakan untuk mengobati para pengungsi itu hanya berdinding anyaman bambu, beratap terpal, dan hanya dilengkapi kursi plastik dan meja lipat. Masuk ke dalam ruangan, udara terasa panas.
Meski begitu, semangat dokter muda yang berpraktik di Rumah Sakit Universitas Ahmad Dahlan ini tidak kendur dalam membantu sesama. Didampingi perawat RS PKU Muhammadiyah Cepu, Kharisma Dwi Angga, Nuha tidak lelah mengobati para Muslim Rohingya.
" Berawal dari kesempatan yang diberikan Muhammdiyah Aid kepada tenaga medis dari Rumah Sakit Muhammadiyah untuk bergabung dalam misi kemanusiaan bagi masyarakat Rohingya di Bangladesh, Alhamdulillah, saya merupakan salah satu dokter yang diberikan amanah untuk mengemban tugas tersebut," ujar Nuha, dikutip dari muhammadiyah.or.id, Senin 19 Maret 2018.
Nuha mendapat amanah memimpin tim dokter Indonesia yang tergabung dalam misi Indonesia Humanitarian Alliance (IHA). Setiap hari, pada dokter bertugas melayani 150 sampai 200 pasien.
IHA merupakan misi kemanusiaan yang dibentuk oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia untuk membantu para pengungsi Rohingya. Setiap tim yang dikirim akan bertugas selama 17 hari, lalu digantikan oleh tenaga medis yang lain.
Seperti relawan lainnya, Nuha juga menempuh perjalanan 1,5 jam dari kota Cox Bazar, melewati medan yang begitu sulit. Mereka juga harus selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Bangladesh.
Para relawan ini hanya mendapat kesempatan berada di kamp pengungsian mulai pukul 10.00 hingga 17.00 waktu setempat. Sebab, Pemerintah Bangladesh tidak sanggup menyediakan fasilitas listrik ataupun menjamin keamanan para relawan. Jadi, lewat jam 17.00, tim relawan harus kembali ke penginapan di pusat kota.
Koordinator Tim Medis IHA, Corona Rintawan, para dokter dan tenaga medis yang tergabung dalam tim pimpinan Nuha tidak hanya berasal dari Muhammadiyah. Mereka merupakan utusan beberapa lembaga seperti Rumah Zakat dan Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhid.
Corona mengatakan kondisi sejumlah kamp pengungsian tidak banyak berubah. Para pengungsi harus tinggal di tenda darurat yang sempit. Ada fasilitas toilet darurat di sana, namun jumlahnya tidak memadai. " Kira-kira, kondisinya masih sama seperti di awal kedatangan kami," kata Corona.
Kehadiran tim IHA mendapat sambutan yang sangat baik dari para pengungsi. Bahkan mereka lebih percaya pada tim medis asal Indonesia daripada harus pergi ke klinik.
" Para pasien banyak yang tidak mau dirujuk berobat ke tempat lain. Sampai mereka bilang, 'Kami percaya dengan dokter dan obat dari Indonesia'. Kami merasa terharu atas penghargaan itu," ujar dokter RS PKU Muhammadiyah Lamongan, Zuhdiyah Nihayati, yang pernah memimpin tim dokter Indonesia di Bangladesh.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya