Semangat Dokter Muda Indonesia Mengabdi untuk Etnis Rohingya

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 19 Maret 2018 17:00
Semangat Dokter Muda Indonesia Mengabdi untuk Etnis Rohingya
Setiap relawan harus menempuh medan sulit untuk sampai ke pos kesehatan kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh.

Dream - Nuha Aulia Rahman rela meninggalkan peralatan kedokteran lengkapnya di Yogyakarta. Dia kini tengah bertugas memantau kesehatan para Muslim Rohingya yang harus menempati kamp pengungsian di Jamtoli, Bangladesh.

Ruang yang dia gunakan untuk mengobati para pengungsi itu hanya berdinding anyaman bambu, beratap terpal, dan hanya dilengkapi kursi plastik dan meja lipat. Masuk ke dalam ruangan, udara terasa panas.

Meski begitu, semangat dokter muda yang berpraktik di Rumah Sakit Universitas Ahmad Dahlan ini tidak kendur dalam membantu sesama. Didampingi perawat RS PKU Muhammadiyah Cepu, Kharisma Dwi Angga, Nuha tidak lelah mengobati para Muslim Rohingya.

" Berawal dari kesempatan yang diberikan Muhammdiyah Aid kepada tenaga medis dari Rumah Sakit Muhammadiyah untuk bergabung dalam misi kemanusiaan bagi masyarakat Rohingya di Bangladesh, Alhamdulillah, saya merupakan salah satu dokter yang diberikan amanah untuk mengemban tugas tersebut," ujar Nuha, dikutip dari muhammadiyah.or.id, Senin 19 Maret 2018.

Nuha mendapat amanah memimpin tim dokter Indonesia yang tergabung dalam misi Indonesia Humanitarian Alliance (IHA). Setiap hari, pada dokter bertugas melayani 150 sampai 200 pasien.

IHA merupakan misi kemanusiaan yang dibentuk oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia untuk membantu para pengungsi Rohingya. Setiap tim yang dikirim akan bertugas selama 17 hari, lalu digantikan oleh tenaga medis yang lain.

Seperti relawan lainnya, Nuha juga menempuh perjalanan 1,5 jam dari kota Cox Bazar, melewati medan yang begitu sulit. Mereka juga harus selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Bangladesh.

Para relawan ini hanya mendapat kesempatan berada di kamp pengungsian mulai pukul 10.00 hingga 17.00 waktu setempat. Sebab, Pemerintah Bangladesh tidak sanggup menyediakan fasilitas listrik ataupun menjamin keamanan para relawan. Jadi, lewat jam 17.00, tim relawan harus kembali ke penginapan di pusat kota.

Koordinator Tim Medis IHA, Corona Rintawan, para dokter dan tenaga medis yang tergabung dalam tim pimpinan Nuha tidak hanya berasal dari Muhammadiyah. Mereka merupakan utusan beberapa lembaga seperti Rumah Zakat dan Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhid.

Corona mengatakan kondisi sejumlah kamp pengungsian tidak banyak berubah. Para pengungsi harus tinggal di tenda darurat yang sempit. Ada fasilitas toilet darurat di sana, namun jumlahnya tidak memadai. " Kira-kira, kondisinya masih sama seperti di awal kedatangan kami," kata Corona.

Kehadiran tim IHA mendapat sambutan yang sangat baik dari para pengungsi. Bahkan mereka lebih percaya pada tim medis asal Indonesia daripada harus pergi ke klinik.

" Para pasien banyak yang tidak mau dirujuk berobat ke tempat lain. Sampai mereka bilang, 'Kami percaya dengan dokter dan obat dari Indonesia'. Kami merasa terharu atas penghargaan itu," ujar dokter RS PKU Muhammadiyah Lamongan, Zuhdiyah Nihayati, yang pernah memimpin tim dokter Indonesia di Bangladesh.

Beri Komentar
Yenny Wahid Rilis Produk Kecantikan Halal