Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Gedung LPPOM MUI Di Bogor (hidayatullah.com)
Dream - Bagi umat Islam, mengetahui status kehalalan produk makanan merupakan hal penting. Ini untuk memastikan bahan pangan yang dikonsumsi tidak mengandung barang haram.
Hal inilah yang menjadi salah satu alasan perlunya sertifikasi halal. Namun demikian, gagasan mengenai adanya jaminan kehalalan produk pangan baru muncul di era 80-90an.
Pemicunya adalah hasil penelitian seorang profesor di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang, Tri Sutarto yang dipublikasikan pada 1988. Tri mendapat temuan dalam produk pangan yang dikonsumsi masyarakat kala itu ternyata terindikasi mengandung lemak babi.
Hasil penelitian kemudian dikabarkan Buletin Canopy, media yang dikelola Senat Mahasiswa Universitas Brawijaya saat itu. Penelitian itu membuat gempar dan kepanikan di masyarakat, terutama umat Islam.
Para pelaku industri pangan pun kelabakan karena omzet penjualan mereka turun drastis. Aisyah Girindra dalam LPPOM MUI Pengukir Sejarah Sertifikasi Halal menuliskan penjualan mie instan merek tertentu kala itu turun 20-30 persen dari 40 juta bungkus per bulannya.
Begitu juga produk lain. Kecap dan Es Krim turut terkena imbas. Penjualannya terjun 20 hingga 40 persen.
Bahkan, sejumlah produsen biskuit berusaha keras meyakinkan masyarakat bahwa produk mereka tidak mengandung bahan haram. Mereka pun sampai mengeluarkan uang ratusan juta untuk biaya iklan, jumlah yang tidak sedikit kala itu.
Kondisi ini memantik kesadaran umat Islam akan perlunya jaminan kehalalan produk pangan. Bahkan, kebutuhan itu dinilai sudah sangat mendesak.
Sayangnya, pemerintah kala itu tidak segera menyikapi hal ini. Malah, pemerintah justru meniru langkah pelaku industri, berusaha meyakinkan publik bahwa produk pangan yang beredar di masyarakat tidaklah mengandung bahan haram dan bukan malah membuat aturan mengenai jaminan halal.
Melihat respon pemerintah yang demikian, Majelis Ulama Indonesia kemudian berinisiatif untuk membahas persoalan tersebut secara intensif. Dari sejumlah pertemuan itulah didirikan badan khusus Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).
Lembaga itu bertugas melakukan pengawasan terhadap produk pangan, obat-obatan, dan kosmetika di masyarakat. Hasil pengawasan tersebut menjadi dasar diterbitkannya sertifikat sebagai jaminan kehalalan produk pangan.
Selengkapnya... (ism)
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


Penelitian Ungkap Protein Bisa Bantu Membersihkan Sisa Sel dan Kurangi Tanda Peradangan

Mengapa Tempat Sepi seperti Lorong Kosong Bisa Terasa Menyeramkan? Ini Penjelasan Psikologinya


Bagaimana Harga Emas Ditentukan? Apakah Harganya Sama di Seluruh Dunia?

Sering Bikin Lelah secara Emosional? Kenali 8 Tanda Anda Berhadapan dengan Energy Vampire

Starvision Rilis Trailer dan Poster Dewi Siluman Ular, Angkat Kisah Pernikahan Manusia dengan Jin
