Aturan Kontroversial di China, Siswa Diminta Bantu Pasien Corona

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 24 Februari 2020 09:00
Aturan Kontroversial di China, Siswa Diminta Bantu Pasien Corona
Poin tambahan menjadi daya tarik bagi para siswa.

Dream - Pemerintah kota Datong, Shanxi, China, membuat geger media sosial. Sebab, aturan itu meminta para murid sekolah untuk terjun ke garis depan membantu korban yang terinfeksi virus Corona, Covid-19.

Pemkot Datong mengumumkan bahwa semua siswa yang maju melawan kasus Covid-19 akan mendapat tambahan nilai 30 poin saat ujian masuk perguruan tinggi.

Dilaporkan Shanghaiist, langkah itu terjadi setelah pemerintah provinsi Hubei mengumumkan tindakan serupa awal bulan ini. Pemprov Hubei memberi hadiah kepada semua anak pekerja medis mendapat tambahan 10 poin pada ujian masuk perguruan tinggi.

Poin tambahan selalu menjadi subjek yang sangat sensitif di China. Di mana ada persaingan tinggi untuk tempat yang relatif sedikit di kampus-kampus top.

 

1 dari 5 halaman

Kritik dari Warganet

Terlepas dari dukungan nasional terhadap para pekerja medis, kasus ini menerima banyak kritik dari pengguna Weibo.

" Apa yang dilakukan anak-anak yang orang tuanya bukan pekerja medis? Bukankah lebih baik memberikan perawatan istimewa kepada para pekerja medis itu sendiri?" ujar seorang warganet.

“ Hadiahnya harus diberikan kepada pekerja medis, bukan memberi anak-anak poin ekstra, terutama begitu banyak. Itu terlalu tidak adil,” kata seorang warganet.

" Mengapa tidak menambah 100 poin?" ucap dia.

2 dari 5 halaman

Virus Corona Mewabah, Kota Daegu di Korsel Dikarantina

Dream - Pemerintah Korea Selatan resmi menyatakan kota Daegu sebagai `zona manajemen khusus`, Jumat 21 Februari 2020, karena disinyalir menjadi lokasi penyebaran virus Corona, Covid-19.

Menurut laman Japan Times, otoritas kesehatan Korea Selatan melaporkan sebanyak 52 kasus baru Covid-19. Angka itu menambah kasus infensi virus Corona di Korea Selatan menjadi 156.

Lonjakan itu, terutama di wilayah Daegu, menimbulkan kekhawatiran wabah itu semakin tidak bisa dikendalikan oleh Negeri Ginseng tersebut.

Di Seoul, pemerintah setempat telah melarang aksi demonstrasi besar-besaran, untuk mencegah penyebaran virus Covid-19.

Lonjakan infeksi di Daegu dan beberapa kasus di Seoul tidak jelas rutenya. Kasus sebaran ini bahkan baru diakui pemerintah Korsel pada Kamis, 20 Februari 2020.

Perdana Menteri Korsel, Chung Se-Kyun, mengatakan bahwa pemerintah akan berkonsentrasi di wilayah tenggara yang terdampak. Pemerintah akan menyediakan tempat tidur, peralatan, dan staf medis.

Walikota Daegu, Kwon Young-jin, mendesak 2,5 juta orang di kota itu untuk tinggal di rumah dan mengenakan masker bahkan di dalam ruangan jika memungkinkan.

Para pejabat di Pulau Jeju mengatakan, seorang anggota angkatan laut berusia 22 tahun yang berbasis di pulau itu dinyatakan positif terinfeksi virus Corona pada hari Jumat, beberapa hari setelah mengunjungi Daegu untuk berlibur.

Pelaut yang saat ini dirawat di rumah sakit sipil di pulau itu merupakan pasien virus pertama di Jeju.

3 dari 5 halaman

1.000 Orang Beribadah di Gereja Tersebut

Sementara itu, dugaan penyebaran virus berasal mengarah ke sebuah geraja. Dilaporkan Quartz, menurut pernyataan dari pusat kendali dan pencegahan penyakit Korea Selatan, 28 kasus Covid-19 terkonfirmasi terkait dengan Gereja Shincheonji Yesus, Kuil Tabernakel Kesaksian.

Dugaan ini berawal dari ditemukannya seorang perempuan berusia 61 tahun yang mengalami infeksi virus Covid-19.

Tidak jelas bagaimana dia tertular penyakit Covid-19, karena dia tidak melakukan perjalanan ke luar negeri baru-baru ini. Menurut sebuah pernyataan pemerintah, dia dirawat di rumah sakit pada 7 Februari setelah kecelakaan mobil. Dia mengalami demam tiga hari kemudian, dan dikonfirmasi telah dinyatakan positif mengidap coronavirus pada 18 Februari.

Pihak gereja mengonfirmasi bahwa pasien ke-31 Covid-19 telah menghadiri layanan di Daegu. Media setempat melaporkan bahwa sekitar 1.000 anggota gereja telah menghadiri ibadah dengan pasien positif Covid-19.

Sejak saat itu gereja menutup fasilitasnya, memindahkan semua ibadah dan pertemuan online. Daegu sekarang bersiaga, dan telah mengambil tindakan termasuk menutup perpustakaan umum, menangguhkan kelas taman kanak-kanak, dan menunda acara besar.

Sebuah pangkalan militer AS di kota itu telah membatasi akses dan memberlakukan karantina terhadap setiap pasukan yang baru-baru ini menghadiri gereja Shincheonji.

4 dari 5 halaman

Kematian Pertama Pasien Virus Corona di Timur Tengah Terjadi di Iran

Dream - Kematian perdana kasus virus corona di Timur Tengah baru saja dilaporkan. Dua orang lanjut usia yang positif terpapar virus bernama Covid-19 di Qom, Iran dilaporkan telah meninggal dunia.

" Dua orang telah meninggal karena virus corona di Kota Qom," kata Menteri Kesehatan Iran, Alireza Vahabzadeh.

Dilaporkan Al Jazeera, dua orang lanjut usia dengan positif Covid-19 tersebut meninggal pada Rabu, 19 Februari 2020.

" Kedua korban menderita infeksi paru-paru akut karena infeksi mereka dengan virus corona," kata dia.

5 dari 5 halaman

Iran Tingkatkan Kewaspadaan

Sebelumnya pada hari itu, Kianoush Jahanpour, juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, mengatakan kedua orang itu dinyatakan positif mengidap Covid-19. Penyebab, dua orang tersebut meniggal karena kurangnya kekebalan dan usianya yang sudah menua.

" Tidak ada informasi langsung tentang jenis kelamin dan usia pasti para korban," ucap dia.

Usai peristiwa ini, Qom menyiapkan kondisi gawat darurat. Kondisi ini untuk menyegah penyebaran wabah Covid-19.

" Kami mendesak orang-orang untuk menghindari salaman dan ciuman, demi menjaga kebersihan pribadi lebih baik menghindari kerumuman," ujar Deputi Kementerian Kesehatan Iran, Qasem Jan-Babaei.

Iran saat ini waspada karena kemungkinan sebaran Covid-19 muncul di kota-kota lain. Di kawasan Timur Tengah, kasus pertama Covid-19 dilaporkan terjadi di Uni Emirate Arab, bulan lalu.

Beri Komentar