KAA (1): Dari Bandung untuk Palestina

Reporter : Syahid Latif
Senin, 20 April 2015 18:19
KAA (1): Dari Bandung untuk Palestina
Palestina harus segera merdeka. Inilah desakan 72 negara dari Bandung.

Dream - Empat puluh menit. Hari itu 18 April 1955. Lelaki ini berpidato seperti berpekik. Suaranya menggelegar membakar  semangat seisi ruang. Kekuasaan penjajah, katanya, membentang dari Gilbraltar hingga negeri Jepang. Rakyat di sepanjang jalur itu sudah lama menderita.  

Sepanjang pidato itu berkali-kali terdengar gemuruh tempuk tangan. Dan pada hari ini, lanjutnya, berkumpul pemimpin dari berbagai wilayah itu. “ Mereka bukan lagi mangsa kolonialisme. Bukan lagi menjadi alat perkakas orang lain.” Mereka yang hadir di gedung itu seperti tersihir.

Kita tahu, lelaki di panggung itu adalah Soekarno, presiden pertama Indonesia, yang sohor disebut sebagai singa podium. Pidato penuh semangat itu disampaikan di Konferensi Asia Afrika di Bandung. Sejumlah petinggi negara, seperti Jawaharlal Nehru dari India, Chou En Lai dari China, Gamal Abdul Nasser dari Mesir dan sejumlah tokoh kunci dari beberapa negara hadir di situ.  

Konferensi itu kemudian menelurkan sejumlah resolusi. Salah satunya resolusi menentang penjajahan. Dampak resolusi itu luar biasa. Sejumlah negara, terutama di Afrika, bergolak merebut kemerdekaan. Saat konferensi ini digelar tahun 1955 itu, dari 43 negara di benua Afrika sekarang ini, baru enam yang merdeka.  

Enam puluh tahun sesudah konferensi ini,  barangkali utang terbesar sejumlah negara itu  adalah Palestina. Sebuah kawasan yang makmur, alam indah, tanah subur, tapi sengsara tak karuan semenjak kaum Israel menginjak ke situ tahun 1948.

Negeri itu sudah berjuang dan sukses masuk menjadi pengamat di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) semenjak 22 November 1974. Sudah pula mendeklarasikan kemerdekaan 15 November 1988. Tapi bahkan hingga 60 tahun sesudah konferensi yang menggetarkan di Bandung itu, masih saja dijajah.

Meski diramaikan sejumlah negara di ranah diplomasi, di lapangan Palestina tampaknya sendirian menghadang agresi serdadu Israel. Berpuluh tahun kita menyaksikan anak-anak Palestina bersenjata ketapel, berdiri menantang kematian dari mulut tank tempur pasukan Israel. Sungguh tidak seimbang memang. Dan dunia seperti hanya menonton. Di sana, ratusan ribu orang sudah “ tamat.” Berjuta mengungsi.

Itulah sebabnya orang berharap banyak dari Konferensi Asia-Afrika, yang digelar pekan ini di Bandung. Presiden Joko Widodo sudah menggalang 92 negara yang hadir agar mendukung kemerdekaan negeri Palestina itu.

" Kalau dilihat 60 tahun, salah satu negara yang dulu sampai sekarang belum merdeka adalah Palestina," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanattha Christiawan Nasir saat berbincang dengan Dream.co.id.

Arrmanattha mengaku bahwa perjuangan Konferensi Asia Afrika yang pertama, belum sepenuhnya selesai. Salah satunya soal Palestina itu. Dan itulah sebabnya, dalam soal Palestina itu, pemerintah Indonesia memilih bergerak cepat.

Deklarasi mendesak kemerdekaan Palestina itu sudah diputuskan dalam pertemuan pendahuluan para pejabat tinggi sejumlah negara Asia Afrika, yang digelar di Jakarta Minggu kemarin.”Semua negara setuju dan tak satupun yang keberatan,” kata Arrmanattha.

Deklarasi itu akan diputuskan pada pertemuan para kepala negara di Konferensi Asia Afrika di Bandung. Desakan untuk memerdekakan Palestina itu merupakan satu dari 3 point penting dari konferensi ini. Dua point lain adalah apa yang disebut sebagai Bandung Message dan penyegaran kembali kemitraan strategis Asia-Afrika.

Kepala Staf Khusus Presiden Luhut Panjaitan, yang juga menjadi Ketua Panitia Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika, menegaskan bahwa desakan untuk memerdekakan Palestina sangat penting. Dan itu sudah menjadi komitmen pemerintah.

“ Deklarasi Palestina paling menonjol yang akan dibahas. Itu adalah janji yang pernah disampaikan presiden untuk mendorong kemerdekaan Palestina sekaligus keanggotaan penuh Palestina di PBB,” jelas Luhut.

Dan bukan hanya Indonesia. Kemerdekaan bagi Palestina, kata Luhut, juga menjadi keinginan negara-negara Asia. Bahkan bukan hanya negara yang hadir sebagai peserta, sejumlah negara lain dari Eropa yang menjadi pengamat pada acara ini, setuju dengan deklrasi kemerdekaan Palestina itu.

Sebenarnya deklarasi ini, lanjut Luhut, berdasarkan hasil rapat dari duta besar dan SOM di kantor PBB di New York, Amerika Serikat. Lalu presiden menjadikannya sebagai pembahasan utama. Luhut begitu yakin bahwa deklarasi dukungan kemerdekaan Palestina ini akan terwujud. Juga akan didukung seluruh rakyat Indonesia.

***

Bagi Indonesia, Palestina memang bukanlah negara yang baru dikenal sehari. Ketika memperjuangkan kemerdekaan Agustus 1945, sejumlah negara Arab memberi dukungan penuh. Dan kini, sudah seharusnya Indonesia bahu-membahu dengan sejumlah negara Arab memperjuangan kemerdekaan Palestina.

Palestina bagi Indonesia adalah sebuah negara merdeka. Pengakuan itu sudah diberikan semenjak Palestinian National Council Aljazair mendeklarasikan kemerdekaan pada 16 November 1988.

Sudah lama pula, Presiden Soekarno begitu gigih mengutuk serangan Israel pada negara-negara Arab. Soekarno memberi dukungan penuh bagi Negara Arab yang melawan aksi Israel. Berakhirnya kekuasaan Soekarno tak lantas hubungan negara sahabat ini mengendur.

Hubungan kedua negara ini malah makin erat. Mantan Pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), mendiang Yasser Arafat  bolak balik bertandang ke Indonesia pada 1984 dan 1993. Entah sudah berapa banyak pula kerjasama yang dijalin kedua Negara Indonesia.

Pada Oktober 2007, Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk pertama kalinya melakukan kunjungan resmi ke Indonesia. Walhasil, kerjasama di bidang komunikasi dan pendidikan terjalin di antara kedua Negara ini. Sejarah panjang itulah yang mendorong Indonesia paling depan memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Kini, Bandung sedang bersolek. Beberapa hari ini, para tukang tak bisa bersantai. Kota Paris van Java ini harus bergegas. Jalanan, lampu penerangan, dipoles agar lebih cantik. Tak lupa, 109 batu bertuliskan nama negara jadi pemanis di sepanjang jalan menuju Gedung Merdeka.

Kawasan kota tua Bandung ini seolah bangkit dari masa “ senjanya”. Meski tetap dengan penampilan tahun 1950-an, kawasan itu kini terlihat permai. Dari pertemuan para kepala negara di kawasan inilah, berjuta rakyat nun di jauh Palestina banyak berharap.

 

Laporan: Amrikh Palupi dan Bimo Putro

Beri Komentar