Ilmuwan: Manusia Berasal dari Luar Angkasa

Reporter : Sandy Mahaputra
Sabtu, 23 Agustus 2014 17:03
Ilmuwan: Manusia Berasal dari Luar Angkasa
"Segala sesuatu yang kita miliki di Bumi berasal dari luar angkasa, termasuk manusia," kata Chandra Wickramasinghe.

Dream - Sebuah klaim kontroversial tentang asal mula makhluk hidup di Bumi disuarakan oleh ilmuwan di Buckingham Centre for Astrobiology. Disebutkan bahwa kehidupan di Bumi berasal dari luar angkasa setelah plankton ditemukan menempel di jendela bagian luar stasiun ruang angkasa atau International Space Station (ISS).

Awal pekan ini kosmonot Rusia mengumumkan mereka telah menemukan mikroorganisme yang hidup di salah satu jendela stasiun ruang angkasa mereka. Penemuan itu dilakukan oleh kosmonot Rusia Olek Artemyev dan Alexander Skvortsov saat membersihkan jendela ISS awal pekan ini.

Asal tepatnya makhluk ini masih belum diketahui. Diklaim mereka berasal dari luar angkasa yang kemungkinan dari kehidupan yang mirip di Bumi.

Percobaan sebelumnya telah menunjukkan bakteri dapat bertahan hidup di luar planet kita. Tapi penemuan ini merupakan pertama kalinya bagi bentuk kehidupan yang lebih kompleks yang dapat bertahan hidup di ruang angkasa. Meski asal tepatnya plankton itu belum diketahui, disebutkan, kemungkinan itu adalah kontaminasi dari segmen stasiun ruang angkasa Amerika.

Soal penemuan itu, para ahli Rusia mengatakan organisme kecil tersebut terbawa ke stasiun melalui arus udara dari laut di mana plankton banyak ditemukan.

Namun yang lain mengklaim hal itu tidak mungkin. Mereka menduga organisme kecil itu melayang dan jatuh ke ISS dari tempat lain di ruang angkasa. Mereka bersikeras bahwa plankton - salah satu bentuk awal kehidupan - pasti jatuh ke Bumi dari ruang angkasa miliaran tahun yang lalu. Dan mengatakan ini adalah bukti bahwa kita semua berasal dari luar angkasa, sebuah teori yang dikenal sebagai panspermia.

Sementara Profesor Chandra Wickramasinghe dari Buckingham Centre for Astrobiology mengatakan organisme ganggang atau diatom sebelumnya telah ditemukan di meteorit yang jatuh ke Bumi.

" Diatom telah ditemukan di meteorit di Sri Lanka, namun belum ada bukti dari mana mereka benar-benar berasal," katanya.

" Ini adalah pertama kalinya bahwa kita memiliki bukti organisme kompleks hidup jatuh dari langit ke Bumi."

" Stasiun luar angkasa mengorbit Bumi dalam keadaan vakum, tidak ada udara. Sehingga merupakan pembangkangan total terhadap hukum fisika untuk mengatakan organisme ini tertiup ke ruang angkasa dari Bumi."

Satu-satunya penjelasan adalah bahwa mereka datang dari tempat lain dalam ruang angkasa. Dan ini mendukung teori lama bahwa plankton dan semua kehidupan di Bumi termasuk manusia, berasal dari organisme di ruang angkasa.

" Segala sesuatu yang kita miliki di Bumi berasal dari luar angkasa, termasuk manusia," kata Chandra Wickramasinghe.

Profesor Milton Wainwright, ahli mikrobiologi di Universitas Sheffield, mengatakan percobaan sebelumnya yang dilakukan oleh timnya menemukan bukti bahwa diatom bisa bertahan hidup 17 mil (27 km) di atas permukaan Bumi.

Namun dia mengatakan ini adalah pertama kalinya mereka terdeteksi begitu jauh menempel di ISS di lebih dari 200 mil (250 km) dari planet ini.

" Ini merupakan perkembangan yang menakjubkan dan tidak ada penjelasan lain selain organisme ini berasal dari ruang angkasa," katanya.

" Ini adalah titik kritis terhadap ilmu pengetahuan yang membuktikan bahwa kehidupan terus datang ke Bumi dari ruang angkasa dan penemuan ini adalah contoh pertama."

" Ini adalah penemuan yang menakjubkan, dan sekarang ada bukti-bukti yang muncul bahwa organisme di Bumi berasal dari luar angkasa."

Berkaitan dengan penemuan plankton di ISIS Rusia, NASA belum dikonfirmasi apakah temuan serupa pernah terjadi di masa lalu. Juga belum diketahui reaksi NASA terhadap temuan terbaru itu.

Beri Komentar