Jalan (4): VectroID Mendokumentasi Perampas Hak Pejalan Kaki

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 26 Agustus 2015 18:20
Jalan (4): VectroID Mendokumentasi Perampas Hak Pejalan Kaki
Membuat video dramatis tentang para perampas hak pejalan kaki. Ditonton hampir satu juta orang hanya dalam tempo kurang dari dua bulan.

Dream – Siang itu lampu rambu lalu lintas di depan Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat sudah berwarna merah. Pertanda kendaraan harus berhenti. Tanda itu juga memberi kesempatan bagi pejalan kaki untuk menyeberang jalan lewat zebra cross.

Semua kendaraan patuh berhenti. Namun empat sepeda motor agaknya tengah tergesa. Mereka tidak berhenti di belakang zebra cross atau tempat pejalan kaki menyeberang. Tapi malah menduduki areal zebra cross. Tujuannya apa lagi selain bisa menancap gas secepatnya begitu lampu berwarna hijau.

Tiba-tiba, seorang pemuda mengenakan baju lengan panjang berwarna merah dipadu dengan celana jeans berkacamata hitam muncul dari trotoar. Di tangannya tergenggam sebuah megafon kecil berwarna putih, alat pengeras suara.

Dia lalu berjalan dari trotoar ke jalur zebra cross. “ Nguing… Nguing..,” suara sirine itu terdengar memekakkan telinga. Si pemuda itu sengaja membunyikan sirine yang tertanam dalam megafon di tangannya untuk menarik perhatian. Pemuda itu kemudian berbicara menggunakan megafon kepada para pengendara sepeda motor.

“ Kepada para pengendara yang terhormat. Diberitahukan bahwa zebra cross ini adalah hak untuk pejalan kaki. Sekali lagi diberitahukan zebra cross ini adalah untuk pejalan kaki. Jadi, bagi para pengendara, harap segera ke belakang garis. Mundur, ayo mundur,” kata pemuda itu, yang belakangan diketahui bernama Cakra Adi Negara.

Tiga pengendara motor yang menduduki zebra cross itu pun mengikuti perkataan pemuda yang kerap disapa Chakz itu. Dengan teratur dan berhati-hati, mereka memundurkan sepeda motor tersebut hingga di belakang  zebra cross.

Tetapi, seorang pengendara sepeda motor tidak mau patuh. Padahal, posisinya tepat berada di tengah jalur zebra cross yang sedianya disediakan bagi para pejalan kaki untuk menyeberang jalan. Alhasil, Chakz langsung mendorong sepeda motor itu agar mau mundur ke posisi yang seharusnya.

Bukannya patuh, pengendara motor itu justru marah. Dia berusaha melawan dengan melayangkan tangan ke arah  megafon. Plak, tangan kanannya mengenai megafon. Seketika, megafon itu rusak, baterainya rontok dan jatuh berceceran ke jalan.

Tindakan itu tidak membuat Chakz gentar. Dia tetap memaksa si pengendara agar tidak berada di zebra cross dengan mendorong motornya mundur. Pengendara motor itu tetap tidak terima. Sambil menunjuk ke arah Chakz, pengendara itu berusaha menantang.

“ Mas punya SIM (Surat Izin Mengemudi)? Ini untuk hak pejalan kaki,” kata Chakz dengan nada tinggi.

Tak hanya itu aksi Chakz.  Selang beberapa saat, Chakz melanjutkan aksinya. Kini dia ditemani dua orang pemuda lain. Kali ini aksinya terlihat lebih berani dengan duduk di zebra cross. Sementara satu orang pemuda menduduki roda depan sepeda motor matik yang sedari awal mengambil posisi tepat di tengah zebra cross. Satu orang pemuda lainnya berdiri di depan sepeda motor itu.

Tiiiiiinnnnn…,” suara klakson terdengar begitu kencang memekakkan telinga. Si pengendara motor tersebut tidak terima dengan aksi tiga pemuda tersebut.

“ Lu ngapain di situ?” tanya si pengendara sepeda motor dengan kasar.

Sesaat kemudian, terjadi perdebatan antara Chakz dengan si pengendara motor itu di pinggir jalan. Tidak ada titik temu, si pengendara motor yang emosi lalu bereaksi dengan memukul Chakz tepat di wajahnya.

Insiden itu terekam dalam sebuah video berdurasi sekitar tujuh menit yang dibuat oleh VectroID, komunitas anak muda kreatif yang memiliki keresahan terhadap situasi sosial Jakarta.

Mereka sengaja membuat rekaman beberapa insiden tersebut sebagai bagian dari eksperimen sosial mengukur tingkat ketaatan para penguna jalan di Ibukota. Hingga kemarin video yang diunggah akhir Juni 2015 ke Youtube itu sudah ditonton hampir satu juta orang.

***


1 dari 2 halaman

Bermula dari Pejalan Kaki Terserempet

Bermula dari Pejalan Kaki Terserempet © Dream

Bermula dari Pejalan Kaki Terserempet

Ide tentang eksperimen sosial muncul ketika Chakz yang merupakan anggota VectroID dan pendiri komunitas itu, Yasir Bakhtiar, serta beberapa anggota komunitas lainnya tengah mencari lokasi untuk pengambilan gambar film pendek. 

“ Pas kita hunting, ada serempetan. Ibu-ibu di-serempet bapak-bapak naik motor. Si bapak itu malah marah-marah,” ujar Yasir kepada Dream.

Yasir mengaku melihat kejadian itu. Tetapi, ide untuk membuat dokumentasi itu justru muncul bukan dari dia melainkan dari Chakz. “ Dari situ, Chakz punya ide, kenapa tak kita garap saja dokumentasi pelanggaran lalu lintas. Akhirnya kita putuskan garap,” terang dia.

Butuh satu minggu untuk seluruh tim VectroID membuat persiapan menggarap dokumentasi eksperimen sosial tersebut. Mulai dari penguatan ide hingga perizinan. Semua berjalan normal, hanya saja ada sedikit kendala yang mereka hadapi, pengurusan perizinan.

Penyebabnya, surat permohonan izin keramaian kepada pihak kepolisian mereka ajukan pada hari Jumat. Sempat ada kekhawatiran izin akan keluar dalam waktu lama. Ditambah lagi, perizinan tidak akan diproses jika diajukan pada hari Sabtu dan Minggu.

“ Terus kami bilang kami minta izin ini bisa keluar hari Senin, biar Selasa kita sudah bisa ambil gambar. Soalnya Kamis puasa. Kita memang mengejar waktu,” ungkap dia.

Beruntung, pihak kepolisian memberikan respon positif. Ini lantaran kepolisian justru mendukung rencana eksperimen sosial tersebut. Alhasil, izin bisa dikeluarkan sesuai harapan.

Tidak hanya itu, kepolisian pun turut terlibat dengan menempatkan sejumlah personel di beberapa titik. Mereka disiapkan untuk mengawal lancarnya eksperimen sosial tersebut.

“ Ada kok beberapa polisi. Soalnya kan mereka juga mengatur trafik lalu lintas. Kami juga sudah katakan lokasi tersebut kami pakai sepenuhnya,” terang Yasir.

Aksi eksperimen sosial itu sempat menuai beragam komentar pengguna jalan. Ada yang bersimpati, ada juga yang mencibir. Bahkan ada juga yang menuding mereka sekadar mencari sensasi.

“ Kameramen kami sempat didekati, terus dibilang kami hanya cari sensasi. Kami sadar akan ada banyak respon. Akhirnya kami diamkan saja,” kata Chakz.

***


2 dari 2 halaman

Sentilan Kecil Pengusik Kesadaran

Sentilan Kecil Pengusik Kesadaran © Dream

Sentilan Kecil Pengusik Kesadaran

Chakz tidak pernah menyangka aksi mereka akan ramai menjadi perbincangan publik. Dia mengaku, pikiran awal pembuatan eksperimen tersebut hanya sekadar untuk mengukur seberapa jauh tingkat kesadaran para pengguna kendaraan bermotor di Jakarta terhadap hak para pejalan kaki.

“ Tidak ada ekspektasi video ini akan terkenal. Tapi, entah karena apa, tiba-tiba menjadi booming. Banyak media online memuat video ini,” kata Chakz.

Tetapi, di balik itu semua, anak-anak muda ini hanya punya keinginan untuk mengingatkan akan hak pengguna jalan. Selama ini, hak mereka terampas oleh para pengguna jalan raya, terutama sepeda motor.

“ Kami hanya ingin mengingatkan zebra cross masih berfungsi. Hargai hak pejalan kaki,” kata Yasir.

Senada dengan rekan dia, Chakz mengatakan hal serupa. Bagi dia, pengalaman yang didapatnya saat menjalankan eksperimen sosial tersebut menjadi cerminan tentang ketidakkonsistenan masyarakat.

“ Sering kita dengar orang-orang menyalahkan pemerintah, seperti korupsi. Padahal, secara tidak sadar mereka juga melakukan korupsi. Bukan dengan uang, tetapi dengan merampas hak pejalan kaki. Kita harus sadar diri sebelum menyalahkan orang lain,” tutur Chakz.

Chakz barangkali benar. Bangsa ini memang sudah terlalu lama hidup menggunakan standar ganda. Mereka mengecam korupsi, tapi tak segan merampas dan menduduki zebra cross yang menjadi hak pejalan kaki untuk menyeberang jalan. Sebuah kontradiksi ironis yang tak kunjung berakhir. Hingga hari ini. (eh)

Beri Komentar