Pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi Dikabarkan Tewas

Reporter : Maulana Kautsar
Minggu, 27 Oktober 2019 17:21
Pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi Dikabarkan Tewas
Abu Bakar Al Baghdadi dikabarkan tewas usai operasi Pasukan Spesial AS. Dia disebut meledakkan diri.

Dream - Pemimpin tertinggi Negara Islam Suriah dan Iraq (ISIS), Abu Bakar Al Baghdadi, dilaporkan tewas, Sabtu 27 Oktober 2019.

Kabar menyebut bahwa Abu Bakar Al Baghdadi tewas saat operasi yang digelar pasukan khusus Amerika Serikat. Berkembang kabar, dia tewas meledakkan diri dengan rompi bom.

Menurut Defense One, Abu Bakar meledakkan bom bunuh diri. Meski demikian kabar ini masih belum terkonfirmasi.

Sementara itu, laman ABC menulis aksi bunuh diri Abu Bakar Al baghdadi terjadi di sebuah gedung yang telah diduduki pasukan AS di Idlib, Suriah.

1 dari 6 halaman

Trump Mengeluarkan Cuitan

Saat ini, tentara AS masih menunggu konfirmasi kepastian kematian dari sidik jari dan metode biometrik lain.

Gedung Putih enggan memberikan pernyataan. Meski demikian, Presiden AS, Donald Trump sudah mengeluarkan cuitan.

" Sesuatu yang besar telah terjadi!" kata Trump.

2 dari 6 halaman

Kisah Budak ISIS, Dirudapaksa Saban Hari dan Dijual 20 Kali

Dream - Ini kisah tentang Hayfa Adi. Remaja yang pernah menjadi budah kelompok teroris, ISIS. Dia diculik di utara Irak. Kala itu, usianya masih sangat belia, baru 17 tahun.

Sejak penculikan 2014 itu, hari-harinya penuh nestapa. Selama dua tahun tak ada hari tanpa rudapaksa. " Persis, seperti domba," kata Hayfa, dikutip dari ABC.net, Rabu 11 September 2019.

Hayfa kini tinggal di Queensland, Australia. Tapi terkadang, ingatan saat di kampung halamannya muncul kembali.

Sang putra sulung, yang masih balita, kerap bertanya kehadiran sang ayah, Ghazi Lalo. " Sangat sulit, sangat sulit bagi kita semua," kata dia.

Bungsu mereka tidak pernah mengenal ayahnya. Dia dilahirkan di penangkaran ISIS.

" Dia tampak seperti ayahnya - matanya, mulutnya. Ketika aku melihatnya, aku merasa seperti suamiku bersamaku," kata dia.

" Kami hanya harus menemukan cara untuk bertahan hidup."

3 dari 6 halaman

Cerita Penculikan Bermula

Mantan budak ISIS, Hayfa Adi (Foto: ABC)© ABC

Mantan budak ISIS, Hayfa Adi dan putranya (Foto: ABC)

Hayda dan keluarga hancur dalam genosida ISIS terhadap orang-orang Yazidi di Irak utara dan Suriah.

Sebanyak 7.000 anggota etnis minoritas ini terbunuh dan 3.000 hilang.

Hayfa mengaku diculik ISIS saat sedang hamil tua. Dia berada di kediamannya, di desa Kocho, bersama Ghazi dan putra sulung mereka.

" Aku sudah membuat makan siang dan kami siap makan. Sekitar tengah hari, ada yang mengetuk pintu," kata dia.

Ketukan itu berasal dari paman Ghazi. Sang paman berlari dan menyebut bahwa ISIS sudah di Kocho. Kampungnya.

4 dari 6 halaman

Suami dan Tawanan Lain Dibawa ke Gedung Sekolah

Mantan budak ISIS, Hayfa Adi (Foto: ABC)© ABC

Mantan budak ISIS, Hayfa Adi (Foto: ABC)

Militan ISIS menggiring, 1.200 penduduk kampung itu gedung sekolah setempat. Mereka diminta memeluk keyakinan yang sama dengan para anggota ISIS tersebut.

" Setelah itu mereka membawa orang-orang itu. Kami tidak tahu ke mana militan ISIS membawa mereka," kata dia.

Saksi mata mengatakan, kepada PBB, orang-orang itu dibawa pergi dan ditembak.

Tapi, bagi Hayfa, harapan itu tetap dipegang teguh: suaminya selamat dan dapat kembali bersama keluarganya.

5 dari 6 halaman

Dirudapaksa

Agustus 2014. Tanggal itu diingat betul Hayfa dan gadis Yazidi lainnya.

Selama lebih dari dua tahun, Hayfa diperdagangkan di antara militan di Irak dan Suriah, dibeli dan dijual kembali. Dipaksa mempertontonkan bagian vitalnya.

Hayfa berulang kali dirudapaksa. Tetapi, ketakutan terbesarnya yaitu kehilangan anak-anaknya.

" Mereka mengambil putra tertua saya selama satu bulan karena saya tidak tidur dengan penculik saya," kata dia.

 

6 dari 6 halaman

Lolos Karena...

Hayfa dan putra-putranya akhirnya melarikan diri dari ISIS ketika mertuanya membayar penyelundup untuk membeli kebebasannya.

Mereka tiba di Toowoomba, Queensland dengan visa kemanusiaan 2018. Dia bergabung dengan komunitas Yazidi yang berkembang dengan lebih dari 800 orang.

Anak-anak lelaki pergi ke taman kanak-kanak dan sekolah setempat, dan Hayfa belajar bahasa Inggris di TAFE.

" Saya sangat nyaman di sini bersama anak-anak saya," katanya.

" Yang paling penting adalah kehidupan anak-anakku, bukan hidupku. Dan tentu saja jika suamiku kembali, hidupku akan benar-benar hebat."

Beri Komentar