Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Sejumlah negara menerapkan penutupan baik total maupun sebagian untuk menghentikan penyebaran virus corona. Bahkan beberapa menetapkan masa penutupan tak terbatas karena penularan wabah Covid-19 yang tak bisa diperkirakan.
Bagi yang bertanya kapan 'penguncian diri' ini berakhir, sebuah penelitian baru-baru ini mungkin akan menuntut kamu lebih banyak bersabar. Penelitian yang dimuat dalam jurnali ilmiah The Lancer menyatakan penyebaran virus Covid-19 hanya akan berakhir jika telah ditemukan vaksinnya.
Dikutip dari The Star, penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal itu menyatakan penguncian yang dilakukan di China memang efektif pada gelombang pertama Covid-19. Namun para ahli memperingkatkan kemungkinan gelombang kedua yang lebih berbahaya.
Gelombang kedua ini bisa saja terjadi jika para ahli tak kunjung bisa menemukan vaksin untuk melemahkan virus corona dari penyajik Covid-19.
" Tanpa adanya vaksin terhadap Covid-19, kasus-kasus baru akan terus muncul dengan beroperasinya kembali bisnis-bisnis, pabrik, sekolah, layanan publik dan lainnya. Hal ini akan meningkatkan percampuran sosial," demikian hasil penelitian tersebut.
Studi tersebut juga mengungkapkan apabila lockdown di China berakhir terlalu cepat, jumlah kasus juga akan meningkat secara drastis. Ketua Tim Peneliti, Prof. Joseph T Wu dari University of Hongkong, mengatakan strategi social distancing dan restricted movement adalah strategi terbaik sampai vaksin Covid-19 ditemukan.
Hingga saat ini, belum ada informasi apapun terkait vaksin yang tersedia. Para peneliti masih mengembangkan dan melakukan percobaan untuk menemukan vaksin tersebut.
Inovio Pharmaceuticals dikabarkan akan melakukan penelitian dan pengujian vaksin buatan mereka untuk studi keamanannya pada bulan ini di Amerika Serkat, China, dan Korea Selatan.
Dengan atau tanpa vaksin, yang bisa dilakukan saat ini adalah berharap kepada Kementerian Kesehatan dan jajaran pemerintah. Juga mematuhi instruksi yang dikeluarkan.
Dream - Sejak pandemi Covid-19 merebak, berbagai versi masker untuk melindungi diri terhadap virus corona bermunculan, baik itu yang dibeli atau dibuat sendiri. Tapi seberapa efektif masker-masker ini?
Untuk mengetahuinya, seorang profesor dari Jepang membandingkan tiga jenis masker melalui percobaan sains.
Dalam percobaannya, Dr Tomoaki Okuda membandingkan tiga jenis masker yaitu masker bedah yang dibeli di toko, masker tisu toilet yang dibuat sendiri, dan masker kain yang juga buatan sendiri.
Profesor kimia terapan di Keio University itu mengukur seberapa baik ketiga masker dalam memblokir partikel di udara menggunakan alat bernama Scanning Mobility Particle Sizer (SMPS).
Cara kerja alat ini adalah selang pada SMPS menghisap udara di dalam ruangan dan mengukur konsentrasi partikel per sentimeter kubik.
Dalam eksperimennya, Okuda menyetel SMPS untuk mencari partikel udara seukuran virus, yang diperkirakan berdiameter antara 20 dan 100 nanometer.
Dia melilitkan tiga masker tersebut secara bergantian di sekitar lubang selang SMPS dan mengukur jumlah partikel udara yang bisa melewatinya.
Berikut hasil percobaan Okuda dalam mengukur keefektifan masker-masker dalam membendung semburan partikel udara seukuran virus.

Dengan masker bedah yang dibeli di toko, SMPS menunjukkan ada sekitar 1.800 partikel udara per sentimeter kubik yang lolos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masker bedah memiliki efisiensi pemblokiran sekitar 70 persen. Ini adalah tingkat pemblokiran yang tinggi untuk partikel seukuran virus.

Dengan menggunakan tiga tisu toilet yang dilipat menjadi dua, Okuda menguji 'masker' tisu toilet enam lapis. SMPS menunjukkan ada sekitar 1.000 partikel udara per sentimeter kubik yang lewat. Dengan efisiensi pemblokiran sekitar 80 persen, masker tisu toilet lebih efektif dalam menghalangi partikel seukuran virus dibandingkan dengan masker bedah.

Masker kain dibuat dari sapu tangan yang dilipat tiga kali memperlihatkan hasil yang sama dengan masker bedah. SMPS mengukur ada sekitar 1.800 partikel udara per sentimeter kubik yang lewat, dengan efisiensi pemblokiran sekitar 70 persen.

Selain itu, Okuda juga melakukan percobaan tanpa masker. Tanpa menutup selang SMPS dengan apa pun, alat mengukur ada sekitar 6.000 partikel udara per sentimeter kubik, yang berukuran antara 10 dan 150 nanometer.
Ini artinya jika kita berada di dekat orang yang terpapar virus, ada potensi banyak partikel virus yang akan kita hirup.
Melihat hasilnya, bisa disimpulkan bahwa mengenakan masker tampaknya bisa menurunkan kemungkinan terinfeksi virus.
Anehnya, masker yang dibuat dari sapu tangan memiliki keefektifan yang sama dengan masker bedah. Tetapi yang mengejutkan adalah masker tisu toilet ternyata lebih efektif dari semuanya.
(Sumber: Asia One)