Di Tengah Wabah Corona, Dua Pria Ini Malah Jual Masker Bekas Pakai

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 16 Maret 2020 13:12
Di Tengah Wabah Corona, Dua Pria Ini Malah Jual Masker Bekas Pakai
"Mengapa tak ada polisi?" kata seorang warganet.

Deram - Banyak orang tak bertanggng jawab memanfaatkan merebaknya virus corona jenis baru, Covid-19, untuk mengeruk keuntungan pribadi. Salah satunya dengan menjual masker bekas.

Penggunaan masker memang menjadi kebutuhan mendesak di tengah merebaknya penularan Covid-19. Dengan mengenakan masker, banyak orang berharap tidak tertular virus yang pertama kali muncul di Wuhan, China, tersebut.

Kondisi itulah yang dimanfaatkan oleh pria asal Selangor, Malaysia, berikut ini. Menurut laman World of Buzz, seorang netizen mengunggah foto dua orang yang diam-diam menimbun masker dalam jumlah banyak. Masker-masker itu dikeringkan di tempat terbuka, di bawah terik matahari.

Masker daur ulang

Masker daur ulang

Ini telah membuat banyak warganet berspekulasi bahwa satu-satunya alasan mengapa masker wajah ini dikeringkan di tempat terbuka adalah karena masker-masker itu telah dicuci, yang juga menyiratkan bahwa masker wajah sebelumnya digunakan oleh orang lain.

1 dari 6 halaman

Netizen yang mengomentari unggahan itu telah menduga bahwa masker wajah ini bisa dibuang dari rumah sakit sebelum dikumpulkan dan 'didaur ulang' untuk digunakan. Sementara yang lain bertanya-tanya mengapa polisi setempat tidak diberitahu tentang situasi tersebut.

" Daur ulang dari rumah sakit kemudian menjualnya ke masyarakat? Gitu amat cari duit," tulis seorang warganet.

Meski demikian, ada warganet yang menyarakan agar si pembuat unggahan menanyakan kepada dua pria tersebut maksud mencuci masker tersebut.

" Kenapa tak tanya ke mereka dulu sebelum membuat unggahan ini. Barangkali itu langkah yang tepat," kata warganet yang lain.

2 dari 6 halaman

Helm Ojol hingga Sajadah Masjid Potensi Tularkan Virus Corona

Dream - Wabah virus corona, Covid-19, membuat semua orang ekstra hati-hati dan menjaga kebersihan tubuh. Penularan Covid-19 tidak hanya terjadi dengan kontak langsung dengan orang yang sudah terinfeksi.

Barang yang digunakan secara umum, seperti alat makan di restoran, sajadah masjid, hingga helm ojek online, bisa menjadi media penularan virus corona baru tersebut.

" Jangankan helm ojol, sajadah masjid juga bisa berpotensi menularkan virus corona," kata Mohammad Syahril Mansyur, Dirut RSPI Prof dr Sulianti Saroso, di Jakarta, Jumat 13 Maret 2020.

Maka dari itu, disarankan untuk menggunakan barang pribadi untuk menghindari potensi penularan virus.

" Kalau bisa bawa sendiri, proteksi sendiri. Saya tidak mengatakan helm ojol bisa jadi penyebaran. Tapi, kalau penumpang yang lain batuk pilek kan virus bisa menempel," ucap dia.

3 dari 6 halaman

Jarak Droplet

Setidaknya, penggunaan hand sanitizer bisa membantu menjaga kebersihan tubuh. " Boleh menggunakan hand sanitizer setelah menyentuh helm. Tapi, sebaiknya dicuci ya," kata dia.

Meskipun penularan bisa terjadi di berbagai tempat, tapi dia tidak mendukung terjadinya panic buying. Masyarakat juga diminta tak mudah percaya kabar atau informasi palsu.

" Ada yang bilang penularannya lewat makanan, yang enggak seperti yang disebutkan. Penyebaran itu melalui droplet, jarak dropletnya 2-5 meter dari percikan," ucap dia.

4 dari 6 halaman

Terungkap! Awal Mula Virus Corona Covid-19 Muncul di China

Dream - Kasus pertama penyebaran virus corona, Covid-19, di China terungkap. Setelah ditelusuri kembali pemerintah China, kasus pertama penyebaran virus corona muncul pada 17 November 2019.

Dilaporkan South China Morning Post, pihak berwenang China sejauh ini mengidentifikasi setidaknya 266 orang terinfeksi novel coronavirus tahun lalu. Semuanya, berada di bawah pengawasan medis di beberapa titik.

Wawancara dengan whistle-blower dari komunitas medis menunjukkan bahwa dokter di China baru menyadari mereka sedang menghadapi penyakit baru pada akhir Desember 2019.

Para ilmuwan telah mencoba untuk memetakan pola penularan awal Covid-19 sejak epidemi dilaporkan di kota Wuhan di Cina tengah pada Januari 2020, dua bulan sebelum wabah.

Menurut data pemerintah China, penyebaran virus ini tak terdeteksi dan tak terdokumentasi. Pemerintah menduga seorang pasien berusia 55 tahun dari provinsi Hubei menjadi orang pertama yang terinfeksi Covid-19.

5 dari 6 halaman

Mulai Bertambah

Sejak tanggal itu dan seterusnya, satu hingga lima kasus baru dilaporkan setiap hari. Pada 15 Desember 2019, jumlah total infeksi mencapai 27 orang tiap harinya. Pada 17 Desember 2019 jumlahya meningkat hingga 60 orang perharinya.

Pada 27 Desember, Zhang Jixian, seorang dokter dari Rumah Sakit Pengobatan Terpadu Cina dan Barat China Provinsi Hubei, memberi tahu otoritas kesehatan China bahwa penyakit itu disebabkan virus corona baru.

Pada tanggal itu, lebih dari 180 orang telah terinfeksi, meskipun dokter mungkin belum mengetahui penyebabnya. Pada hari terakhir 2019, jumlah kasus yang dikonfirmasi telah meningkat menjadi 266. Di hari pertama 2020, jumlahnya mencapai 381.

Sementara catatan pemerintah belum dirilis ke publik, mereka memberikan petunjuk berharga tentang bagaimana penyakit ini menyebar di awal-awal penularannya. Banyak kasus yang dikonfirmasi telah dicatat Beijing.

6 dari 6 halaman

WHO Mencatatnya pada Desember 2019

Para ilmuwan sekarang ingin mengidentifikasi apa yang disebut pasien nol, yang dapat membantu mereka melacak sumber virus corona, yang umumnya dianggap telah melompat ke manusia dari hewan liar, mungkin kelelawar.

Dari sembilan kasus pertama yang dilaporkan pada November 2019, empat pria dan lima wanita, tidak ada yang dikonfirmasi sebagai `pasien nol`. Mereka semua berusia antara 39 dan 79 tahun.

Menurut situs laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kasus Covid-19 pertama yang dikonfirmasi di China adalah pada 8 Desember 2019. Namun, WHO tidak melacak penyakit itu sendiri, tetapi bergantung pada negara-negara untuk memberikan informasi tersebut.

Sebuah laporan yang diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet dari para dokter Cina dari Rumah Sakit Jinyintan di Wuhan, yang merawat beberapa pasien paling awal, menyebutkan tanggal infeksi pertama yang diketahui pada 1 Desember 2019.

Beri Komentar