Sejarah Peringatan Hari Solidaritas Hijab Dunia

Reporter : Sandy Mahaputra
Kamis, 4 September 2014 11:29
Sejarah Peringatan Hari Solidaritas Hijab Dunia
Puncaknya 10 tahun lalu di London, Inggris. Kala itu pemerintah di sana melarang mahasiswi mengenakan simbol keagamaan apa pun bentuknya, termasuk pemakaian hijab.

Dream - Tren muslimah mengenakan hijab terus meluas dan berkembang. Di Indonesia kita bisa dengan mudah menjumpainya di setiap tempat; mulai dari kampus, perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga di jalan raya.

Tapi kemudahan itu sempat tak bisa dirasakan muslimah di negara-negara Barat. Pemerintah di sana pernah mengeluarkan larangan berhijab di tempat umum.

Sampai akhir, larangan tersebut menuai aksi protes dari berbagai negara. Puncaknya 10 tahun lalu di London, Inggris. Kala itu, pemerintah di sana melarang mahasiswi mengenakan simbol keagamaan apa pun bentuknya, termasuk memakai hijab.

Sebelumnya, pemerintah Perancis juga melarang anak perempuan menggunakan hijab di sekolah. Di Turki, wanita yang mengenakan hijab tak boleh mendapatkan perawatan medis. Yang lebih parah terjadi di Tunisia, wanita yang ketahuan berhijab di tempat umum bakal dikenakan sanksi bui. 

Gelombang besar protes atas peraturan diskriminatif itu akhirnya melahirkan Konferensi London yang dihadiri 300 delegasi dari 102 organisasi di Inggris dan 35 negara lainnya, pada 4 September 2004.

Dari hasil pertemuan itu disepakati, mendukung serta mengizinkan wanita mengenakan hijab di tempat umum. Sejak keputusan itu dibuat, 4 September ditentukan sebagai International Hijab Solidarity Day (IHSD) atau Hari Solidaritas Hijab Dunia.

Perayaan IHSD pada intinya bertujuan menyemangati wanita di seluruh dunia agar tidak takut lagi menggunakan hijab di tempat umum. Selain itu memberikan dukungan bagi hijabers yang masih terintimidasi karena menggunakan hijab.

Nah, buat muslimah di Indonesia, tak ada salahnya ikut memberikan dukungan dengan mengenakan hijab di hari ini selama beraktivitas.

(Ism, Berbagai sumber: Arab News)

Beri Komentar