Penyesalan Terlambat Si Penjaga Villa kepada Majikan 'Angkuh'

Reporter : Sandy Mahaputra
Minggu, 20 Maret 2016 14:06
Penyesalan Terlambat Si Penjaga Villa kepada Majikan 'Angkuh'
Dia menganggap tuannya hanyalah orang kaya sombong yang tidak mau bergaul dengan orang miskin seperti dirinya. Tapi dugaan itu salah besar. Ia menangis saat tahu...

Dream - Kebanyakan orang menilai orang lain hanya dari penampilan atau perilakunya tanpa mencoba mengenalnya lebih mendalam.

Seperti pria yang menjadi penjaga villa seorang kaya raya yang dia anggap tak pernah menghiraukannya. Setiap kali dia menyapa saat membukakan pintu mobil atau pagar, tuannya itu hanya diam saja.

Dia menganggap tuannya hanya orang kaya sombong yang tidak mau bergaul dengan orang miskin seperti dirinya.

Sampai suatu hari ketika tuannya itu meninggal dunia, dia baru menyadari sesuatu yang membuatnya berlinang air mata.

Majikan pria itu punya mobil mewah dan dia bertugas untuk membukakan pintu pagar dan mobil. Setiap kali majikannya pulang, pria itu selalu menyapanya tapi majikannya hanya diam saja.

Satu hari, majikannya melihat penjaga villa tersebut membuka kantong sampah di luar villa untuk mencari makanan sisa. Tapi seperti biasa, tuannya hanya diam saja, seolah-olah tidak melihatnya.

Keesokan harinya penjaga villa itu melihat ada kantong di tempat kemarin dia membuka kantong sampah. Tapi kantong tersebut bersih dan ada berbagai jenis makanan yang terbungkus rapi di dalamnya.

" Makanan tersebut sepertinya baru dibeli dari supermarket dan sengaja disediakan untuk saya," kata penjaga villa itu. Tanpa ingin tahu dari mana asal kantong berisi makanan itu, penjaga villa tersebut mengambilnya dan dibawanya pulang. Dia benar-benar senang.

Setiap hari, penjaga villa itu menemukan kantong yang berisi penuh makanan di tempat yang sama. Dia membawanya pulang dan membagikannya kepada istri dan anak-anaknya.

" Saya tidak habis pikir, siapa orang bodoh yang selalu lupa dengan kantong berisi makanan tersebut," katanya.

Satu hari, penjaga villa diberitahu majikannya meninggal dunia. Banyak orang yang melayat dan penjaga villa itu tidak menemukan kantong makanannya lagi. Dia berpikir pasti salah satu pelayat itu yang mengambilnya.

Namun dia kembali tidak menemukan kantong makanan itu berhari-hari kemudian. Dia pun mulai kewalahan karena harus mencukupi kebutuhan makan keluarganya. Akhirnya dia memberanikan diri untuk minta naik gaji kepada istri majikannya atau dia berhenti bekerja di villa tersebut.

" Istri majikan saya kaget karena saya tidak meminta naik gaji selama dua tahun terakhir. Saya mengutarakan semua alasan saya tapi dia tidak percaya. Akhirnya saya cerita tentang kantong makanan yang setiap hari saya temukan di luar pagar villa."

Istri majikan penjaga villa itu kemudian bertanya sejak kapan kantong berisi makanan itu tidak ada. Penjaga villa menjawab sejak majikannya meninggal dunia. Dari sinilah, penjaga villa itu baru sadar bahwa selama ini yang menyediakan kantong berisi makanan itu adalah majikannya.

" Saya meminta maaf kepada istri majikan saya. Saya tidak tahu tahu bahwa majikan saya yang selama ini menyediakan makanan untuk saya dan keluarga," kata penjaga villa tersebut.

Sejak itu, penjaga villa selalu mendapat kiriman makanan dari keluarga mendiang majikannya. Kali ini makanan tersebut diantar langsung oleh anak majikannya ke rumahnya.

Seperti ayahnya, anak tersebut hanya diam saja ketika penjaga villa itu mengucapkan terima kasih. Satu hari, penjaga villa itu berteriak keras untuk mengucapkan terima kasih kepada anak majikannya.

Anak majikannya itu berbalik dan berkata, " Maaf, jangan tersinggung. Ayah tidak pernah menjawab sapaan atau teguran Anda karena Ayah bisu dan tuli, seperti saya juga."

Ternyata selama ini penjaga villa itu telah salah duga terhadap perilaku dan sikap majikannya. Selama ini dia benar-benar tidak memahami majikannya dan tidak pernah mencari tahu mengapa majikannya bersikap seperti itu.

(Sumber: Viral4real.com)

1 dari 3 halaman

Penyesalan Pendiri Perusahaan Jual Saham Ditukar Sepeda

Dream - Seorang pegawai negeri sipil pasti akan menyesal telah menjual saham perusahaan teknologi untuk sebuah sepeda. Kini, perusahaan itu telah menjadi raksasa dengan nilai 170 juta pound sterling.

Chris Hill-Scott diduga orang yang mau menukar saham dengan sebuah sepeda. Dia adalah salah satu pendiri perusahaan Swift Key.

Laporan The Times mengutip The Mirror menyebutkan Chris duduk sebagai jajaran direktur yang tampaknya jenuh menunggu perusahaan yang dirintisnya membesar. Diduga Chris juga tengan dililit masalah keuangan.

SwiftKey didirikan pada 2008 bersama dua orang temannya Jon Reynolds dan Ben Medlock. Chris sendiri memutuskan mengubah haluannya dengan menjadi seorang fotografer sebelumnya berlabuh menjadi pembuat website untuk pemerintah.

Tak disangka, bisnis SwiftKey ternyata dilirik perusahaan raksasa, Microsft. Mereka pun membeli SwiftKey seharga 174 juta pound sterling. Akuisisi terbesar dalam sejarah perusahaan teknologi Inggris.

Dari penjualan ini, Reynold dan Medlock disebut mendapatkan uang 25 juta pound sterling. Sementara Chris sendiri hanya mendapatan sebuah sepeda hasil penjualan saham yang diduga dibeli temannya itu.

Swiftkey sendiri mendulang sukses setelah dipasang dilebih dari 300 perangkat Ponsel setiap harinya.

Juru Bicara Swiftkey mengatakan, perusahaan ini memang didirikan oleh tiga orang, Chris adalah teman sekolah Jon sedangkan ben teman di univeritas.

" Dua bulan setelah mendirikan perusahaan, Chris memutuskan pindah. Jon dan Ben membeli sahamnya."

2 dari 3 halaman

Penyesalan Pilot AS Setelah Jatuhkan Bom Atom di Jepang

Dream - Menyesal. Itulah ungkapan perasaan Robert Lewis. Dia adalah pilot pesawat Enola Gay yang menjatuhkan bom atom ke Kota Hiroshima, Jepang, pada Agustus 1945.

Lewis, yang menjadi satu dari 12 orang di dalam pesawat pengebom itu, merasa sangat menyesal. Meski bom itu mampu mengakhiri Perang Dunia II, namun di benaknya selalu terbayang korban yang bergelimpangan akibat bom itu.

“ Berapa banyak rakyat Jepang yang telah kami bunuh,” tulis Lewis dalam surat yang ditujukan kepada Ayah dan Ibunya, seperti dikutip Dream dari News.com.au, Sabtu 2 Mei 2015.

Bom atom yang dijatuhkan oleh tentara AS ke Hiroshima memang berdampak luar biasa. Kota itu luluh lantak. Diperkirakan sekitar 140.000 manusia tewas. “ Tuhanku, apa yang telah kami lakukan,” tambah Lewis.

Salinan surat Lewis itu dilelang pada Kamis kemarin. Surat salinan itu laku US$ 50 ribu atau sekitar Rp 647 juta. Sementara surat aslinya telah laku pada 2002 silam dengan harga delapan kali lipat.

© News.com.au

Pada 6 Agustus 1945, pesawat Enola Gay yang dipiloti Lewis terbang dari North Field yang berjarak sekitar 6 jam penerbangan dari Jepang. Pesawat itu sampai di langit Jepang pukul delapan pagi waktu setempat dan kemudian menjatuhkan bom atom yang dikenal dengan nama “ Little Boy”.

© news.com.au

Hanya butuh waktu 43 detik bagi “ Little Boy” untuk sampai ke tanah Jepang setelah dijatuhkan dari ketinggian 30 ribu kaki atau sekitar 9.144 meter. Bom itu kemudian meledak. Area seluas 10 kilometer persegi luluh lantak.

Sebanyak 80 ribu manusia, atau sekitar 30 persen populasi Hiroshima kala itu, tewas seketika. Sementara 60 ribu lainnya tewas di tahun berikutnya akibat radiasi yang ditinggalkan bom itu.

© news.com.au

Dalam surat itu, Lewis memberikan sejumlah catatan. Menurut dia, bom atom yang dijatuhkan itu merupakan sukses besar. Dalam surat itu pula dia menulis pengalaman menjatuhkan bom itu tak pernah dialami oleh orang lain selain kru operasi itu. Meski demikian, penyesalannya tak pernah sirna.

“ Jika saya hidup seratus tahun, saya tidak pernah bisa melupakan peristiwa itu, walau beberapa menit, dari pikiran saya,” tulis Lewis.  Baca Juga: Meski Kekayaan Seribu Triliun, Bos IKEA Tetap Pakai Baju Loak Pangkat Boleh Bintara, Tapi Anak Buahnya Jenderal dan Kolonel Saat Tahu Istri Hamil oleh Orang Lain, Suami Justru Pilih... Penyesalan Wanita yang Cuma Lihat Harta pada Pria Kecelakaan, Pria Tewas Bersujud Menghadap Kiblat Detik-detik Pemuda Korbankan Nyawa Demi Sahabat

3 dari 3 halaman

Kisah Penyesalan Seorang Bankir Sukses

Dream - John Jerryson adalah seorang bankir yang sukses namun dia menyia-nyiakan hidupnya hingga akhirnya menyesali semuanya.

Lelaki 46 tahun yang tinggal di Australia ini merasa asing dengan dirinya sendiri bahkan keluarganya. Dia menyesali apa yang telah dilakukannya tapi lebih-lebih apa yang belum dilakukannya.

John merasa hidupnya seperti terbalik dan semua mimpi-mimpinya seakan telah lenyap. Hasil kerja kerasnya selama 26 tahun ternyata sia-sia.

Istrinya ternyata telah selingkuh dalam 10 tahun terakhir. Anaknya juga merasa asing dengannya. Tidak hanya itu, John juga tidak menghadiri pemakaman ayahnya. Cita-citanya untuk menulis buku, berkeliling dunia dan menolong orang-orang tak mampu juga tidak terwujud.

Semua itu disebabkan oleh egoisme untuk menjadi orang sukses.

Rutinitas yang ia jalani bagaikan sebuah robot. Berangkat jam 9 pagi, pulang jam 7 malam. Sampai di rumah, dia makan sebentar dan menyiapkan pekerjaan untuk esok harinya. Setelah itu dia tidur jam 10 malam. Kegiatan seperti itu dilakukannya selama 26 tahun tanpa melihat sekelilingnya.

Saat menulis kisahnya di sebuah forum, John sampai menitikkan air mata karena rasa penyesalan yang dalam. Jika saja John bisa bertemu dengan dirinya yang masih muda saat ini, mungkin sudah menonjoknya.

Semuanya diawali saat dia berusia 20 tahun. Saat masih muda, John adalah sosok yang inovatif, spontan, suka tantangan dan suka bergaul. Saat itu John sudah berpacaran dengan istrinya sekarang selama 4 tahun. Istrinya itu mencintai John yang penuh energi dan suka membuat orang tertawa.

Sebagai pemuda yang suka tantangan, John sudah berkeliling Selandia Baru dan Filipina. Dia berencana keliling seluruh Asia, Eropa dan Amerika. Kemudian, sebagai anak tunggal, John ingin hidupnya stabil secara ekonomi. Sejak mendapat pekerjaan itulah kehidupan John berubah dan berakhir dengan penyesalan.

John benar-benar mengabdikan diri pada pekerjaannya. Dia selalu sibuk dan sibuk dengan pekerjaan. Setelah pulang ke rumah, John makan malam. Kemudian mempersiapkan pekerjaan untuk esok harinya dan tidur. Paginya, dia bangun untuk memulai aktivitasnya. Semuanya dilakukan seperti sebuah robot tanpa mempedulikan lingkungan dan keluarganya.

Saat istrinya berterus terang telah selingkuh selama 10 tahun terakhir, John juga tidak merasakan kesedihan atau kemarahan.

Istrinya bilang John sudah berubah, tidak seperti dulu lagi. Saat menulis kisah ini, John pun sempat bertanya-tanya, apa yang dilakukannya selama ini di luar bekerja?

Jawabannya, tidak ada. Tidak menjadi seorang suami yang baik, bahkan menjadi dirinya seperti dulu sekalipun. Apa yang sudah terjadi terhadap pemuda yang energik dan suka tantangan yang ingin mengubah dunia ini?

Masih ingat tentang keliling dunia dan menulis buku? Itu semua dilakukan John di beberapa tahun pertama kuliahnya. Saat itu, John bekerja paruh waktu dan menghambur-hamburkannya.

Sekarang, John akan menyimpan setiap sen yang dia dapat. John bahkan sudah tidak ingat kapan dia menghabiskan uang untuk kesenangannya sendiri. Lagi pula, apa yang diinginkan dia sekarang?

Saat ayahnya sekarat, ibu John memintanya untuk datang. Tapi John lebih sibuk dengan dunianya. Saat itu John sedang dipromosikan oleh perusahaan.

John selalu menunda-nunda untuk mengunjungi ayahnya yang sakit, berharap dia dapat bertahan. Tapi ayah John akhirnya meninggal dunia sementara dia mendapat promosi. Selama bekerja, John sudah tidak pernah bertemu ayahnya selama 15 tahun.

Namun egoisme John sepertinya lebih tinggi dari rasa cinta terhadap keluarganya. Alih-alih merasa bersalah, John mengatakan pada dirinya bahwa tidak apa-apa tidak dapat jenazah ayahnya.

Sebagai seorang atheis, John merasa mati itu bukan masalah. Saat itu, segala hal didasarkan pada logika. Baginya, uang adalah yang paling penting.

Tapi John sekarang menyadari bahwa itu semua salah. John menyesal telah membuang energi sia-sia selama ini. John merasa semua harapan dan masa mudanya hilang.

" Aku menyesal pekerjaan telah menyita seluruh hidupku selama ini," katanya. " Aku menyesal menjadi suami yang buruk dan hanya menjadi mesin uang."

John juga sangat menyesal tidak hadir sebagai ayah bagi anaknya. John benar-benar sebuah dompet yang tidak berperasaan.

John ingin siapa saja yang membaca kisahnya untuk tidak menunda-nunda sesuatu, tidak lupa diri dan melupakan keluarga saat sudah sukses. Dan yang paling penting, jangan sia-siakan energi saat masih muda.

" Aku sadar bahwa aku membiarkan penundaan dan uang menggerogotiku dari mengejar gairah hidup ketika masih muda. Dan sekarang aku mati di dalam, tua dan lelah."

(Ism, Sumber: chrisandsusanbeesley.com)

Beri Komentar