Tunda Bayar Utang Padahal Sudah Mampu, Ini Mudharatnya

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 1 Juli 2019 20:01
Tunda Bayar Utang Padahal Sudah Mampu, Ini Mudharatnya
Menunda bayar utang termasuk perbuatan menzalimi orang lain.

Dream - Utang merupakan salah satu transaksi yang lazim terjadi di masyarakat. Transaksi ini mengikat individu dengan individu lainnya.

Namun demikian, utang rupanya bisa dijadikan tolok ukur kualitas seseorang dalam hubungan sosial. Bahkan hal ini disebutkan secara tegas oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam hadisnya yang diriwayatkan Imam Bukhari.

" Sesungguhnya sebagian dari orang yang paling baik adalah orang yang paling baik dalam membayar utang."

Sehingga, syariat menentukan ketika seseorang sudah dalam keadaan mampu, dalam artian sudah memiliki harta yang cukup baik uang dan lainnya, sebaiknya menyegerakan membayar utangnya.

Dikutip dari NU Online, sebisa mungkin pembayaran utang tidak ditunda jika seseorang sudah cukup mampu. Jika sampai terjadi penundaan, hal itu mengandung mudharat yaitu masuk kategori menzalimi orang lain.

Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW mengingatkan mudharat orang yang menunda membayar utangnya.

" Menunda-nunda membayar utang bagi orang yang mampu (membayar) adalah kezaliman."

 

 

1 dari 7 halaman

Haram Tunda Bayar Utang

Para ulama menyatakan hadis di atas membicarakan mengenai ketentuan penundaan pembayaran utang dalam kondisi mampu. Secara tegas, para ulama menghukuminya dengan haram.

Kecuali jika seseorang tidak memiliki uang yang cukup. Orang tersebut tidak termasuk dalam cakupan hadis ini.

Syeikh Badruddin Al 'Aini menjelaskan dalam kitabnya 'Umdah Al Qari Syarah Shahih Al Bukhari.

" Makna hadis di atas bahwa haram bagi orang yang cukup secara finansial melakukan penundaan membayar utang setelah tetapnya utang tersebut, berbeda halnya dengan orang yang belum mampu (membayar)."

 

2 dari 7 halaman

Kondisi Dibolehkan Tunda Bayar Utang

Pun demikian dengan orang yang sudah punya uang namun terkendala dalam menyerahkannya seperti uangnya di tempat jauh. Orang dalam kondisi ini dibolehkan menunda pembayaran utangnya namun tetap harus melunasi.

Demikian pula dengan orang yang sudah mampu namun utangnya belum jatuh tempo. Dibolehkan atasnya untuk menunda pembayaran utang sesuai jatuh tempo yang telah ditetapkan pemberi utang.

Tetapi, jika masa jatuh tempo dia dalam keadaan tidak mampu padahal sebelumnya punya uang, maka masuk golongan keteledoran. Kondisi ini tetap masuk kategori menzalimi orang lain.

Imam An Nawawi dalam Syaraf An Nawawi ala Muslim menerangkan persoalan ini.

" Menunda membayar utang bagi orang yang mampu adalah perbuatan zalim dan merupakan tindakan yang diharamkan. Sedangkan menundanya orang yang tidak mampu tidaklah dianggap zalim dan bukan perbuatan haram, berdasarkan mafhum dari hadits. Sebab ia dalam keadaan uzur (untuk membayar). Jika seseorang dalam keadaan tercukupi (untuk membayar utang), tapi ia tidak mampu untuk membayarnya karena hartanya tidak berada di tempat atau karena faktor yang lain, maka boleh baginya untuk mengakhirkan membayar utang sampai ia mampu membayarnya."

 

3 dari 7 halaman

Bahaya Akibat Tunda Bayar Utang

Menunda utang mengandung mudharat yang besar. Bahkan dalam pandangan Mazhab Maliki, orang yang melakukannya dinyatakan sebagai fasik dan dosa besar sehingga ucapannya terutama ketika bersaksi tertolak.

Sementara Mazhab Syafi'i sangat berhati-hati menghukumi penunda pembayaran utang sebagai fasik. Dalam pandangan mazhab ini, seseorang bisa dinyatakan fasik jika sudah berkali-kali menunda pembayaran utangnya padahal telah mampu. Demikian menurut padangan Imam An Nawawi.

" Ulama mazhab Maliki berbeda pendapat mengenai orang yang menunda membayar utang apakah ia dihukumi fasik dan tertolak kesaksiannya (di majelis hakim) dengan melakukan satu kali penundaan membayar utang, atau kesaksiannya tidak tertolak kecuali ia sampai mengulangi perbuatan tersebut secara berulang-ulang dan menjadi kebiasaannya? Berdasarkan analisis dalam mazhab kita (mazhab Syafi’i) disyaratkan berulang-ulangnya penundaan membayar utang (dalam melabeli fasik pada orang yang menunda membayar utang)."

Sumber: NU Online

4 dari 7 halaman

Bayar Utang Atau Sedekah?

Dream - Anjuran untuk menjalankan sedekah bagi umat Islam sudah banyak tersiar. Baik itu dari rekan, tetangga, ataupun para ustaz di sekeliling kita.

Pun dengan dalilnya, sangat banyak. Ada yang tertuang dalam Alquran, ada dalam hadis, apalagi pendapat ulama.

Namun demikian, sedekah merupakan satu dari sekian banyak urusan dalam hidup manusia. Lebih tepatnya berkaitan dengan rezeki dan kemampuan keuangan seseorang, meskipun bersedekah tidak melulu soal uang.

Tidak bisa dipungkiri, setiap orang berhadapan dengan beragam masalah dalam kehidupan mereka. Salah satunya berkaitan dengan persoalan keuangan.

Karena kebutuhan yang menuntut dipenuhi sementara seseorang tak punya uang, utang menjadi jalan alternatif menyelesaikan masalah. Mereka pun punya beban untuk mengembalikan pinjaman itu.

Utang dan sedekah, meski berbeda dalam banyak hal, keduanya adalah pengeluaran. Lantas, mana yang lebih baik didahulukan antara bayar utang atau sedekah? 

5 dari 7 halaman

Sedekahlah Jika Lapang

Dikutip dari NU Online, dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah Muhammad SAW bersabda demikian.

" Sedekah yang paling baik adalah melakukan sedekah dalam kondisi tercukupi, mulailah dari orang yang wajib kamu nafkahi."

Imam Bukhari memberikan penjelasan khusus mengenai lebih baik mendahulukan yang mana antara utang dengan sedekah.

" Bab menjelaskan tidak dianjurkannya sedekah kecuali dalam kondisi tercukupi. Barang siapa yang bersedekah, sedangkan dia dalam keadaan membutuhkan atau keluarganya membutuhkan atau ia memiliki tanggungan utang, maka utang lebih berhak untuk dibayar daripada ia bersedekah, memerdekakan budak, dan hibah. Dan sedekah ini tertolak baginya."

Penjelasan ini menerangkan begitu pentingnya melunasi utang. Bahkan sedekah bisa tertolak apabila seseorang masih memiliki beban utang yang belum dilunasi.

 

6 dari 7 halaman

Sedekah Bisa Haram Jika...

Para ulama fikih Mazhab Syafi'i menyatakan bersedekah ketika punya utang justru menyalahi kesunahan. Bahkan sedekah bisa jadi haram jika utang hanya bisa dilunasi dengan harta yang akan disedekahkan.

Hal ini seperti dijelaskan oleh Syeikh Khatib Asy Syirbini dalam kitabnya Al Mughni Al Muhtaj.

" Seseorang yang memiliki utang atau ia tidak punya utang namun berkewajiban menafkahi orang lain, maka disunnahkan baginya untuk tidak bersedekah sampai ia membayar tanggungan yang wajib baginya. Sebab bersedekah tanpa (disertai) membayar tanggungannya adalah menyalahi kesunnahan."

Berbeda jika utang bisa lunas dari harta lain, maka dibolehkan bersedekah. Selama utangnya belum sampai pada tanggal jatuh tempo pelunasan.

 

7 dari 7 halaman

Jika Harta Tak Mungkin Bisa Lunasi Utang

Namun demikian, jika harta yang dimiliki tidak memungkinkan untuk melunasi utang atau misalnya harta yang disedekahkan bernilai ringan atau remeh, maka sedekah tetap dianjurkan.

Syeikh Syamsuddin Ar Ramli dalam Nihayah Al Muhtaj memberikan penjelasan yang begitu terang mengenai hal ini.

" Keharaman ini tidaklah bersifat mutlak. Sebab tidak akan mungkin ada ulama yang berpandangan bahwa orang yang memiliki tanggungan, ketika ia bersedekah roti atau harta yang serupa, sekiranya ketika harta tersebut tetap maka ia tidak akan menyerahkan harta tersebut untuk pembayaran utangnya (karena terlalu sedikit), (tidak ada ulama yang berpandangan) bahwa menyedekahkan roti tersebut tidak disunahkan. Karena yang dimaksud (tidak sunahnya bersedekah ketika mempunyai utang) adalah menyegerakan untuk terbebas dari tanggungan lebih baik daripada melakukan kesunahan dalam skala umum."

(ism, Sumber: NU Online.)

Beri Komentar
Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup