Aroma Parfum yang Lagi Tren Ini Ternyata Bisa Bantu Tidur Lebih Nyenyak, Studi Ungkap Rahasianya
© Pexels.com/Halina KRPL
Reporter : Abidah
Penelitian menemukan bahwa minyak esensial yang dibuat dari akar Hinoki mungkin membantu seseorang tidur lebih lancar dan bangun dengan kondisi yang lebih segar.
DREAM.CO.ID - Aroma kayu yang lembut, bersih, segar, dan sedikit menyerupai hutan setelah hujan membuat Hinoki semakin banyak dilirik dalam dunia parfum. Kayu Hinoki atau cemara Jepang (Chamaecyparis obtusa) belakangan menjadi salah satu karakter aroma yang digemari dalam parfum dan produk wewangian, terutama karena memberikan kesan woody, tenang, elegan, dan natural. Kini, daya tarik aroma tersebut mendapat perhatian dari penelitian yang mengaitkannya dengan kualitas tidur.
Studi kecil dari Kyushu University, Jepang, menemukan bahwa minyak esensial yang dibuat dari akar Hinoki mungkin membantu seseorang tidur lebih lancar dan bangun dengan kondisi yang lebih segar. Penelitian yang diterbitkan pada 1 September 2026 dalam Journal of Wood Science tersebut menemukan bahwa paparan berulang terhadap aroma minyak akar Hinoki berkaitan dengan lebih sedikit terbangun pada malam hari, rasa lebih pulih pada pagi hari, serta perubahan gelombang otak yang mengarah pada proses masuk tidur yang lebih mulus.
Penelitian ini menarik karena bahan yang digunakan bukan berasal dari bagian Hinoki yang selama ini paling banyak diteliti. Hinoki merupakan pohon kayu penting di Jepang, tetapi bagian akarnya sering tertinggal dan kurang dimanfaatkan setelah penebangan. Padahal, akar tersebut mengandung senyawa aromatik yang dapat diekstraksi menjadi minyak esensial.
Associate Professor Kuniyoshi Shimizu dari Fakultas Pertanian Kyushu University mengatakan penelitian tersebut berangkat dari dua pertanyaan, yakni apakah produksi minyak esensial dapat memberikan nilai tambah pada akar Hinoki yang kurang dimanfaatkan dan apakah minyak tersebut dapat membantu meningkatkan kualitas tidur.
Jika penelitian sebelumnya dilakukan dalam kondisi yang menyerupai laboratorium dan hanya berlangsung satu hari, studi terbaru mencoba melihat efek penggunaan berulang dalam kondisi kehidupan sehari-hari. Para peneliti melibatkan 12 perempuan Jepang berusia 35–60 tahun. Setiap peserta menjalani dua periode pengujian: dua minggu menggunakan minyak esensial akar Hinoki dan dua minggu menggunakan bahan kontrol tanpa aroma.
Cara penggunaannya juga sangat sederhana. Sebelum tidur, peserta meneteskan tiga tetes minyak ke dalam cangkir kertas dan menghirup aromanya selama 10 detik. Cangkir tersebut kemudian diletakkan sekitar 30 sentimeter dari hidung dan dibiarkan berada di dekat tempat tidur sepanjang malam.
Untuk melihat perubahan tidur, peneliti tidak hanya mengandalkan pengakuan peserta. Mereka menggunakan ikat kepala untuk merekam gelombang otak, smartwatch untuk memantau tidur, serta kuesioner setiap pagi mengenai kualitas tidur dan kondisi setelah bangun.
Hasilnya menunjukkan beberapa perubahan yang menarik. Pada hari ke-13 penggunaan minyak Hinoki, peserta melaporkan rasa kantuk yang lebih rendah setelah bangun dan merasa lebih pulih dari kelelahan dibandingkan ketika menggunakan bahan tanpa aroma. Data smartwatch juga menunjukkan peserta lebih jarang terbangun pada malam hari.
Rekaman gelombang otak memberikan petunjuk lain. Setelah tujuh hari menggunakan minyak Hinoki, aktivitas gelombang delta meningkat di sekitar waktu peserta mulai tertidur. Pola tersebut konsisten dengan proses transisi menuju tahap tidur yang lebih dalam dan berlangsung lebih mulus.
Menariknya, peserta juga memberikan penilaian positif terhadap aromanya. Dibandingkan bahan kontrol tanpa aroma, Hinoki dinilai lebih menenangkan, nyaman, disukai, elegan, memiliki kesan nostalgia, dan berkarakter kayu.
Temuan ini sejalan dengan alasan aroma Hinoki semakin menarik dalam dunia parfum: karakter wanginya bukan sekadar “bau kayu”, tetapi memberikan kesan bersih, tenang, dan dekat dengan alam. Namun, popularitas Hinoki sebagai bahan parfum tentu tidak dapat dianggap sebagai bukti bahwa semua produk beraroma Hinoki otomatis memiliki efek yang sama terhadap tidur.
Peneliti juga melihat potensi lain dari temuan tersebut. Mengolah akar Hinoki menjadi minyak esensial dapat memberikan nilai ekonomi baru bagi material yang selama ini kurang dimanfaatkan setelah pemanenan kayu. Konsep serupa bahkan dapat diterapkan pada limbah kehutanan lainnya.
Meski hasil awalnya menjanjikan, penelitian ini masih sangat kecil karena hanya melibatkan 12 peserta. Penelitian lebih besar tetap diperlukan untuk mengetahui dosis yang tepat, cara penggunaan paling efektif, serta apakah manfaat tersebut konsisten pada kelompok masyarakat yang lebih luas.
Jadi, untuk saat ini, aroma Hinoki memang semakin populer sebagai karakter parfum yang memberikan kesan woody dan menenangkan. Penelitian terbaru menambahkan kemungkinan menarik: aroma khas cemara Jepang tersebut mungkin bukan hanya menyenangkan untuk dicium, tetapi juga berpotensi membantu tidur lebih nyaman.