Ingin Memperlambat Penuaan? Studi Ungkap Hal yang Mungkin Membantu dan yang Ternyata Tak Banyak Berpengaruh

News | Selasa, 13 Oktober 2026 10:00

Reporter : Abidah

Studi terbaru memberi petunjuk bahwa pola makan sehat, olahraga teratur, serta beberapa jenis obat mungkin memengaruhi tanda-tanda biologis penuaan.

DREAM.CO.ID - Penuaan memang tidak bisa dihentikan, tetapi para ilmuwan terus mencari cara untuk mengetahui apakah proses tersebut dapat diperlambat. Studi terbaru memberi petunjuk bahwa pola makan sehat, olahraga teratur, serta beberapa jenis obat mungkin memengaruhi tanda-tanda biologis penuaan. Sebaliknya, berbagai suplemen yang dijual bebas justru belum menunjukkan bukti kuat memberikan efek serupa.

Penelitian yang diterbitkan dalam Nature Medicine tersebut menganalisis biomarker epigenetik sebagai salah satu cara untuk melihat proses penuaan biologis. Berbeda dari usia kronologis yang dihitung berdasarkan tanggal lahir, usia biologis menggambarkan kondisi fisiologis tubuh dan dapat menunjukkan seberapa cepat seseorang mengalami perubahan terkait penuaan.

Para peneliti menggunakan apa yang disebut sebagai “jam epigenetik”. Alat ini membaca pola perubahan pada DNA, khususnya kelompok metil yang menempel pada DNA. Pola metilasi tersebut dapat berubah sepanjang kehidupan dan digunakan sebagai penanda untuk memperkirakan proses penuaan biologis.

Dalam penelitian ini, tim menggabungkan data dari 51 studi intervensi yang berkaitan dengan penuaan. Mereka mengamati lebih dari 110 biomarker metilasi DNA dan membandingkan responsnya terhadap berbagai pendekatan, mulai dari pola makan dan olahraga hingga obat-obatan serta suplemen yang dijual bebas.

Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup tertentu berkaitan dengan penurunan tanda penuaan epigenetik. Pola makan sehat, termasuk pola makan bergaya Mediterania serta diet rendah karbohidrat atau rendah lemak, menunjukkan efek terhadap sejumlah biomarker. Olahraga teratur juga tampak membantu mengurangi tanda-tanda penuaan biologis.

2 dari 3 halaman

Namun, efek paling besar secara rata-rata justru terlihat pada beberapa intervensi farmakologis. Metformin, obat yang umum digunakan sebagai terapi lini pertama diabetes tipe 2, semaglutide, obat golongan GLP-1 untuk diabetes tipe 2 dan pengendalian berat badan, serta terapi anti-TNF yang digunakan untuk mengendalikan peradangan, menunjukkan penurunan usia pada seluruh 16 biomarker jam epigenetik yang dianalisis.

Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti orang sehat sebaiknya mengonsumsi obat-obatan tersebut demi memperlambat penuaan. Şebnem Ünlüişler, Chief Longevity Officer dan genetic engineer di London Regenerative Institute yang tidak terlibat dalam penelitian, mengingatkan bahwa sebagian studi dilakukan pada kelompok pasien tertentu. Perubahan biomarker bisa saja berkaitan dengan membaiknya penyakit, peradangan, atau kesehatan metabolik, bukan karena obat tersebut secara langsung membalikkan proses penuaan.

Menariknya, suplemen yang dijual bebas memberikan bukti paling lemah dan tidak konsisten. Raghav Sehgal, PhD, penulis utama penelitian dari Yale University School of Medicine, mengatakan hal itu bukan berarti suplemen tidak berguna. Suplemen tetap dapat bermanfaat bagi orang yang mengalami kekurangan zat tertentu atau memiliki kebutuhan medis, tetapi klaim bahwa suplemen dapat memperlambat penuaan pada orang sehat masih lebih maju daripada bukti ilmiahnya.

3 dari 3 halaman

Para peneliti juga menekankan bahwa biomarker epigenetik bukanlah bukti langsung bahwa seseorang akan hidup lebih lama atau tetap sehat lebih lama. Sehgal mengatakan biomarker memungkinkan ilmuwan melihat perubahan biologis dalam hitungan bulan atau tahun, tanpa harus menunggu puluhan tahun untuk mengetahui apakah seseorang mengalami penyakit atau meninggal. Namun, perubahan tersebut tetap harus dibuktikan berkaitan dengan kesehatan dan umur panjang.

Untuk saat ini, langkah yang paling didukung bukti masih tergolong sederhana: tidak merokok, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, tidur cukup, menjaga berat badan, membatasi alkohol, serta mengendalikan tekanan darah, kolesterol, dan diabetes.

Dengan kata lain, penelitian ini memang membuka peluang baru dalam memahami penuaan, tetapi belum menghasilkan “obat awet muda”. Yang terlihat paling menjanjikan bukan satu pil atau suplemen ajaib, melainkan kombinasi kebiasaan hidup sehat yang sudah lama dikenal—sementara obat-obatan tertentu masih perlu diteliti lebih jauh sebelum dapat dianggap sebagai terapi untuk memperlambat penuaan.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id