10 Mitos Kesehatan yang Masih Banyak Dipercaya, Padahal Tidak Sepenuhnya Benar
© Pexels.com/Ron Lach
Reporter : Abidah
Beberapa mitos kesehatan yang bertahan selama puluhan tahun ternyata memiliki penjelasan yang lebih kompleks. Berikut sejumlah mitos yang masih sering dipercaya.
DREAM.CO.ID - Sejak kecil, banyak orang mungkin pernah mendengar berbagai nasihat kesehatan yang terdengar masuk akal. Minum delapan gelas air sehari, jangan berenang setelah makan, atau jangan keluar rumah ketika cuaca dingin agar tidak sakit. Karena disampaikan berulang kali oleh orang tua, teman, bahkan lingkungan sekitar, nasihat tersebut akhirnya dianggap sebagai fakta.
Padahal, perkembangan ilmu kesehatan menunjukkan bahwa sejumlah anggapan tersebut tidak selalu benar. Dilansir dari Healthline, beberapa mitos kesehatan yang bertahan selama puluhan tahun ternyata memiliki penjelasan yang lebih kompleks. Berikut sejumlah mitos yang masih sering dipercaya.
1. Harus Minum Delapan Gelas Air Sehari
Anjuran minum delapan gelas air atau sekitar dua liter per hari memang praktis sebagai pedoman, tetapi tidak memiliki dasar ilmiah bahwa setiap orang membutuhkan jumlah yang sama. Kebutuhan cairan dipengaruhi usia, berat badan, jenis kelamin, aktivitas, serta suhu lingkungan.
Rata-rata kebutuhan cairan pria usia 19–30 tahun sekitar 3,7 liter per hari, sedangkan perempuan sekitar 2,7 liter. Namun, angka tersebut mencakup cairan yang berasal dari makanan dan berbagai minuman, bukan hanya air putih.
2. Cuaca Dingin Membuat Seseorang Sakit
Keluar rumah saat cuaca dingin tidak secara langsung menyebabkan flu atau pilek. Penyakit tersebut disebabkan oleh virus.
Namun, musim dingin memang dapat meningkatkan penyebaran virus. Suhu yang lebih dingin dan kering dapat membuat beberapa virus lebih mudah bertahan, sementara manusia cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di ruang tertutup dan ramai. Jadi, yang menyebabkan penyakit adalah paparan virus, bukan udara dingin itu sendiri.
3. Sarapan Selalu Menjadi Waktu Makan Terpenting
Sarapan sering disebut sebagai waktu makan paling penting dalam sehari. Orang yang rutin sarapan memang cenderung memiliki kualitas pola makan yang lebih baik. Namun, penelitian belum membuktikan bahwa sarapan secara otomatis menyebabkan kesehatan seseorang menjadi lebih baik.
Yang lebih penting adalah kualitas makanan dan keseluruhan pola makan sepanjang hari. Bagi sebagian orang, sarapan bisa menjadi kebiasaan yang membantu memenuhi kebutuhan nutrisi, sementara bagi yang lain melewatkannya juga dapat menjadi pilihan selama kebutuhan gizi tetap terpenuhi.
4. Harus Berjalan 10.000 Langkah Sehari
Target 10.000 langkah sangat populer, tetapi angka tersebut bukan batas ilmiah yang menentukan seseorang sehat atau tidak. Penelitian terbaru menunjukkan sekitar 7.000 langkah per hari sudah berkaitan dengan penurunan risiko sejumlah penyakit, termasuk penyakit jantung, diabetes, kanker, demensia, dan depresi.
Karena itu, seseorang tidak perlu merasa gagal hanya karena belum mencapai 10.000 langkah. Meningkatkan aktivitas fisik secara bertahap tetap lebih penting daripada mengejar angka tertentu.
5. Membunyikan Buku Jari Menyebabkan Radang Sendi
Suara “krek” ketika membunyikan buku jari sering dianggap sebagai tanda bahwa kebiasaan tersebut merusak sendi. Namun, penelitian tidak menemukan hubungan antara membunyikan buku jari dan risiko arthritis atau radang sendi.
Suara tersebut berasal dari perubahan tekanan dan gelembung gas dalam cairan sendi. Penelitian juga menunjukkan kebiasaan tersebut tidak menyebabkan penurunan fungsi tangan secara signifikan.
6. Vaksin Flu Bisa Menyebabkan Flu
Vaksin flu suntik menggunakan virus influenza yang telah diinaktivasi sehingga tidak dapat menyebabkan influenza. Jika setelah vaksinasi seseorang mengalami nyeri pada lokasi suntikan atau merasa kurang enak badan, hal tersebut dapat merupakan respons sistem kekebalan tubuh.
Kemungkinan lain adalah seseorang sudah terpapar virus sebelum kekebalan dari vaksin terbentuk. Vaksinasi flu sendiri dapat menurunkan risiko mengalami influenza yang cukup berat dan membutuhkan penanganan medis.
7. Membaca dalam Kondisi Minim Cahaya Merusak Mata
Membaca dengan pencahayaan yang kurang dapat membuat mata cepat lelah atau mengalami ketegangan sementara. Namun, kebiasaan tersebut tidak terbukti menyebabkan kerusakan mata permanen.
Masalah penglihatan jangka panjang lebih banyak berkaitan dengan faktor seperti usia dan kondisi mata tertentu. Meski demikian, pencahayaan yang cukup tetap dianjurkan agar membaca terasa lebih nyaman.
8. Harus Menunggu 30 Menit Setelah Makan Sebelum Berenang
Nasihat agar tidak berenang setelah makan sudah lama beredar. Kekhawatirannya adalah pencernaan akan mengalihkan aliran darah sehingga otot mengalami kram dan meningkatkan risiko tenggelam.
Namun, American Red Cross menyatakan bahwa berenang dalam waktu satu jam setelah makan tidak terbukti meningkatkan risiko tenggelam. Risiko saat berenang justru lebih berkaitan dengan kondisi seperti infeksi yang ditularkan melalui air, kecelakaan, dan kurangnya pengawasan.
9. Urutan Minum Alkohol Menentukan Beratnya Hangover
Ungkapan seperti “beer before liquor, never been sicker” terdengar meyakinkan karena berima. Namun, urutan minuman bukan faktor utama yang menentukan beratnya hangover.
Jumlah alkohol yang diminum jauh lebih berpengaruh. Semakin banyak alkohol yang dikonsumsi, semakin besar pula kemungkinan mengalami hangover, terlepas dari apakah seseorang memulai dengan bir, wine, atau minuman beralkohol lainnya.
10. Tidak Bisa Hamil Saat Sedang Menstruasi
Peluang hamil ketika sedang menstruasi memang cenderung lebih rendah, tetapi bukan berarti mustahil. Waktu ovulasi dapat berbeda antara satu orang dan lainnya, terutama pada mereka yang memiliki siklus menstruasi lebih pendek.
Sperma juga dapat bertahan hidup di saluran reproduksi perempuan hingga sekitar lima hari. Jika ovulasi terjadi lebih awal, hubungan seksual menjelang akhir menstruasi tetap dapat berujung pada kehamilan. Karena itu, menstruasi tidak dapat dijadikan metode kontrasepsi.
Mitos kesehatan bertahan karena biasanya menawarkan jawaban sederhana terhadap persoalan tubuh yang sebenarnya kompleks. Padahal, kebutuhan setiap orang dapat berbeda dan ilmu kesehatan terus berkembang seiring munculnya penelitian baru.
Karena itu, penting untuk tidak langsung menerima nasihat kesehatan hanya karena sudah sering didengar. Periksa sumbernya, lihat bukti ilmiahnya, dan jika menyangkut kondisi kesehatan tertentu, konsultasikan dengan tenaga medis. Memahami fakta bukan berarti harus mencurigai semua nasihat lama, tetapi memastikan keputusan mengenai kesehatan didasarkan pada informasi yang paling dapat dipercaya.