Elektabilitas Gibran Disalip Muka Baru di Pilpres 2029
© 2026 Gibran Rakamubing Raka Dan Prabowo (Instagram @gibran_rakabuming)
Reporter : Okti Nur
Duduk di kursi wakil presiden, tetapi Gibran justru tercecer di bursa capres 2029—bahkan disalip muka baru.
DREAM.CO.ID - Elektabilitas Gibran Rakabuming Raka dalam sejumlah survei Pilpres 2029 menarik untuk diamati. Meski sedang menjabat Wakil Presiden, tingkat keterpilihan Gibran dalam bursa calon presiden (capres) tidak tinggi. Dia bahkan tercecer di bawah sejumlah tokoh.
Mari kita intip hasil jajak pendapat Media Survei Nasional (Median). Jajak pendapat ini dilakukan 10-14 Februari 2026, antara lain untuk memotret persepsi publik terkait keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace. Survei melibatkan 1.200 responden dari seluruh provinsi di Indonesia.
Hasil survei juga memotret elektabilitas sejumlah tokoh jika pilpres dilakukan saat itu. Dalam polling tersebut, elektabilitas Gibran dalam bursa capres hanya 2,6 persen. Putra sulung Jokowi itu jauh di bawah Prabowo dengan elektabilitas 29 persen. Baca juga: Elektabilitas Prabowo di Pilpres 2029 dalam Berbagai Survei.
Gibran juga di bawah Anies Baswedan dengan elektabilitas 20,6 persen dan Dedi Mulyadi 17 persen. Mantan wali kota Solo itu juga mengekor di belakang Ganjar Pranowo, AHY, hingga Purbaya yang relatif merupakan wajah baru di gelanggang politik nasional.
Posisi Gibran dalam bursa capres juga dipotret dalam survei Poltracking Indonesia. Polling 2-8 Maret 2026 ini melibatkan 1.220 responden di seluruh provinsi Indonesia dan dilakukan dengan wawancara tatap muka. Survei ini menggunakan metode multistage random sampling, dengan margin of error kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Jika pilpres dilakukan saat survei dilakukan, maka elektabilitas Gibran sebagai capres hanya 4,2 persen. Angka itu jauh di bawah Prabowo Subianto 32,9 persen, Dedi Mulyadi 13,5 persen, dan Anies Baswedan 9,2 persen. Gibran berada di urutan keempat.
Sedangkan, dalam survei terbaru Median, elektabilitas Gibran juga tak membaik. Jajak pendapat 21 Juli-2 Agustus 2026 yang dirilis pada 31 Agustus itu melibatkan 1.212 responden di 38 provinsi, dilakukan melalui wawancara tatap muka. Dalam simulasi terbuka (top of mind) –responden ditanya langsung calon yang akan dipilih dan tidak disodori daftar kandidat, elektabilitas Gibran sebagai capres hanya 2 persen.
Angka itu jauh jika dibanding Prabowo dengan elektabilitas 32,2 persen, Dedi Mulyadi 19,8 persen. Gibran bahkan tertinggal dari Sherly Tjoanda, tokoh yang relatif baru di panggung politik. Elektabilitas wanita yang menjabat Gubernur Maluku Utara sejak Februari 2025 itu sebesar 3,5 persen. Baca juga: Sherly Tjoanda, Nama Baru di Bursa Pilpres 2029
Elektabilitas Gibran tak banyak beranjak dalam simulasi semi terbuka –responden diberi daftar kandidat dan dipersilakan menyebut nama di luar daftar. Dalam simulasi ini, elektabilitas suami Selvi Ananda itu hanya 2,6 persen. Dia bahkan kalah signifikan dibanding Sherly Tjoanda dengan elektabilitas 4,1 persen.
Sementara, Prabowo masih jadi yang teratas dalam simulasi semi terbuka pada Survei Median itu, dengan elektabilitas 32,4 persen. Disusul Dedi Mulyadi dan Anies dengan 20,6 persen dan 20,5 persen.
Elektabilitas Gibran sebagai capres agak mendingan dalam survei SMRC. Dalam polling yang dilakukan 5-19 Juli 2026 itu dengan melibatkan 749 responden itu, Gibran berada di posisi keempat.
Elektabilitas Gibran dalam survei itu sebesar 7,7 persen.Posisi Gibran di bawah Dedi Mulyadi dengan 35 persen, Prabowo 14,5 persen, dan Anies 8,2 persen. Survei SMRC ini menggunakan simulasi semi-terbuka, dengan margin of error 3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Baca juga: Mengapa Elektabilitas KDM Bisa Kalahkan Prabowo?
Gibran ‘Gacor’ di Cawapres
Meski loyo di survei capres, elektabilitas Gibran “gacor” saat ditempatkan sebagai calon wakil presiden (cawapres).
Dalam survei Median yang dihelat Februari 2026 itu, elektabilitas Gibran di bursa cawapres mencapai 17,9 persen. Posisi itu disusul oleh Purbaya Yudhi Sadewa 10,2 persen, AHY 8 persen, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok 6,8 persen, Mahfud MD 5,8 persen, dan Anies Baswedan 5,2 persen.
Sedangkan pada polling cawapres Median yang digelar 21 Juli-2 Agustus 2026, Gibran bercokol di urutan pertama dengan elektabilitas 20,1 persen. Dia melibas nama-nama beken semacam AHY dengan elektabilitas 13,5 persen, Dedi Mulyadi 11,2 persen, Mahfud MD 7,9 persen, dan Anies Baswedan 6,6 persen.
Gibran juga bertengger di posisi satu dalam posisi sebagai cawapres dalam survei Poltracking 2-8 Maret 2026. Elektabilitas Gibran sebagai cawapres 26,8 persen. Angka itu dibuntuti oleh Dedi Mulyadi 8,9 persen dan Mahfud MD 4,3 persen. AHY, Anies Baswedan, Muhaimin Iskandar, Purbaya Yudhi Sadewa, mengekor di belakang.
Bukan Ukuran Mutlak
Namun, tingkat keterpilihan dalam survei itu bukan angka mati. Nilai elektabilitas itu hanya menggambarkan preferensi responden saat survei dilakukan. Angka tersebut tentu masih sangat terbuka untuk berubah. Apalagi hari pemilihan masih jauh, Pilpres 2029 masih tiga tahun lagi.
Potensi berubah masih terbuka lebar. Apalagi, dalam survei Poltracking Maret 2026, ada 28,8 persen responden belum menentukan pilihan untuk calon presiden. Angka ini lebih besar dibandingkan survei Median yang dihelat pada Februari 2026, yang mencatat 8,2 persen responden tidak tahu atau tidak menjawab.
Pada survei Median 21 Juli–2 Agustus 2026, ada 4,5 persen responden tercatat belum menentukan pilihan atau tidak tahu dalam simulasi semi-terbuka. Sementara survei SMRC yang berlangsung 5–19 Juli 2026 mencatat 12,8 persen responden tidak tahu atau tidak menjawab.
Angka-angka dalam berbagai jajak pendapat ini tidak bisa langsung dibandingkan sebagai tren karena metode dan format pertanyaan tiap survei berbeda.