Terlalu Banyak Minum Kopi Bisa Berdampak pada Kepadatan Tulang, Studi Menemukan
© Pexels.com/Muhammad Fawdyy
Reporter : Abidah
Penelitian terbaru menemukan hubungan menarik antara kebiasaan minum kopi, teh, dan kepadatan mineral tulang atau bone mineral density (BMD).
DREAM.CO.ID - Secangkir kopi pada pagi hari mungkin sudah menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. Ada yang meminumnya untuk mengusir kantuk, menemani pekerjaan, atau sekadar menikmati aromanya. Namun, jika satu cangkir berubah menjadi lima atau lebih setiap hari, muncul pertanyaan lain: apakah terlalu banyak kopi juga dapat memengaruhi kesehatan tulang?
Sebuah penelitian yang melibatkan hampir 10.000 perempuan berusia 65 tahun ke atas menemukan hubungan menarik antara kebiasaan minum kopi, teh, dan kepadatan mineral tulang atau bone mineral density (BMD). Setelah mengikuti para peserta selama sekitar 10 tahun, peneliti menemukan bahwa konsumsi teh berkaitan dengan kepadatan tulang panggul yang sedikit lebih tinggi. Sementara itu, konsumsi kopi dalam jumlah sedang tidak menunjukkan hubungan yang merugikan, tetapi konsumsi lebih dari lima cangkir per hari dikaitkan dengan BMD yang lebih rendah.
Kopi dalam Jumlah Sedang Tidak Terbukti Merusak Tulang
Temuan penelitian ini penting karena judul “kopi melemahkan tulang” bisa menimbulkan kesan bahwa semua konsumsi kopi berbahaya. Padahal, hasil penelitian tidak menunjukkan hal tersebut.
Dalam analisis utama, peneliti tidak menemukan hubungan yang signifikan secara keseluruhan antara konsumsi kopi dan BMD pada leher tulang paha maupun panggul. Analisis tambahan menggunakan model yang memungkinkan hubungan tidak berbentuk garis lurus kemudian menunjukkan bahwa konsumsi lebih dari lima cangkir kopi per hari mungkin berkaitan dengan BMD yang lebih rendah. Sebaliknya, konsumsi sekitar dua hingga tiga cangkir per hari tidak menunjukkan pola yang merugikan.
Dengan kata lain, penelitian ini tidak membuktikan bahwa secangkir atau dua cangkir kopi sehari akan membuat tulang menjadi rapuh. Temuan yang lebih perlu diperhatikan justru muncul pada konsumsi kopi yang sangat tinggi.
Peneliti juga menemukan bahwa hubungan antara kopi dan kepadatan tulang dapat dipengaruhi faktor lain. Misalnya, hubungan negatif antara konsumsi kopi dan BMD leher tulang paha terlihat lebih kuat pada perempuan dengan konsumsi alkohol sepanjang hidup yang lebih tinggi. Para peneliti menekankan bahwa hasil analisis subkelompok tersebut masih perlu dikonfirmasi melalui penelitian berikutnya.
Mengapa Kafein Dikaitkan dengan Tulang?
Salah satu penjelasan yang dibahas dalam penelitian adalah kandungan kafein pada kopi. Kafein telah lama diteliti karena kemungkinan pengaruhnya terhadap metabolisme tulang dan penyerapan kalsium.
Namun, efek kafein terhadap tulang tidak sesederhana anggapan bahwa minum kopi otomatis membuat tubuh kehilangan kalsium. Penelitian sebelumnya menghasilkan temuan yang beragam, dan dampaknya dapat dipengaruhi oleh pola makan serta asupan kalsium secara keseluruhan.
Karena itu, hasil penelitian terbaru lebih tepat dipahami sebagai sinyal bahwa konsumsi kopi dalam jumlah sangat tinggi mungkin perlu diperhatikan, bukan sebagai alasan bagi semua orang untuk berhenti minum kopi.
Teh Justru Menunjukkan Hubungan Positif
Menariknya, minuman yang sering dibandingkan dengan kopi dalam penelitian ini menunjukkan pola berbeda. Perempuan yang mengonsumsi teh memiliki BMD panggul total sedikit lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak minum teh.
Perbedaannya memang kecil. Nilai BMD rata-rata yang telah disesuaikan mencapai sekitar 0,718 gram per sentimeter persegi pada kelompok peminum teh, dibandingkan 0,715 gram per sentimeter persegi pada kelompok yang tidak minum teh. Selisihnya hanya 0,003 gram per sentimeter persegi, meski secara statistik signifikan.
Para peneliti menduga senyawa katekin, kelompok polifenol yang banyak terdapat dalam teh, mungkin berperan dalam mendukung pembentukan tulang dan memperlambat proses pemecahan tulang. Namun, penelitian ini hanya menunjukkan hubungan antara konsumsi teh dan BMD, bukan membuktikan bahwa katekin secara langsung menyebabkan tulang menjadi lebih padat.
Menariknya, hubungan positif antara teh dan kepadatan tulang tampak lebih kuat pada perempuan yang mengalami obesitas. Lagi-lagi, peneliti menyebut hasil subkelompok ini masih bersifat eksploratif dan perlu penelitian lebih lanjut.
Penelitian Berlangsung Selama 10 Tahun
Kekuatan penelitian ini terletak pada periode pengamatannya yang panjang. Peneliti menggunakan data Study of Osteoporotic Fractures (SOF) yang mencakup 9.704 perempuan berusia 65 tahun ke atas. Konsumsi kopi dan teh ditanyakan berulang kali, sementara kepadatan tulang di leher tulang paha dan panggul diukur menggunakan pemeriksaan yang sama-sama dilakukan secara berulang selama periode sekitar 10 tahun.
Meski demikian, penelitian ini merupakan studi observasional. Artinya, peneliti mengamati hubungan antara kebiasaan minum kopi atau teh dengan BMD, bukan memberikan kopi dalam jumlah tertentu kepada peserta lalu melihat apakah tulang mereka menjadi lebih kuat atau lebih rapuh. Karena itu, hasilnya tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa kopi secara langsung menyebabkan penurunan kepadatan tulang.
Jadi, Apakah Harus Berhenti Minum Kopi?
Tidak perlu buru-buru membuang kopi dari dapur. Pesan utama penelitian ini justru terletak pada moderasi. Konsumsi kopi dalam jumlah sedang tidak menunjukkan hubungan keseluruhan yang merugikan terhadap kepadatan tulang, sedangkan konsumsi lebih dari lima cangkir sehari mungkin berkaitan dengan BMD yang lebih rendah pada perempuan lanjut usia.
Di sisi lain, kesehatan tulang tidak ditentukan oleh satu jenis minuman. Asupan kalsium dan vitamin D, aktivitas fisik terutama latihan yang memberi beban pada tulang, kondisi kesehatan, usia, penggunaan obat tertentu, serta berbagai faktor gaya hidup turut berperan.
Jadi, bagi pencinta kopi, penelitian ini bukan alasan untuk langsung meninggalkan secangkir kopi pagi. Namun, jika konsumsi sudah mencapai lima, enam, atau bahkan lebih banyak cangkir setiap hari, temuan tersebut bisa menjadi pengingat untuk mengevaluasi kembali kebiasaan tersebut. Sementara itu, secangkir teh dalam rutinitas sehari-hari mungkin memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan tulang, meski penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan seberapa besar pengaruhnya.