Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Sushi
Dream - Setiap negara pasti memiliki makanan khas yang unik dan berbeda. Mulai dari rasa, jenis bumbu, bahan hingga pengolahannya. Begitu juga dengan makanan Asia dan Eropa (Amerika Utara dan Eropa Barat) yang secara alami berkembang sangat berbeda dalam banyak hal.
Makanan Asia dikenal memiliki cita rasa yang kuat dan punya banyak bumbu. Di benua ini, makanannya mengandalkan hasil laut, beras, bawang putih, bawang merah, kedelai, dan cabai.
Bersama bahan lainnya, bahan-bahan tersebut diolah dengan berbagai metode seperti digoreng, dikukus, dan disangrai, tergantung pada kebiasaan budayanya.
Sebaliknya, makanan Eropa lebih menonjolkan bahan-bahan dari produk unggas dan daging. Seperti halnya makanan Asia, makanan Eropa juga mengandalkan bumbu dan rempah, meski dalam ukuran dan jumlah yang lebih sedikit.
Pengaruh budaya sudah cukup mampu membedakan makanan di kedua benua itu, namun ada faktor yang lebih dalam yang menyebabkannya.
Menurut penelitian berjudul "Flavor Network and the Principles of Food Pairing" yang dipublikasikan di Scientific Reports tahun 2011, perbedaan rasa makanan di kedua benua itu disebabkan cara penduduknya dalam memasangkan bahan makanan saat memasak.
Dalam penelitian yang dipimpin oleh Yong-Yeol Ahn dan Sebastian Ahnert itu, keduanya menganalisis 381 bahan makanan yang digunakan di seluruh dunia dan 1.021 cita rasa yang terdapat pada bumbu. Mereka kemudian menghubungkannya sesuai dengan 'rasa' pada masing-masing bahan makanan yang dipasangkan.
© Dream
Setelah itu, mereka membandingkan informasi tersebut dengan 56.498 resep dari berbagai situs makanan Internasional. Hal ini dilakukan untuk menentukan budaya mana yang sering memasukkan bahan makanan atau bumbu dengan cita rasa yang berbeda.
Dalam satu diagram yang menggambarkan struktur jaringan rasa, Yong-Yeol dan Sebastian menjelaskan, "Setiap simpul menunjukkan bumbu, warna simpul menunjukkan kategori makanan, dan besar-kecilnya simpul mencerminkan prevalensi bumbu dalam resep,"
"Dua bumbu terhubung jika keduanya memiliki cita rasa yang sama, ketebalan garis mewakili kuatnya cita rasa di kedua bahan makanan atau bumbu tersebut."
Ternyata, setelah mengamati diagram tersebut, ditemukan bahwa makanan Barat cenderung memasukkan bahan makanan atau bumbu dengan cita rasa serupa secara bersama-sama dalam satu resep.
© Dream
Namun hal sebaliknya terjadi pada makanan Asia. Orang-orang di benua ini punya prinsip yang cukup unik saat memasak. Semakin banyak bahan makanan atau bumbu dengan rasa sama yang tersedia, semakin sedikit mereka akan menggabungkannya dalam masakan mereka.
Karena itu makanan Asia cenderung memiliki cita rasa yang kuat dan berbeda-beda, bahkan saling 'bertabrakan' satu sama lainnya. Sementara makanan Eropa lebih seperti mempertajam atau memperdalam rasa yang sudah ada.
"Makanan Eropa cenderung menggunakan 'pasangan' yang memiliki banyak rasa yang sama. Tapi masakan Asia cenderung menghindari bahan yang memiliki rasa yang sama. Penelitian ini membuka jalan baru untuk memahami praktik kuliner di setiap negara," bunyi laporan penelitian tersebut.
Sumber: Next Shark
Advertisement

Mengapa Ada Pusar Bodong dan Pusar Masuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Deforestasi Amazon Brasil Turun ke Level Terendah, Ini 5 Pelajaran yang Bisa Ditiru Indonesia

Cuma 10 Menit Olahraga Sehari Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak, Ini Temuan Peneliti

Sering Tersengat Listrik Saat Memegang Gagang Pintu? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

Apa yang Terjadi Jika Semua Hutan di Bumi Hilang? Bukan Cuma Hewan, Kehidupan Manusia Ikut Terancam

Buah Kalengan Ternyata Bisa Menyehatkan, tetapi Perhatikan 2 Hal Ini Sebelum Membelinya
