2 Tips Menteri Koperasi-UKM Buat Pebisnis Kecil Bertahan dari Pandemi Corona

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Rabu, 1 Juli 2020 07:48
2 Tips Menteri Koperasi-UKM Buat Pebisnis Kecil Bertahan dari Pandemi Corona
Apa saja?

Dream – Pandemi corona tak hanya mengancam bisnis pelaku usaha besar. Kesulitan ekonomi yang dipicu wabah virus Covid-19 ini juga membuat roda bisnis pengusaha mikro, kecil, dan menengah terganggu.

Mencegah pengusaha Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) gulung tikar, Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki memiliki dua tips yang bisa dijalankan para pengusaha kecil ini.

Dikutip dari Merdeka.com, dua ide menjaga keberlangsungan bisnis UMKM di tengah wabah corona adalah para pelaku UMKM harus berani manfaatkan penjualan secara daring. Terhubung dengan ekosistem digital akan memudahkan masyarakat untuk mengakses berbagai produk UMKM Indonesia.

" Dalam masa ini, UMKM yang bisa bertahan adalah UMKM yang terintegrasi dengan ekosistem digital. Tapi hanya 13 persen UMKM kita yang sudah ke digitalisasi," kata dia dalam webinar via Zoom.

Teten menjelaskan di masa pandemi ini masyarakat mulai membatasi pembelian secara langsung. Alhasil, pembelian secara online kini menjadi tren karena dinilai lebih aman dan praktis.

1 dari 6 halaman

Yang Kedua

Selanjutnya, pelaku UMKM di Indonesia harus lebih adaptif dalam menyikapi pandemi corona. Misalnya, mengalihkan produksi bisnis ke berbagai barang yang diperlukan konsumen saat ini.

" Seperti alih bisnis ke masker produksi masker atau barang lainnya yang menjadi trend. Artinya UMKM ini merespon permintaan pasar,” kata Teten.

Teten mendorong pelaku UMKM nasional mampu menerapkan kedua poin yang disampaikannya. Apalagi ia berujar jika Presiden Joko Widodo atau Jokowi menargetkan 10 juta UMKM dapat memanfaatkan penjualan secara daring di akhir tahun ini.

" Dua hal itu menjadi penting untuk digitalisasi terintegrasi dan bisnis adaptif. Supaya ke depan dapat memenuhi perubahan konsumen untuk belanja secara online," kata dia.

2 dari 6 halaman

Sebelum Cari Permodalan, 5 Langkah Ini Harus Dilakukan UMKM

Dream – Agar UMKM bisa naik kelas, ada dua hal yang diperlukan, yaitu permodalan dan pasar. Dengan permodalan yang kuat, usaha bisa meningkat ke kelas yang lebih tinggi.

Dikutip dari Liputan6.com, Senin 29 Juni 2020, ada lima hal yang perlu dilakukan UMKM sebelum mengakses modal. Pertama, menghitung kebutuhan modal berdasarkan rencana usaha, apalagi jika modal yang ingin diakses lebih dari Rp500 juta.

Pada rencana usaha, sejatinya tertuang target-target kinerja utama (Key Performance Indicator) yang ingin dicapai perusahaan, baik berupa tingkat omset atau pendapatan, margin laba, meningkatkan nilai aset, ataupun kapasitas produksi.

 

 © Dream

 

Kebutuhan modal semestinya dihitung berdasarkan kebutuhan perusahaan untuk bisa mencapai target-target tersebut. Misalnya, dalam 3 tahun ke depan, perusahaan ingin meningkatkan pendapatan usaha 10 kali lipat.

Untuk itu, jaringan distribusi perlu diperluas dari 100 menjadi 1500 mitra penjualan, sehingga kapasitas produksi pun mau tidak mau harus ditingkatkan agar dapat memasok ke 1500 mitra penjualan tersebut.

Kemudian, rincikan juga untuk menopang biaya tetap (overhead) untuk operasional usaha disebut operational expenditure (OPEX), umumnya mencakup gaji karyawan, air, listrik, internet, bahan baku, dan sebagainya.

3 dari 6 halaman

Kenali Ragam Akses Modal

Kedua, pelaku bisnis harus mengenal ragam akses modal. Jenis akses modal ada yang bersifat pinjaman (harus dicicil dan kembalikan).

Ada yang penanaman modal atau ekuitas (tidak perlu dikembalikan, tetapi berbagi kepemilikan dan pengendalian perusahaan).

Pinjaman atau kredit pun bermacam-macam jenisnya. Ada yang syariah dan konvensional. Ada kredit investasi (untuk membiayai kebutuhan capex), ada kredit modal kerja (untuk membiayai opex), ada juga kredit sebagai dana talangan berupa invoice financing.

Keseluruhan ragam dan akses modal ini perlu dipahami kekurangan dan kelebihannya. Kemudian, dikaitkan dengan kebutuhan spesifik perusahaan saat tertentu.

4 dari 6 halaman

Menghitung Aset dan Nilai Perusahaan untuk Negosiasi

Aset tidak sama dengan nilai perusahaan. Keduanya perlu dihitung dalam negosiasi dengan calon investor. Dalam praktik, penyedia dana pinjaman saat ini ada yang konservatif (memegang prinsip-prinsip baku tradisional dunia perbankan) dan ada yang lebih progresif.

Perbankan secara umum adalah yang konservatif. Dalam mengevaluasi permohonan kredit, nilai aset yang dievaluasi hanya aset tetap, khususnya berupa tanah dan bangunan. Mesin, bahkan kendaraan umumnya tidak diterima.

Sementara yang lebih progresif antara lain adalah perusahaan leasing yang memang kekhususannya di penyaluran kredit untuk membeli kendaraan, pegadaian (laptop pun bisa diterima untuk digadai atau dijaminkan walau valuasi atau penilaiannya bisa membuat pemohon pinjaman rada gigit jari, misalnya, gadai laptop cma dapat Rp1 juta).

5 dari 6 halaman

Diskusikan Detail Perjanjian dengan Calon Investor

Setelah tahu persis dengan aset perusahaan, dari aset tradisional sampai aset digital, yang berwujud sampai yang tidak berwujud, Anda akan tahu jelas bagaimana posisi tawar.

Terlepas dari bagaimanapun profil aset, penting untuk mengetahui aspek-aspek perjanjian yang penting sekali untuk diperhatikan, sebelum menandatangani perjanjian Kerjasama permodalan.

Untuk skema ekuitas, yang penting adalah besaran suntikan modal, saham yang diminta, dukungan non-finansial yang dapat diberi investor (seperti mentor ahli, teknologi, jaringan, dan lainnya).

Kemudian penempatan direksi atau komisaris oleh investor, dan prosedur tata kelola yang ingin diterapkan, khususnya terkait keuangan (apakah setiap pengeluaran memerlukan tanda tangan pihak investor dulu sebelum dikeluarkan, dan sebagainya).

6 dari 6 halaman

Evaluasi Biaya Modal

Semakin besar modal yang ingin diakses, umumnya semakin banyak pihak yang ingin ditemui agar bisa menambah referensi. Mengevaluasi biaya modal bunga pinjaman 12 persen per tahun apakah lebih mahal atau murah dibanding melepas saham 10 persen?

Ada kebebasan jika meminjam modal titik bank tidak menuntut laporan selama pembayaran cicilan lancar.

Jika melepas saham akan diminta laporan rutin tapi perusahaan juga justru bisa mendapat masukan dari mitra investor. Murah atau mahal nya tidak dapat dinilai dari biaya dan manfaat nominal uang saja aspek non uang juga perlu dievaluasi.

(Sumber: Liputan6.com/Tira Santia)

Beri Komentar