Apple (Foto: Shutterstock)
Dream - Banyak brand yang masih sering kita gunakan telah hadir sejak puluhan tahun lamanya. Sejarah di balik munculnya brand-brand tersebut juga banyak menyimpan cerita unik.
Tak sedikit juga brand yang dulunya menghasilkan produk yang sangat berbeda dengan produknya sekarang. Kisah-kisah tersebut dapat menjadi inspirasi bagi para pengusaha. Berikut 10 brand ternama di dunia.
Sharp

Nama Sharp yang berarti ‘tajam’ diambil dari barang pertama yang brand in hadirkan, yakni pensil mekanik. Perusahaan yang dibangun pada 1915 olehh Hayakawa Tokuji mengajukan hak paten atas pensil yang selalu tajam itu. Pada saat itu, ia baru berumur 21 tahun. Penjualannya di masa itu sukses besar.
Namun, gempa besar Kanto yang terjadi di tahun 1923 merusak pabrik alat tulis itu. Tokuji kemudian menjual hak paten pensil tersebut demi melunasi hutang. Ia melanjutkan produksi pensil di Osaka setelahnya. Di tahun berikutnya, ia mulai membuat radio. Di tahun kematiannya yakni 1981, Sharp telah dikenal sebagai perusahaan elektronik ternama.
Nokia

Perusahaan asal Finlandia ini sangat terkenal dengan ponselnya. Padahal sebenarnya perusahaan ini tidak memulai usahanya dengan memproduksi telepon genggam, namun sebagai produsen kertas.
Nokia memulai usahanya itu di tahun 1865 oleh seorang pria bernama Fredrik Idestam. Fredrik saat itu sangat yakin bahwa permintaan konsumen akan pulp atau bubur kertas akan semakin meningkat, sehingga ia membuka pabrik kedua dengan nama Nokia AB di tepi sungai Nokianvirta.
Perkembangan yang dialami Nokia membuatnya mulai memproduksi produk lain, seperti karet, kehutanan, dan barang-barang elektronik seperti kabel dan generator. Nokia mulai memasuki ke bidang ponsel ketika dikeluarkannya deregulasi industri terkait telekomunikasi Eropa pada tahun 1980-an.
Nokia kemudian menjadi inisiator pembicaraan telepon dengan sepenuhnya digital pertama di Eropa pada tahun 1982. Perusahaan ini terus berkembang dan banyak memproduksi jenis ponsel yang populer di masanya.
Apple

Steve Jobs sebagai founder Apple memiliki buah kesukaan, yaitu apel. Siapa sangka buah yang dijadikan nama perusahaannya itu kini menguasai pasar ponsel genggam. Steve Wozniak sebagai salah satu pendirinya pernah mencoba menggunakan nama lain seperti 'Executex' dan 'Matrix Electronic', namun nama 'Apple' tetap menjadi favorit mereka.
Canon

Perusahaan yang memproduksi produk optis, pencitraan, dan industrial awalnya bernama Precision Optical Instrument. Didirikan pada tahun 1934, nama perusahaan itu berganti menjadi Kwanon di tahun yang sama ia didirikan. Nama itu memiliki arti perusahaan yang bekerja dengan peralatan canggih untuk menghasilkan produk kelas atas. Kwanon diambil dari nama seorang Dewi pengampun dalam agama Buddha.
Asus

Nama Asus diambil dari Pegasus, kuda terbang dalam mitologi Yunani Kuno. Nama tersebut memiliki arti sebagai wujud dari kekuatan, kemurnian, dan jiwa berpetualang seperti halnya dengan Pegasus.
Namun ada hal unik lainnya mengapa perusahaan ini hanya mengambil kata ‘Asus’ dari kata ‘Pegasus’, yaitu agar mereka ditempatkan di bagian awal pada daftar perusahaan karena nama perusahaan mereka berawal dari huruf ‘A’.
Bluetooth

Nama perusahaan ini diambil dari nama seorang raja Denmark di akhir abad ke-10, Harald Blatand, yang memiliki julukan Harald Bluetooth di Inggris. Julukan tersebut diberikan karena giginya yang berwarna gelap membiru. Di masa itu, Harald berhasil menyatukan suku-suku yang tengah berperang,termasuk suku yang berada di wilayah Norwegia dan Swedia.
Kemampuan sebagai pemersatu suku itu mirip seperti kegunaan Bluetooth, yakni sebagai penghubung berbagai alat, seperti komputer dan ponsel. Logo Bluetooth diambil dari 2 huruf Jerman yang analog, yaitu huruf H dan B, melambangkan nama Harald Bluetooth.
Nintendo

Bukan memproduksi video game, perusahaan ini awalnya menjual kartu buatan tangan. Nintendo memiliki arti yaitu ‘meninggalkan keberuntungan di surga’. Di tahun 1953, Nintendo merupakan perusahaan pertama di Jepang yang memproduksi kartu bermain dari plastik.
Di akhir tahun 60-an dan awal 70-an, Nintendo seakan dipaksa masuk ke pasar video game elektronik untuk bertahan hidup. Konsol permainan video pertama mereka adalah ‘Magnavox Odyssey’. Game tersebut yang membawa nama mereka naik.
Suzuki

Siapa sangka perusahaan yang terkenal di bidang otomotif ini memulai bisnisnya dengan menjual mesin tenun dengan sistem pedal. Seperti namanya, pendiri dari perusahaan ini adalah Michio Suzuki, Ia memproduksi mesin yang terbuat dari kayu itu di bawah naungan Suzuki Loom Works.
Produk hasil kreativitasnya itu laris manis hingga ia mengekspor produknya. Namun, permintaan produknya itu semakin sedikit. Suzuki pun mempertimbangkan untuk masuk ke dunia otomotif, melihat di Jepang kala itu banyak yang menggunakan mobil impor tapi belum memuaskan selera pasar. Suzuki berhasil membuat sebuah prototype mobil pertamanya yang dibuat berdasarkan mobil Eropa, Austin Seven di tahun 1938.
Volvo

Nama perusahaan yang populer ini diambil dari bahasa Latin ‘Volvere’, yang berarti ‘saya berputar’. Nama tersebut bukan dimaksud untuk mengartikan sebuah roda yang berputar, melainkan berarti sebuah mesin ball bearing. Perusahaan Swedia ini awalnya memproduksi ball bearing untuk AB SKF antara tahun 1915 dan 1924.
Namun kemudian perusahaan ini beralih menjadi produsen mobil. Dibutuhkan 3 tahun hingga akhirnya mobil pertama Volvo berhasil dibuat di Hisingen, Gotebor. Mobil tersebut menjadi awalan perusahaan ini terkenal dan mendunia.
Samsung

Awalnya, Samsung merupakan sebuah perusahaan dagang kecil yang menjual ikan kering, mie, dan makanan lokal. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1938 oleh Lee Byung-Chull dengan nama Samsun Sanghoe. Semakin berkembang, perusahaan ini pindah ke Seoul di tahun 1947.
Namun, perang Korea saat itu memaksa Lee untuk pindah dari Seoul. Ia pun kemudian memulai bisnis penyulingan gula di Busan. Samsung terus mencoba peruntungan di berbagai industri dan masuk ke pasar elektronik di tahun 1960-an. Kini, perusahaan itu menjadi perusahaan teknologi informasi terbesar ke-2 di dunia, berdasarkan pendapatan pada 2015.
Laporan : Erdyandra Tri Sandiva