Demi Usaha Ayah, Dua Gadis Ini Nyamar Jadi Pria

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Senin, 28 Januari 2019 07:30
Demi Usaha Ayah, Dua Gadis Ini Nyamar Jadi Pria
Mereka berusaha agar pangkas rambut sang ayah tidak gulung tikar.

Dream – Dua bersaudara ini akan melakukan apa pun untuk mempertahankan bisnis cukur rambut sang ayah. Termasuk, rela menyamar sebagai lelaki untuk menjadi pemangkas rambut. “ Peran” itu sudah dilakukan selama empat tahun.

Dikutip dari Oddity Central, Minggu 27 Januari 2019, empat tahun yang lalu, ayah mereka sakit. Kondisi ini membuat Jyoti Kumari dan Neha dari Banwari Tola, India, mengambil alih usaha ayahnya sejak 2014. Sang ayah terkena lumpuh dan membuatnya terus terbaring di tempat tidur.

Jyoti dan Neha kala itu berusia 13 tahun dan 11 tahun. Mau tak mau mereka menjadi pemangkas rambut karena lapak itu menjadi satu-satunya sumber pendapatan keluarga.

Pada awalnya, tempat pangkas rambut itu tutup. Setelah tabungan keluarga menipis, Jyoti dan Neha membukanya dan menjalankannya sendiri.

Jyoti dan Neha menyamar sebagai pria.© Gulf Times

Jyoti dan Neha (Gulf Times)

Awalnya, mereka tidak menyamar sebagai lelaki. Namun mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan dari para pelanggan. Malah, ada yang memperlakukannya dengan buruk.

Karena itulah, Jyoti dan Neha menyamar sebagai pria. “ Ini memang pekerjaan yang sulit tetapi kami tidak punya pilihan juga. Jadi kami mengubah diri kami [terlihat] seperti anak laki-laki,” kata Jyoti.

Dia dan Neha juga mengubah namanya menjadi lelaki dan berpakaian seperti anak laki-laki. Gaya rambut dan perilakunya juga menyerupai anak laki-laki.

“ Kalau tidak melakukan ini, keluarga saya akan mati kelaparan,” kata dia.

1 dari 2 halaman

Ganti Nama, Jadi Siapa?

Gadis-gadis remaja ini memotong rambut mereka dan mulai memakai gelang stainless steel yang biasa dikenakan oleh para pria. Jyoti dan Neha mengganti namanya menjadi Deepak dan Raju.

Sebagian besar orang di desa mengetahui identitas asli mereka, tetapi pria dari komunitas sekitar tidak tahu bahwa mereka benar-benar perempuan.

Penyamaran memungkinkan gadis-gadis untuk menjaga pangkas berjalan dan menghasilkan sekitar 400 rupee (Rp79.085) per hari.

Penghasilan ini cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka, membayar untuk perawatan ayah mereka dan melanjutkan studi mereka.

Beberapa orang di desa terus mengejek mereka karena menyamar sebagai pria, tetapi kedua saudari itu mengabaikan mereka dan fokus pada pekerjaan mereka. Jyoti dan Neha tak punya pilihan lain.

Beruntung, keduanya berhasil menyembunyikan identitas aslinya. Seiring berjalannya waktu, Jyoti dan Neha menjadi lebih percaya diri dan mulai mengungkapkan rahasianya kepada banyak orang.

Sekarang kami telah mendapatkan kepercayaan diri yang cukup dan tidak takut pada siapa pun. Mayoritas orang mengetahui bahwa kami perempuan,” kata dia.

2 dari 2 halaman

Diapresiasi

Setelah kisahnya diangkat ke media massa, Jyoti dan Neha mendapatkan pujian dari banyak pihak, termasuk otoritas lokal. Mereka diapresiasi karena tekad baja dalam menghadapi kesulitan.

Seorang pejabat lokal, Abhishek Pandey, salut kepada perjuangan Jyoti dan Neha. Abishek mengatakan keduanya tak terpengaruh ejekan yang datang dari masyarakat dan menyebut kisahnya pantas mendapatkan penghargaan.

“ Mereka membawa tanggung jawab keluarga di pundak mereka dan mengatur mata pencaharian bagi orang tua mereka, menantang segala rintangan. Mereka adalah [contoh] brilian dari pemberdayaan perempuan dan kami telah merekomendasikan kepada pemerintah negara bagian [agar mereka mendapatkan] hadiah yang sesuai,” kata dia.

Ayah Jyoti dan Neha, yang mulai bisa berjalan lagi, bangga kepada anak-anaknya. “ Saya bangga kepada mereka,” kata dia. 

Beri Komentar