Dian Pelangi, Pembaharu Mode Muslimah Dunia

Reporter : Dwi Ratih
Rabu, 11 November 2015 19:42
Dian Pelangi, Pembaharu Mode Muslimah Dunia
September silam, wanita dengan setumpuk prestasi ini dinobatkan sebagai disainer paling berpengaruh di dunia mode oleh majalah Inggris.

Dream - Ada yang unik pada sampul majalah The Business of Fashion (BoF) yang terbit September silam. Majalah fesyen ternama asal London, Inggris, itu menampilkan delapan karakter kartun. Salah satunya perempuan berhijab. Siapa dia?

Sosok itu adalah Dian Pelangi. Disainer busana hijab asal Indonesia. Pada edisi cetakan ke lima itu, majalah BoF memasukkan Dian ke dalam daftar 500 tokoh paling berpengaruh di dunia fesyen. Dian dinobatkan sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia mode muslim.

Perempuan bernama asli Dian Wahyu Utami ini dianggap punya pengaruh kuat secara digital terhadap tren busana muslim. Wanita kelahiran Palembang, 14 Januari 1991 itu juga disebut telah “ mendobrak” batas-batas tradisional untuk menciptakan busana muslimah yang lebih modern.

“ Merupakan suatu kebanggaan tersendiri melihat ada bendera Indonesia tampil di daftar tokoh fesyen yang berpengaruh di dunia, khususnya kategori fesyen desainer,” kata Dian, bersyukur atas penghargaan ini.

Dan di sampul majalah itu, Dian berada di barisan paling depan. Berjajar dengan Kevin Systrom, co-founder Instagram. Di belakangnya ada ikon Korean Pop (K-Pop), G Dragon; disainer kondang asal Prancis, Olivier Rousteing.

Ada pula model asal Amerika Serikat, Gigi Hadid; penyanyi dan model asal Korsel, Park Yoo-chun; model asal AS, Lucky Blue Smith; serta supermodel dari India, Bhumika Arora. Dan Dian menjadi satu-satunya tokoh berpengaruh yang berhijab dalam daftar itu. Dian menjadi satu-satunya tokoh berhijab yang masuk dalam daftar itu.

Dian Pelangi, Pembaharu Mode Muslimah Dunia© dream

“ Menjadi satu-satunya yang berhijab, saya tidak merasa mewakili diri saya. Saya merasa seperti mewakili semua muslimah di dunia. Alhamdulillah tahun berkarya masih diapresiasi,” tulis Dian di akun Instagram.

1 dari 2 halaman

Tumpukan Prestasi

Prestasi Dian pantas diapresiasi. Dalam usia yang sangat muda, Dian sudah menjadi disainer ulung. Istri Tito Haris Prasetyo ini sudah menampilkan busana hijab rancangannya ke atas catwalk bergengsi dunia.

Bakat Dian di bidang fesyen terlihat sejak kecil. Ketika anak-anak, dia gemar menjahit baju boneka mainannya. Saat masih di sekolah dasar, dia sangat suka melakukan mix and match baju boneka itu.

Merasa memiliki bakat, Dian kemudian belajar mode. Setelah lulus Sekolah Menengah Kejuruan, Ecole Superieur des Arts et Techniques de la Mode (ESMOD), Jakarta, menjadi pilihan untuk memperdalam pengetahuan tentang mode.

Dia lulus dari sekolah mode itu tahun 2008. Setelah itulah dia benar-benar terjun ke industri mode. Dian resmi meneruskan bisnis fesyen milik keluarga yang telah dirintis kedua orangtuanya sejak 1998.

Dian memang tinggal meneruskan usaha keluarga. Tapi bukan berarti tak punya modal kemampuan. Saat pertama kali menjadi nahkoda bisnis itu, Dian punya visi jelas. Harus mengubah pola pikir masyarakat yang menilai busana hijab sebagai mode kuno.

Tekad itu sungguh besar. Pada 2009, dia bergabung dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Dan pada tahun yang sama, dia ikut fashion show di Melbourne, Australia. Kala itu, usianya baru menginjak 18.

Dan di tahun yang sama, datanglah momen menentukan bagi Dian. Kala itu dia ikut ajang Jakarta Fashion Week (JFW). Putri pasangan Djamaloedin dan Hernani ini menjadi pendatang baru, sebagai disainer junior.

Dari sanalah nama Dian berkibar. Dia menjadi buah bibir, sebagai disainer berbakat. Berbagai media mengulas Dian, baik profil maupun rancangan busananya.

Dian semakin dikenal. Busana buatannya membetot minat pecinta mode. Pelanggan terus mengalir, dari dalam hingga luar negeri. Busana Dian menjadi tren di pasaran.

Sejak itu, pemilik brand Pelangi ini menjelajah dunia. Meniti catwalk di berbagai negara. Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, Australia, Dubai, Mesir, Kuwait, Yordania, Jepang, dan Amerika Serikat, merupakan negara-negara yang pernah menyaksikan keindahan rancangan busananya.

Pada 2012, anak ke dua dari empat bersaudara ini menulis buku “ Hijab Street Style”. Buku tersebut telah menjadi inspirasi banyak muslimah.

Kecemerlangan Dian membawa usaha fesyen yang dijalankan berkembang pesat. Kini, 14 gerai telah dibuka. Tersebar di 13 kota hingga negeri jiran, Malaysia. Usaha ini dijalankan bersama 500 pegawai.

Melalui butik-butik itulah Dian terus menelurkan karya terbaru. Dalam setiap rancangan, dia selalu konsisten mempertahankan tradisi mode Indonesia dengan menampilkan disain modern yang memanfaatkan kain jumputan, batik, tenun, dan songket. Pelangi, itulah ciri khasnya. Rancangan Dian, penuh warna.


2 dari 2 halaman

Tak Lupa Akar

Tumpukan pencapaian itulah yang menjadi dasar BoF memasukkan Dian dalam daftar 500 tokoh paling berpengaruh di dunia fesyen tahun 2005. Bersanding dengan nama-nama beken lain.

“ Ini merupakan lampu hijau, baik untuk segmen busana muslim maupun disainer asal Indonesia lainnya untuk bergerak lebih jauh di ranah internasional lewat karya-karya yang autentik,” kata wanita yang memiliki 3,6 juta pengikut di Instagram ini.

Dan gelar itu bukan asal-asalan. BoF butuh waktu lama untuk memilih setiap kandidat yang dianggap layak masuk dalam daftar bergengsi tersebut. Daftar ini disusun setiap tahunnya berdasarkan nominasi anggota 'BoF 500' saat ini, analisis data, dan riset.

Setidaknya, majalah Inggris itu butuh waktu setahun sebelum memasukkan Dian dalam daftar tokoh paling berpengaruh di dunia mode. Proses itu berawal dari kedatangan Suzy Menkes, salah satu pemerhati fesyen dunia, ke Indonesia bersama tim BoF.

“ Risetnya selama setahunan,” kata Najwa Abdullah Sungkar, selaku International Public Relation Dian Pelangi. Selama kunjugan itu, perwakilan BoF sanagat kaget melihat perkembangan fesyen muslim Indonesia yang sangat berwarna.

Bagi Dian, masuk dalam daftar tokoh berpengaruh dunia versi BoF bukan sekadar penghargaan biasa. Melalui penghargaan ini, Dian ingin memberi pengaruh yang lebih besar pada dunia fesyen muslim, fokus menggerakkan roda perekonomian dengan memberdayakan masyarakat bawah. Dian ingin memberdayakan para pengrajin lokal yang berada di kampung halaman sang ayah.

“ Ini PR besar, di mana tahun depan harus mampu memutar roda perekonomian di dunia fesyen. Salah satunya dengan menggerakan dari akarnya, yaitu pengrajin lokal,” tutur Najwa, mewakili Dian.

Beri Komentar