Divonis 8 Tahun Penjara, Eks Dirut Pertamina Karen Agustiawan: Innalillahi

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Senin, 10 Juni 2019 17:33
Divonis 8 Tahun Penjara, Eks Dirut Pertamina Karen Agustiawan: Innalillahi
Mantan bos Pertamina, Karen Agustiawan, dinyatakan bersalah melakukan korupsi.

Dream – Karen Agustiawan, mantan direktur utama PT Pertamina (Persero) dinyatakan bersalah dalam kasus investasi Pertamina yang merugikan negara senilai Rp568,07 miliar. Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menjatuhkan vonis delapan tahun penjara untuk wanita pertama yang menjadi bos Pertamina itu.

Pembacaan vonis tersebut langsung mengubah raut wajah Karen. Kekecewaan tampak jelas di wajahnya. Dengan spontan Karen langsung mengucapkan takbir.

" Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar," kata Karen dengan nada bergetar saat hakim mempersilakan terdakwa untuk menanggapi pembacaan vonis di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin, 10 Juni 2019.

Karen langsung mengajukan banding terhadap putusan majelis hakim yang menyatakannya bersalah tersebut. " Majelis hakim, saya banding," kata dia.

Pernyataan Karen lantas ditimpali pengacarannya Susilo Ari Wibowo yang turut menyatakan banding terkait putusan yang dijatuhkan kepada terdakwa. " Kami secara tegas menyatakan banding," ujar Susilo.

Keriuhan pun terdengar dari area pengunjung sidang. Riuh rendah para pengunjung menanggapi putusan tersebut.

Sesaat setelah hakim keluar dari ruang persidangan, tampak Karen mengepalkan tangan ke udara sambil berlalu meninggalkan ruang persidangan.

1 dari 1 halaman

Tak Tertib Aturan Perusahaan

Hakim persidangan, Emilia Subagja, dalam putusannya menjelaskan Karen terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama.

“ Menjatuhkan pidana oleh karena itu terhadap terdakwa Karen dengan pidana penjara selama 8 tahun, denda Rp1 miliar subsider 4 bulan," kata dia.

Dari fakta persidangan, majelis hakim menilai wanita yang pernah menjadi guru besar di Universitas Harvard itu tidak melakukan tata tertib aturan perusahaan dalam mengambil keputusan seperti investasi.

Terlebih lagi, menurut hakim Karen menjabat sebagai pucuk pimpinan keputusan investasi, yakni sebagai Direktur Hulu 2008-2009.

" Tindakan Karen baik selalu Direktur hulu, ataupun Direktur Utama Pertamina memiliki tugas dalam mengendalikan dan monitor kegiatan akuisisi dan evaluasi maka majelis hakim berkesimpulan perbuatan terdakwa menyalahgunakan kewenangan," kata Emilia.

Vonis hakim lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum yang menuntutnya 15 tahun penjara serta membayar uang pengganti Rp284 miliar. Sementara vonis hakim tidak mewajibkan Karen membayar uang pengganti karena dinyatakan tidak terbukti menerima keuntungan.

Karen dikenakan Pasal 3 undang-undang tindak pidana korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sementara dalam tuntutan jaksa Karen dinilai terbukti mengabaikan prosedur investasi di Pertamina dalam 'participating interest' (PI) atas blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2009.

Tuntutan itu berdasarkan dakwaan pertama pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Jaksa juga meminta agar Karen membayar uang pengganti yang menurut jaksa adalah keuntungan yang dinikmati Karen.

Jaksa menilai Karen Galaila Agustiawan selaku Direktur Hulu PT Pertamina periode 2008-2009 dan Dirut PT Pertamina periode 2009-2014 bersama-sama dengan Direktur Keuangan PT Pertamina Ferederick ST Siahaan; Manager Merger dan Akusisi PT Pertamina 2008-2010 Bayu Kristanto dan Legal Consul and Compliance Genades Panjaitan telah melakukan perbuatan melawan hukum.

Karen dan kawan-kawan dinilai telah memutuskan untuk melakukan investasi 'participationg interest' di blok BMG Australia tanpa adanya 'due dilligence' dan analisa risiko yang ditindaklanjuti dengan penandatangan Sale Purchase Agreement (SPA) tanpa adanya persetujuan bagian legal dan Dewan Komisaris PT Pertamina sehingga memperkaya diri sendiri atau orang lain yaitu ROC Oil Company (ROC) Limited Australia dan merugikan keuangan negara sebesar Rp568,066 miliar.

Sementara itu, Karen Galaila Agustiawan menilai bahwa kasus yang menjerat dirinya akan menjadi preseden buruk untuk akusisi minyak dan gas (migas) yang dilakukan oleh perusahaan di Indonesia

(Sumber: Merdeka.com, Liputan6.com) 

Beri Komentar
Reaksi Mainaka yang Bikin Nia Ramadhani Menangis