Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dream - Kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS) dan menguatnya mata uang negara itu telah menjadikan emas tidak menarik lagi bagi kalangan investor. Namun penurunan lebih jauh kemungkinan akan terjadi yang menyebabkan emas semakin tidak menarik untuk dijadikan investasi oleh investor.
Seperti diketahui, harga spot emas internasional terus mengalami penurunan. Pada pekan lalu, penurunan harga emas terus berlanjut yang merupakan terbesar sejak 1996. Emas diperdagangkan di level US$ 1.100 per ounce, turun US$ 300 sejak tahun 2013.
Namun, penurunan saat ini juga dipicu oleh Tiongkok yang pada 17 Juli lalu telah mengumumkan akan meningkatkan cadangan emas mereka hingga 60 persen atau 1,658 metrik ton per akhir Juni, jauh lebih rendah dari ekspektasi analis.
"Berita dari Tiongkok telah mengecewakan pasar karena investor berharap bahwa negara tersebut akan meningkatkan persediaan emasnya agar mata uang yuan memiliki kredibilitas di mata internasional. Namun hal itu ternyata tidak terjadi," kata Carsten Menke, analis komoditas pada Bank Julius Baer & Co kepada Gulf News dari Zurich.
"Pada Senin pagi, setelah perdagangan Asia mulai dibuka, harga emas mulai berjatuhan kami memiliki jatuh besar dalam harga emas," kata Menke, seperti dikutip dari Gulf News, Jumat, 31 Juli.
Naiknya tingkat suku bunga AS juga semakin menurunkan nila masa depan emas. Dengan suku bunga yang semakin naik, membuat investor lebih tertarik pada saham daripada emas.
Tingkat suku bunga yang lebih tinggi juga menguatkan dolar AS sehingga sehingga inflasi tetap terjaga. Menguatnya dolar juga mengurangi daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap kenaikan harga.
"Kami melihat perbaikan dalam ekonomi global, dan suku bunga sedang menuju ke tingkat yang lebih tinggi, sehingga bukan lingkungan yang baik bagi investor yang tertarik membeli emas atau memegang emas," kata Menke.
Para analis di JP Morgan pun setuju dengan pandangan Menke ini.
"Kami percaya akan ada tekanan pada harga emas dalam waktu dekat. Dalam lingkungan di mana dolar menguat dan tingkat suku bunga naik, investor akan cenderung menjaga sikap bearish terhadap emas," kata Cesar Perez, Global Head of Investment Strategy, J.P. Morgan Private Bank.
Bahkan Morgan Stanley mengatakan bahwa dalam skenario terburuknya emas mungkin akan anjlok ke level US$ 800 per ounce.
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

3 Jenis Makanan yang Sebaiknya Dihindari Sebelum Olahraga, Menurut Ahli Gizi

Berawal dari Penyakit Misterius dan Mayat Membusuk, Begini Sejarah Mitos Vampir yang Mendunia

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran