Gelar Stress Test, BNI Syariah Optimis Hadapi Pandemi

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 29 Mei 2020 18:31
Gelar Stress Test, BNI Syariah Optimis Hadapi Pandemi
Bank syariah ini optimistis masih kuat menghadapi pandemi Covid-19.

Dream – Pandemi corona membuat PT BNI Syariah mengambil langkah antisipatif. Bank syariah ini melakukan uji daya tahan (stress test) di tengah pandemi.

“ Kalau kita lihat secara risiko likuiditas, BNI Syariah masih kuat. Tak ada masalah. Demikian juga risiko pasar,” kata Direktur Keuangan dan Operasional BNI Syariah, Wahyu Avianto, dalam konferensi pers virtual “ Kinerja Triwulan I 2020”, ditulis Jumat 29 Mei 2020.

Wahyu mengatakan ada tiga skenario dalam uji daya tahan, yaitu ringan, sedang, dan berat. Dari tiga skenario, pembiayaanlah yang menjadi sektor yang paling terdampak.

“ Sampai saat ini, dampaknya masih ringan dan sedang. Perkiraan kami, NPF masih bisa di bawah 4 persen,” kata dia.

Dalam pandemi Covid-19, Wahyu memprediksi laba perusahaan takkan tercapai seperti yang ditargetkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB).

“ Hasilnya tidak akan bisa mencapai target yang disampaikan dalam RBB. Tapi, masih menghasilkan keuntungan yang cukup bagi perusahaan, tergantung kepada seberapa lama efek Covid-19 terjadi,” kata dia.

1 dari 4 halaman

Pandemi Corona Dongkrak Transaksi Digital BNI Syariah

Dream – Pandemi Covid-19 membuat gaya hidup orang saat bertransaksi keuangan berubah ke arah digital. Perubahan ini turut membantu mendongkrak kinerja transaksi digital perbankan PT BNI Syariah yang meroket tajam.

“ Akibat pandemi terjadi peningkatan transaksi signifikan, terutama pada mobile dan internet banking,” kata Direktur Utama BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo, dalam konferensi pers virtual “ Kinerja Triwulan I 2020”, Kamis 28 Mei 2020.

Firman mengatakan transaksi mobile banking BNI Syariah meroket sampai 142,3 persen dari 4,04 juta kali pada kuarta I-2019 menjadi 9,79 juta kali tiga bulan pertama 2020. Begitu juga dengan transaksi internet banking yang naik 89,3 persen dari 277 ribu kali menjadi 429 ribu kali.

“ Customer bisa didorong dari transaksi konvensional ke elektronik, mobile, atau internet banking,” kata dia.

Sebaliknya, imbauan untuk tinggal di rumah membuat transaksi masyarakat di mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) turun signifikan. Dari laporan BNI Syariah, transaksi di ATM berkurang 8,7 persen dari 33,28 ribu kali sampai akhir Maret 2019 menjadi 30,39 ribu kali di kuartal I-2020.

2 dari 4 halaman

Perubahan Perilaku

Firman mengatakan peningkatan transaksi digital ini menjadi bukti nyata adanya perubahan perilaku nasabah perbankan. Dikatakan bahwa nasabah kini berhati-hati dalam bertransaksi selama pandemi corona.

“ Yang tadinya sering ke bank (untuk) buka rekening (dan) kirim duit, ambil uang di ATM, akan berubah. Yang tadinya manual akan berubah ke digital,” kata dia.

Belajar dari perubahan pola transaksi ini, firman memperkirakan layanan digital di masa depan akan menunjukkan eksistensi sebuah suatu bank atau lembaga keuangan.

“ Dalam pandemi Covid yang memunculkan social distancing dan physical distancing, semua transaksi bisa dilakukan secara digital,” kata dia.

Direktur Keuangan dan Operasional BNI Syariah, Wahyu Avianto, mengatakan pertumbuhan transaksi digital berujung kepada peningkatan dana pihak ketiga (DPK).

“ Terutama tabungan atau fee based income bagi BNI Syariah walaupun pendapatan dari penyaluran pembiayan berkurang,” kata Wahyu.

3 dari 4 halaman

Laba BNI Syariah di Awal Tahun 2020 Meroket 58 Persen

Dream – PT BNI Syariah mengantongi laba senilai Rp214 miliar pada kuartal I 2020. Angka ini naik 58,1 persen dari kuartal I 2019 yang senilai Rp135 miliar.

Direktur Utama BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo, mengatakan dampak pandemi Covid-19 memang belum begitu terasa pada kuartal pertama tahun ini. Pihaknya tetap mengantisipasi dampak pandemi corona terhadap kinerja BNI Syariah.

“ Tapi, kami antisipasi. Tentu dampak ini akan terasa, baik secara bisnis maupun kualitas aset. Mudah-mudahan bisa di-minimize sampai akhir tahun dan bisa making profit. Harapan kami begitu,” kata Firman dalam konferensi pers virtual “ Kinerja Triwulan I 2020”, Kamis 28 Mei 2020.

Aset melesat 16,2 persendari Rp44 triliun pada kuartal I 2019 menjadi Rp51,13 triliun pada kuartal I 2020. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh dari Rp38,48 triliun pada kuartal I 2019 menjadi Rp44,86 triliun pada kuartal I 2020. Tercatat pada periode Januari-Maret 2020, tabungan senilai Rp20,25 triliun, deposito Rp15,72 triliun, dan giro Rp8,89 triliun.

4 dari 4 halaman

Pembiayaan Naik

Kemudian, pembiayaan naik 9,8 persen dari Rp29,44 triliun pada kuartal I 2020 menjadi Rp32,33 triliun pada kuartal I 2020. Firman mengatakan komposisi pembiayaan produktif BNI Syariah mendominasi dengan porsi 51,4 persen atau sedikit lebih tinggi dari pembiayaan konsumtif (48,6 persen).

“ Pembiayaan produktif lebih tinggi daripada konsumtif,” kata dia.

BNI Syariah juga melaporkan rasio pembiayaan bermasalah (non performance financing/NPF) merangkak naik dari 2,9 persen pada kuartal I 2019 menjadi 3,3 persen pada kuartal I 2020. Kenaikan angka NPF ini salah satunya didorong kondisi ekonomi yang melambat akibat pandemi Covid-19.

“ Kami berusaha semaksimal mungkin untuk me-manage. Setidaknya saat Covid-19, di bawah 4 persen. Syukur-syukur bisa di bawah 3,5 persen,” kata dia. 

Beri Komentar