OJK Ancam Fintek yang Tidak Beretika

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 26 Juli 2019 18:23
OJK Ancam Fintek yang Tidak Beretika
Belakangan ini, viral nasabah yang dipermalukan oleh fintek ilegal karena tak sanggup bayar utang.

Dream Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan fintek InCash, yang menyebarkan meme untuk mempermalukan debitur wanita yang tidak sanggup membayar utang, tidak terdaftar alias bodong.

“ Tidak terdaftar di OJK,” kata Juru Bicara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sekar Putih Djarot, ketika dihubungi Dream, Jumat 26 Juli 2019.

Belakangan memang viral meme di jejaring media sosial tentang seorang wanita yang “ menjual diri” untuk melunasi utangnya kepada fintek. Dalam meme itu bahkan disebutkan sang wanita rela “ digilir” demi menutup semua utangnya.

Menurut Sekar, kasus ini sudah masuk ranah hukum karena menyangkut pencemaran nama baik. Pihak yang dirugikan bisa melaporkan kepada polisi sehingga bisa diproses secara hukum.

Sekar menambahkan, fintek ilegal tak ada yang mengawasi karena tidak tunduk pada aturan atau kaidah apa pun. “ Namun keberadaannya menjadi concern bersama,” kata dia.

Penanganan dan pemberantasan fintek bodong, kata dia, melalui Satgas Waspada Investasi (SWI). OJK selaku koordinatornya. SWI adalah gabungan 13 lembaga dan instansi, seperti Kementerian Komunikasi dan Informasi, polisi, dan lembaga/instansi.

“ Lembaga/instansi pihak lainnya tergabung Satgas Waspada Investasi untuk memonitor dan melakukan tindakan preventif investasi/fintek ilegal,” kata dia.

OJK tidak memberikan toleransi kepada penagihan yang tidak beretika. Kalaupun fintek legal melakukan cara penagihan seperti ini, OJK akan mencabut izinnya.

“ Penagihan tidak beretika tidak dapat kami tolerir dan kami tidak ragu untuk bertindak tegas, mencabut tanda terdaftar/berizinnya fintek ilegal jika terbukti melakukan hal tersebut,” kata Sekar.

1 dari 6 halaman

OJK Larang Masyarakat Pakai Fintek Ilegal

Sekar mewanti-wanti masyarakat untuk tidak meminjam uang di fintek ilegal. Sebab, keberadaan pinjol bodong ini hanya akan menyengsarakan mereka.

“ Jangan pakai fintech P2P/pinjol ilegal karena tidak bermanfaat dan hanya buat sengsara,” kata dia.

Sekar juga meminta masyarakat untuk memahami manfaat, biaya, dan risiko pinjam uang di fintek ilegal. “ Kami minta masyarakat agar hanya bertransaksi melalui fintek peer to peer lending yang terdaftar di OJK,” kata dia.

Sekar mengatakan pihaknua terus melakukan sosialisasi dan edukasi tentang fintek kepada masyarakat. Sosialisasi ini juga dilakukan bersama dengan asosiasi fintek pendanaan Indonesia.

“ Kami memahami pentingnya literasi masyarakat terkait fintech lending sebagai salah satu upaya preventif,” kata dia.

2 dari 6 halaman

Fintech P2P Lending Ilegal Menjamur, Waspada Modusnya!

Dream – Satuan Tugas Waspada Investasi terus melindungi masyarakat dari kejahatan dari financial technology (fintech) ilegal. Satgas itu menemukan 231 fintech peer to peer (P2) lending ilegal sepanjang Januari 2019, sedangkan yang legal hanya 99 unit pinjam meminjam berbasis teknologi aplikasi ini. 

“ Tugas kami ini disini untuk megedukasi masyarakat, agar lebih berhati-hati dalam meminjam uang, sehingga tidak ada lagi masyarakat yang dirugikan,” kata Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L Tobing, di Jakarta, Rabu 13 Februari 2019.

Dia mengatakan banyak entitas fintech P2P lending yang melakukan kegiatan melalui aplikasi di Appstore atau Playstore. Bahkan, kegiatan operasionalnya dilakukan di media sosial.

Entitas ini juga tak terdaftar dan tidak ada surat izin dari OJK sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam-Meminjam Uang Berbasis Teknologi, sehingga berpotensi merugikan masyarakat.

 

 

Tongam mengatakan fintech P2P memang mempermudah masyarakat untuk mengakses keuangan, transaksi, dan meningkatkan literasi keuangan. Tak hanya itu, fintech juga mudah dibuat seiring dengan kemudahan pembuatan website.

Sayangnya, kemudahan ini justru dimanfaatkan oleh oknum untuk membuat fintech ilegal. Modusnya itu fintech ini mengiming-imingi calon peminjam dengan bunga yang kecil dan syarat yang mudah, yaitu menunjukkan KTP.

Selanjutnya, para peminjam juga bisa mendapatkan uang yang diinginkan. Nantinya, para peminjam akan mendapat bunga yang tidak sesuai di awal perjanjian dan adanya penagihan tidak beretika intimidasi hingga teror.

3 dari 6 halaman

Upaya Penanganan terhadap Fintech P2P Lending Ilegal

Tongam mengatakan Satgas Waspada Investasi juga telah melakukan pencegahan dan penanganan yang tegas terhadap fintech P2P lending ilegal. Berikut ini adalah cara yang dilakukan.

1.Mengumumkan Fintech Peer-To-Peer Lending ilegal kepada masyarakat;

2.Mengajukan blokir website dan aplikasi secara rutin kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia;

3.Memutus akses keuangan dari Fintech Peer-To-Peer Lending ilegal dengan cara:

Menyampaikan himbauan kepada perbankan untuk menolak pembukaan rekening tanpa rekomendasi OJK dan melakukan konfirmasi kepada OJK, untuk rekening existing yang diduga digunakan untuk kegiatan Fintech Peer-To-Peer Lending ilegal.

Meminta Bank Indonesia untuk melarang Fintech Payment System memfasilitasi Fintech Peer-To-Peer Lending ilegal.

4.Menyampaikan laporan informasi kepada Bareskrim Polri untuk proses penegakan hukum;

5.Peningkatan peran Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) untuk penanganan Fintech Peer-To-Peer Lending ilegal;

6.Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat secara berkelanjutan untuk menggunakan Fintech yang legal.

Tongam juga meminta masyarakat yang ingin meminjam dana dari fintech P2P untuk melihat terlebih dahulu apakah fintech ini terdaftar di OJK atau tidak. Lalu, uang yang dipinjam sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan dalam mengembalikan.

“ Jangan sekali-kali meminjam uang untuk kebutuhan konsumtif. Setelah itu, pahami manfaat, biaya, bunga, jangka waktu, denda dan risikonya,” kata dia.

Untuk mengetahui fintech peer to peer lending legal atau tidak, masyarakat dapat mengakses www.ojk.go.id atau bisa menghubungi di layanan 157.

(ism, Laporan: Tri Yuniwati Lestari)

4 dari 6 halaman

Diawasi Ketat OJK, Fintech Pelaku Investasi Bodong Berkurang

Dream – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berupaya menghindarkan masyarakat dari investasi bodong. Salah satunya caranya dengan mengedukasi masyarakat tentang investasi.

Upaya ini juga merupakan peningkatan perlindungan konsumen, terutama di era digitalisasi yang berkaitan dengan financial technology (fintech).

" Edukasi, edukasi dan edukasi, itu nomor satu,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso, di Jakarta, dikutip dari Merdeka.com, Jumat 23 November 2018.

Wimboh mengatakan masyarakat perlu perlindungan. Mereka merugi kalau tak tahu produk investasi yang dibelinya.

 

 

Dia berkata peningkatan edukasi masyarakat merupakan pencegahan kerugian karena salah berinvestasi. Peningkatan edukasi ini juga strategi OJK untuk memitigasi uang masyarakat sehingga meskipun ada kerugian nilainya tidak terlalu banyak.

" Jadi, bagaimana supaya masyarakat tahu bahwa mana produk yang sesuai dengan profil dia sehingga dia bisa memitigasi dirinya sendiri dengan demikian jumlah masyarakat yang dirugikan tadi tidak begitu banyak. Itu adalah prioritas yang harus kita lakukan," kata Wimboh.

Meski demikian, persentase fintech pelaku investasi bodong hingga kini terus menurun seiring dengan penegakan hukum dan pengawasan yang dilakukan oleh OJK. " Frekuensinya sudah turun, silakan masyarakat kalau merasa dirugikan melaporkan ke kita," kata dia.

5 dari 6 halaman

Tips Jitu Hindari Investasi Bodong

Dream – Sahabat Dream, salah satu cara yang bisa ditempuh untuk mempersiapkan masa depan adalah investasi. Ada beragam sektor yang bisa digunakan untuk investasi, seperti properti, emas, atau reksa dana.

Kini sudah banyak perusahaan yang menawarkan produk investasi. Tentunya dengan imbal jasa yang menggiurkan.

Meski begitu, kamu tetap harus hati-hati sebelum menjatuhkan pilihan berinvestasi ke lembaga tertentu. Ini karena banyak lembaga yang menawarkan investasi namun ternyata hanya abal-abal alias bodong.

Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan ada lima entitas investasi paling anyar yang dihentikan. Kelima entitas ini telah dipanggil untuk menjelaskan legalitas dan kegiatan usahanya. 

OJK menghentikan usaha kelima entitas ini karena dianggap tidak rasional. Lima entitas ini memberikan imbal hasil yang terlalu tinggi, tak berizin, tak memiliki produk yang dijual, dan menyalahgunakan logo OJK.

Sebelum berinvestasi, lebih baik Sahabat Dream mencermati terlebih dahulu ciri-cirinya. Dikutip dari berbagai sumber, ada empat ciri investasi bodong.

Ciri pertama, entitas menyajikan tingkat pengembalian modal yang tinggi. Jika ada yang menawarkan investasi tinggi, bahkan lebih dari 40 persen, kamu harus curiga.

Ciri kedua investasi bodong yaitu menawarkan bonus jika berhasil merekrut anggota baru, menggunakan pemuka agama untuk promosi, dan investasi yang aman.

Lalu, bagaimana cara menghindarinya? Ada tiga hal yang bisa kamu lakukan untuk menghindar dari investasi ini.

Pertama, kamu harus memastikan pihak yang menawarkan investasi itu mengantongi izin dari otoritas yang berwenang sesuai dengan kegiatan usaha yang dijalankan dan tercatat sebagai mitra pemasar.

Kedua, pastikan juga lembaga ini juga menawarkan produk investasi. Jangan sampai menanamkan modal untuk sesuatu yang tidak ada.

Yang ketiga, Sahabat Dream juga harus memastikan logo instansi atau lembaga pemerintah di media penawarannya, juga dilakukan sesuai dengan aturan. Jangan sampai ada lembaga yang menggunakan logo pemerintah, eh, ternyata hanya modus untuk menipu. (ism) 

6 dari 6 halaman

Kenali Ciri-Ciri Investasi Bodong supaya Tak Tertipu

Dream - Akhir-akhir publik dihebohkan berbagai pemberitaan mengenai investasi ilegal. Mulai dari ribuan orang yang tertipu berinvestasi di Pandawa Grup, hingga ribuan jemaah yang tertipu PT First Anugerah Karya atau First Travel.

Ketua Satgas Waspada Investasi OJK, Tongam Lumban Tobing menyarankan masyarakat untuk mengenali ciri-ciri investasi ilegal alias bodong. Yang pertama, jika ada suatu tawaran investasi yang menyajikan tingkat pengembalian modal yang tinggi merupakan tahap pertama untuk dicurigai sebagai investasi ilegal.

Ciri berikutnya yakni adanya penawaran investasi tersebut tidak ada resiko sama sekali.

" Investasi itu pasti ada resikonya, nggak mungkin nggak ada risiko," kata Tongam di Hotel Grand Savero Bogor, Jawa Barat, ditulis Senin 11 September 2017.

Lumban melanjutkan, ciri lainnya yakni mengenai adanya perekrutan anggota baru dengan adanya iming-iming bonus bagi orang yang dapat merekrut anggota baru. Kemudian, adanya penyalahgunaan testimoni pemuka agama sebagai alat untuk promosi.

" Adanya janji penarikan dana yang mudah, aset yang diinvestasikan aman," ujar dia.

Terakhir, kata Lumban, pelajari badan hukum tempat investasi. Jika badan hukumnya tidak jelas, sebaiknya tidak melakukan investasi.

Beri Komentar
Mengharukan, Reaksi Gempi Dengar Gading dan Gisel Tidur Bareng Lagi