Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Rahasia menjadi kaya ternyata bukan tergantung pada orang tua atau pendidikan yang kita peroleh. Tetapi pada di mana seseorang dilahirkan.
Itu, setidaknya, yang dipikirkan oleh ekonom Branko Milanovic yang menulis di The Review of Economics and Statistics edisi Mei yang dikutip dari Gulf News, Sabtu, 6 Juni 2015.
Milanovic telah menemukan pola yang menunjukkan berapa gaji seseorang bisa berbeda di beberapa negara meski melakukan pekerjaan yang sama.
Misalnya, karyawan McDonald di India hanya digaji US$ 0,46 per jam dibandingkan dengan mereka yang digaji US$ 0,81 di China, US$ 2,34 di Rusia, US$ 7,33 di AS, dan US$ 9,44 di Eropa Barat.
Artinya, jumlah gaji yang Anda terima ditentukan oleh di negara mana Anda tinggal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa negara kaya mampu membayar lebih banyak untuk melakukan pekerjaan yang sama.
Namun sedikit lebih rumit dari itu, beberapa negara memiliki biaya hidup yang lebih tinggi dari yang lainnya. Untuk mengatasi ini, Milanovic mempunyai hitungan yang disebut paritas daya beli atau PPP.
Mata uang dolar AS, misalnya, akan menyesuaikan dengan harga barang-barang lokal, seperti, katakanlah potong rambut yang mungkin lebih murah di beberapa negara dari negara lain. Dengan kata lain Anda tidak selalu membutuhkan banyak uang untuk hidup dengan cara yang sama.
Orang paling miskin di Jerman, kata Milanovic, masih lebih baik 40 persen dari orang Brasil, 60 persen dari China dan lebih dari 90 persen dari India.
Semua ini bukan karena kita lebih pintar dari orang lain, melainkan karena kita hidup di negara yang lebih kaya yang lebih berorientasi untuk mengumpulkan daripada berbagi kekayaan. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya