Resesi Intai Negara Asia, Filipina Masuk Daftar Terbaru

Reporter : Syahid Latif
Jumat, 7 Agustus 2020 06:35
Resesi Intai Negara Asia, Filipina Masuk Daftar Terbaru
Singapura, Korea Selatan, dan kini Filipina yang melaporkan resesi teknikal setelah dua kali mencatat pertumbuhan ekonomi negatif.

Dream - Satu lagi negara di Asia mengalami resesi teknikal usai menunjukan pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut. Negara itu adalah Filipina yang melaporkan kontraksi ekonomi sebesar 16,5 persen pada kuartal II-2020.

Pada periode Januari-Maret 2020, atau kuartal I, pertumbuhan ekonomi Filipina mengalami kontraksi atau minus 0,7 persen.

Pertumbuhan ekonomi pada April-Juli 2020 yang dialami Filipina menunjukan aktivitas ekonomi yang terdampak pandemik Covid-19. Di periode tersebut, Filipina untuk pertama kalinya menerapkan lockdown.

Laporan pertumbuhan ekonomi tersebut lebih buruk dari perkiraan para ekonom dalam polling Reuters. Ekonom sebelumnya memprediksi ekonomi Filipina hanya mencatat kontraksi 9 persen.

Mengutip laman asia.nikkei.com, harapan akan adanya pemulihan ekonomi di kuartal III-2020 juga dipertanyakan setelah Metro Manila kembali melakukan lockdown.

Dengan laporan terbaru tersebut, tim ekonomi pemerintah Filipina merevisi target pertumbuhan ekonomi turun menjadi 5,5 persen sepanjang tahun ini.

Socioeconomic Planning Acting Secretary Filipinan, Karl Chua dalam konferensi pers virtual mengatakan kontraksi bulan Mei meleset dari proyeksi 2 persen mejadi 3,4 persen.

" Tak diragukan lagi pandemi dan dampak buruknya tengah menguji ekonomi dan tak pernah terjadi sebelumnya," kata Chua. " Tetapi tidak seperti krisis masa lalu, Filipina sekarang berada dalam posisi yang jauh lebih kuat untuk mengatasi krisis [saat ini]."

1 dari 7 halaman

Jika Indonesia Resesi, Jangan Panik!

Dream - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 sebesar -5,32 persen secara year on year (yoy). Pertumbuhan ekonomi merupakan kontraksi terdalam sejak kuartal I-1999 yang tercatat sebesar -6,13 persen.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core), Piter Abdullah, mengatakan, wabah pandemi Covid-19 membatasi aliran manusia, barang, juga uang, dampaknya sangat luar biasa.

Dengan keterbatasan aktivitas sosial ekonomi, maka kegiatan konsumsi, investasi dan juga ekspor impor di semua negara mengalami penurunan yang sangat tajam.

" Semua negara diyakini tinggal menunggu waktunya saja untuk menyatakan secara resmi sudah mengalami resesi. Proses resesinya sendiri sudah berlangsung sejak awal tahun ketika wabah Covid mulai melanda China dan menyebar ke berbagai negara," ujar Piter, dikutip dari Merdeka.com, Kamis 6 Juli 2020.

2 dari 7 halaman

Resesi Berpotensi Dialami Semua Negara

Indonesia, sebagaimana negara lain, diperkirakan juga akan mengalami resesi. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II negatif 5,32 persen.

Hal yang sama juga diprediksi akan terjadi pada kuartal III dan IV. Apabila perkiraan ini benar-benar terjadi, maka Indonesia pada bulan Oktober nanti akan secara resmi dinyatakan resesi.

" Meskipun Indonesia nanti dinyatakan resesi, masyarakat tidak perlu panik. Sekali lagi resesi sudah menjadi sebuah kenormalan baru di tengah wabah. Hampir semua negara mengalami resesi. Yang lebih penting adalah bagaimana dunia usaha bisa bertahan di tengah resesi," paparnya.

Ilustrasi Resesi© Shutterstock

Jika dunia usaha terus ditopang dan bisa bertahan, tidak mengalami kebangkrutan, maka Indonesia akan bisa bangkit Kembali dengan cepat ketika wabah sudah berlalu.

" Kita optimis dengan berbagai kebijakan yang sudah diambil oleh pemerintah melalui program PEN, kita akan bisa meningkatkan daya tahan dunia usaha kita, dan kita akan recovery pada tahun 2021," kata Piter.

3 dari 7 halaman

Piter menambahkan, semua negara berpotensi mengalami resesi. Perbedaannya hanya masalah kedalaman dan kecepatan pulih atau recovery.

Negara-negara yang bergantung kepada ekspor atau kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi sangat tinggi akan mengalami double hit.

" Sehingga kontraksi ekonominya akan jauh lebih dalam. Misalnya saja Singapura yang mengalami kontraksi ekonomi pada triwulan 2 hingga minus 41 persen. Disisi lain, negara-negara yang tidak secara cepat merespons dampak wabah Covid, menyelamatkan perekonomiannya, berpotensi jatuh ke jurang krisis, yang artinya proses recovery akan berjalan lambat," tandasnya.

Sumber: Merdeka.com

4 dari 7 halaman

5 dari 7 halaman

Korea Selatan Resesi

Dream - Korea Selatan menyusul Singapura yang telah lebih dahulu melaporkan mengalami resesi. Akibat aktivitas ekspor yang turun imbas pandemik Covid-19, resesi yang dialami negara K-Pop ini menjadi yang pertama sejak 17 tahun terakhir.

Bank sentral Korea, The Bank of Korea mengumumkan Produk Domestik Bruto (PDB) sepanjang April-Juni 2020 turun 3,3 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang mengalami kontraksi 1,3 persen.

Pelemahan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut yang dialami Korea ini merupakan yang pertama sejak tahun 2003. Penurunan kuartalan juga yang terendah sejak 1998.

Ekspor Korea dilaporkan anjlok sampai 16,6 persen, terendah sejak 1963 dan impor melemah 7,4 persen. Konsumsi domestik Korea dilaporkan naik 1,4 persen dengan peningkatan pada pengeluaran untuk barang-barang tahan lama seperti mobil dan perabotan rumah tangga.

" Perekonomian Korea telah menurun sejak Oktober 2017, dan goncangan coronavirus mempercepat laju penurunan ekonomi," kata Direktur Bank of Korea Park Yang-soo dalam keterangan persnya.

Menteri Keuangan Hong Nam-ki mengatakan perlambatan ekonomi global yang belum pernah terjadi sebelumnya menghentikan jalur produksi luar negeri perusahaan-perusahaan Korea di Vietnam dan India, yang semakin membebani ekspor.

 

6 dari 7 halaman

Resesi yang dialami Korea ini terjadi ketika Presiden Moon Jae-in berencana menaikkan pajak properti dan penjualan untuk mengendalikan harga rumah yang melonjak, terutama di Seoul. Kebijakan semacam itu memberi sedikit ruang bagi BOK untuk melonggarkan kebijakan lebih lanjut karena risiko suku bunga yang lebih rendah memberikan terlalu banyak likuiditas di pasar perumahan.

Gubernur BOK Lee Ju-yeol mengatakan pekan lalu penting untuk membiarkan aliran likuiditas melimpah ke sektor-sektor produktif. " Yang paling penting adalah kita memiliki banyak tempat produktif untuk menarik investasi," kata Lee pada konferensi pers.

Lee mengatakan PDB negara itu dapat berkontraksi lebih lanjut tahun ini dari perkiraan bank sentral pertumbuhan minus 0,2 persen pada bulan Mei.

BOK's Park mengatakan bank sentral akan memberikan perkiraan pertumbuhan yang disesuaikan tahun ini pada bulan Agustus.

" Pertumbuhan tahunan tergantung pada seberapa cepat ekonomi akan pulih," kata Park. " Ekonomi Tiongkok pulih tajam. Kita bisa mengikuti langkahnya."

(Sah, Sumber: Asia.Nikkei.com

7 dari 7 halaman

Singapura Negara Asia Pertama Laporkan Resesi

Dream - Perekonomian Singapura dianggap mulai jatuh ke jurang resesi akibat pandemik Covid-19 yang melumpukan aktivitas perdagangan. Penilaian itu muncul setelah pertumbuhan ekonomi Singapura dilaporkan menyentuh minus 41,2 persen di kuartal II-2020 seperti dilaporkan Channel News Asia.

Pada kuartal sebelumnya, Singapura melaporkan pertumbuhan PDB turun 3,3 persen.

Beberapa bulan setelah pembatasan aktivitas masyarakat, roda ekonomi Singapura di bidang konstruksi, retail dan wisata memang terpukul cukup keras. Pemerintah Singapura sudah memperkirakan PDB mereka akan turun 4-7 persen pada tahun ini.

Kondisi ekonomi dari negara yang memiliki daya saing bisnis terbaik di Asia ini memicu pertanyaan tentang perekonomian Indonesia.

Survei yang dilakukan Reuters menyatakan ekonomi negara-negara di Asia Tenggara diperkirakan merosot 37,4 persen dari kuartal ke kuartal. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya mengingatkan masyarakat bersiap mengalami resesi jika pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III 2020 tetap tumbuh negatif, melanjutkan pertumbuhan negatif yang diperkirakan akan terjadi di kuartal II 2020.

Dari proyeksi yang dibuat pemerintah, ekonomi Indonesia diperkirakan dapat tumbuh positif pada kuartal III. Namun pada saat yang sama, Sri Mulyani juga memperkirakan kemungkinan terburuk perekonomian negara anjlok hingga -1,6 persen pada periode tersebut.

" Kami berharap kuartal III dan kuartal IV 2020 ekonomi tumbuh 1,4 persen. Atau kalau dalam negatif bisa minus 1,6 persen. Itu technically bisa resesi kalau kuartal III negatif," ungkap Sri Mulyani beberapa waktu lalu.

Beri Komentar