Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Sektor Properti Menjadi Favorit Banyak Orang Untuk Investasi.
Dream – Properti merupakan pilihan investasi yang terbilang populer. Banyak orang yang berminat untuk menanamkan uangnya di sektor ini karena properti menawarkan keuntungan yang besar daripada emas dan deposito.
Tapi, berinvestasi di sektor properti ini gampang-gampang susah. Jika salah perhitungan, bisa-bisa nilai properti yang diharapkan tidak sesuai dengan yang dibayangkan.
Dilansir dari keterangan tertulis, Jumat 10 Februari 2017, portal properti global, Lamudi, menyebut ada lima kesalahan umum yang biasa dilakukan orang ketika berinvestasi di sektor properti.
Pertama, ada pemikiran bahwa investasi di sektor properti adalah cara singkat untuk menjadi kaya. Padahal, impian itu tidak bisa diwujudkan dalam waktu singkat. Dibutuhkan kesabaran, waktu, dan kerja keras untuk bisa menghasilkan keuntungan dari sektor properti.
Kedua, investor terkadang egois. Sifat ini seharusnya dijauhi ketika berinvestasi di sektor properti. Ingat, seseorang akan berhubungan dengan banyak pihak ketika memutuskan untuk berinvestasi di sektor properti, mulai dari agen, bank, sampai dengan tukang pipa dan tukang listrik. Cobalah berkompromi dengan mereka agar investasi di sektor ini bisa berjalan dengan mulus.
Ketiga, salah menentukan lokasi. Jika ingin mendapatkan untung dari investasi ini, sebaiknya memilih properti di lokasi strategis. Jika lokasinya tergolong jauh dan kurang strategis, bisa saja pemilik properti akan kesulitan untuk memasarkan properti tersebut.
Keempat, tidak memperhitungkan biaya tambahan. Ada banyak investor yang hanya menghitung harga rumah yang diinginkan tanpa memperhatikan biaya tambahan. Sekadar informasi, biaya tambahan itu berupa biaya perawatan seperti biaya listrik dan biaya air. Jika tidak diperhitungkan, mustahil akan mendapatkan untung dari investasi ini.
Kelima, salah estimasi biaya. Untuk mencegah terjadinya kesalahan estimasi biaya, sebaiknya investor menghitung nilai properti yang dimiliki dalam dua tahun ke depan. Jika sudah melihat keuntungan yang tepat, itu artinya penanam modal telah memilih investasi yang tepat di sektor ini.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya