Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Bahrain Abaikan IMF, Tolak Kurangi Subsidi BBM

Reporter : Ramdania
Rabu, 14 Mei 2014 14:13
Bahrain Abaikan IMF, Tolak Kurangi Subsidi BBM
Pemerintah Bahrain enggan menaikkan harga BBM sebagai langkah pengurangan subsidi. Walaupun pihak IMF telah mengingatkan besarnya subsidi itu telah membuat defisit anggara semakin melebar.

Dream - Meski negara-negara Arab sepakat mengurangi beban subsidi besar yang dapat menguras keuangan negara, tetapi Bahrain enggan mengikuti kesepakatan itu. Bahrain belum berencana menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di negaranya untuk mengurangi beban subsidi BBM.

" Rencana itu disetujui, tapi sekarang tidak ada yang tahu kapan dilaksanakan. Rencana subsidi solar dan bensin tidak digunakan untuk kendaraan pribadi bukan kebijakan yang akan diteriam publik. Dan pemerintah belum memutuskan hal itu," ujar Kepala Deputi Dewan Shura Jamal Fakhroo seperti yang ditulis Arabian Business dan dikutip Dream.co.id Rabu 14 Mei 2014.

The Gulf Arab state's National Oil and Gas Authority menyebut pada Desember mendatang disepakati menaikkan harga jual solar secara bertahap sehingga pada 2017 bisa dinaikkan kembali. Hal ini sebagai langkah mengurangi beban subsidi yang terlalu besar sehingga membebani keuangan negara.

Bahrain masih berjuang mengakhiri pergolakan di kalangan mayoritas Muslim Syiah. Seperti negara Timur Tengah pengeksportir minyak lainnya, Bahrain juga menghabiskan keuangan negaranya untuk subsidi BBM sehingga selalu terjadi defisit fiskal dalam anggarannya.

Guna memperbaiki struktur anggaran itu diperlukan ekspansi fiskal besar-besaran dengan pengurangan beban subsidi. Kebijakan ini bisa dilakukan saat ini karena mulai meredanya gelombang kerusuhan sosial yang melanda Timur Tengah sejak 2011.

Tahun lalu, Lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) telah mengingatkan Bahrain untuk mereformasi ekonominya guna mengurangi beban utang. Negara kerajaan kepulauan ini mencatat defisit anggaran sebesar 3,7% dari PDB pada tahun 2014, kemudian melebar 5% pada tahun 2015. (Ism)

Beri Komentar