5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank OJK, Firdaus Djaelani.
Dream – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyinggung permodalan industri keuangan syariah yang masih minim. Otoritas tertinggi industri keuangan ini menyentil induk usaha industri keuangan konvensional yang tidak menambah permodalan kepada anak usaha syariahnya.
Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank OJK, Firdaus Djaelani, menyebut industri keuangan syariah kurang efisien daripada industri keuangan konvensional, misalnya sektor perbankan.
Dikatakan bahwa perbankan syariah memiliki Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) dan pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) lebih tinggi daripada BOPO dan kredit bermasalah (non performing loan/NPL) perbankan konvensional.
“ Jangan-jangan penyebabnya modal. Oleh karena itu, kami sering menekankan agar modal (anak usaha syariah) diperbesar, “ kata Firdaus di Jakarta, ditulis Selasa 4 April 2017.
Dia mengatakan induk konvensional mengucurkan dana kepada anak usaha syariah untuk memenuhi ketentuan permodalan. Namun mereka dinilai tidak menambah besaran suntikan dana.
Padahal, lanjut Firdaus, dengan suntikan modal yang lebih banyak, industri syariah bisa memperbagus infrastruktur keuangan dan menjaring sumber daya manusia (SDM) yang lebih baik.
“ Semuanya kompensasi yang bagus bisa dimiliki oleh (industri keuangan) yang punya modal yang bagus,” kata Firdaus.
Dikatakan juga bahwa infrastruktur keuangan syariah yang minim membuat masyarakat “ lari” ke industri keuangan konvensional. Sebab, industri keuangan konvensional memiliki infrastruktur keuangan yang lebih baik.
“ Jadi, kami pikir jangan-jangan karena infrastruktur kurang dan pelayanan kurang, akhirnya dapat nasabah sisa dari konvensional. Ujung-ujungnya nasabah kelas dua, maka tingkat kemacetan (pembiayaan) juga lebih tinggi daripada konvensional,” kata dia.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?