Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Pasar modal Indonesia kembali dibanjiri dana asing hingga Rp 2 triliun. Net buy asing ini semakin mendorong indeks bursa saham acuan naik signifikan. Sentimen positif dari kawasan regional juga ikut membuat investor percaya diri kembali masuk pasar.
Tren kenaikan jangka pendek ini memang sempat tertekan pelemahan sejumlah harga saham emiten pertambangan. Turunnya harga minyak dunia membuat pasar menghindari emiten-emiten komoditas tambang.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu, 12 November 2014, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 16,55 poin (0,33%) ke lebel 5.048,84.
Kenaikan ini dipicu menguatnya harga saham dari 165 emiten di BEI. Sisanya sebanyak 143 emiten bergerak melemah dan 97 lainnya stagnan.
Dalam transaksi kali ini, pemodal melakukan aksi beli terhadap 46,51 juta saham dengan dana berputar hingga Rp 5,98 triliun. Investor asing yang aktif membeli saham, mencetak nett buy hingga Rp 2,1 triliun.
Laju IHSG sebetulya sempat menguat signifikan dibandingkan posisi penutupan. IHSG sempat menembus level tertinggi di 5.067,96 dan terendah 5.035,70. Adanya sedikit koreksi ini dipicu turunnya harga saham emiten tambang dan perdagangan.
Kedua sektor saham ini tercatat melemah 1,33 persen dan 0,29 persen. Sisanya bergerak menguat dipimpin emiten industri aneka sebesar 2,68 persen, manufaktur 0,96 persen, dan perkebunan 0,79 persen.
Di jajaran emiten syariah, tercatat 104 emiten penghuni Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) bergerak menguat. Sementara 89 emiten mencetak koreksi harga dan 46 lainnya stagnan.
Dominasi kenaikan harga saham syariah ini membuat indeks ISSI dibuka menguat 0,50 poin (0,31%) ke level 161,57.
Indeks ISSI sebetulnya sempat menguat ke level tertinggi di 162,28. Namun pelaku pasar mulai hati-hati dengan kenaikan laju indeks saham terutama di sektor pertambangan.
Lebih dari separuh transaksi perdagangan di lantai bursa didominasi emiten-emiten syariah. Sebanyak 34,91 juta saham diperdagangkan pelaku pasar dengan nilai Rp 3,14 triliun.
Laju positif sepanjang perdagangan hari ini juga dialami indeks saham bluechips syariah. Meski 11 emiten unggulan melemah, indeks Jakarta Islamic Index (JII) ditutup menguat 2,24 poin (0,34%) ke level 663,92.
Bursa saham di kawasan Asia juga ikut membawa sentimen positif bagi laju pasar modal Indonesia. Sebagian besar indeks saham utama di kawasan ini ditutup menguat.
Indeks Shanghai Composite yang dibuka melemah kini justru berbalik menguat 1 persen. Kenaikan juga dicatat Hang Seng yang menguat 0,55 persen dan Nikkei Jepang 0,43 persen.
Di pasar keuangan, laju rupiah juga kembali menguat. Sore ini rupiah telah terapresiasi 29 poin (0,24%) menjadi 12.186 per dolar AS. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya