Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Bursa saham Indonesia akhirnya tak mampu menghindari tekanan jual yang dilakukan pelaku pasar. Pemodal memilih mengambil posisi jelang pengumuman data ekonomi terbaru pekan depan.
Kondisi bursa regional yang didominasi koreksi indeks saham juga membuat pelaku apsar menahan diri masuk lantai bursa.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat, 27 Februari 2015, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) melemah 0,647 poin (0,37%) ke level 174,317.
ISSI sebetulnya membuka perdagangan akhir Februari 2015 di zona hijau. Namun tekanan jual yang cukup besar memaksa ISSI jatuh ke teritori negatif.
ISSI bahkan sempat jatuh ke level terendah 174,291 dengan posisi tertingginya di 175,405.
Meski melemah, papan perdagangan ISSI justru penuh dengan emiten yang bergerak menguat. Sebanyak 96 emiten syariah menutup akhir pekan di zona hijau dan 73 lainnya terpuruk di wilayah negatif.
Jelang libur akhir pekan ini pelaku pasar mentransaksikan 37,62 miliar saham bernilai Rp 4,44 triliun.
Nasib tak jauh berbeda dialami indeks saham bluechips syariah. Jakarta Islamic Index (JII) menutup perdagangan dengan melemah 4,687 poin (0,64%) ke level 722,098.
JII yang dibuka menguat ke level 727,172 sempat menyentuh level tertinggi 729,079. Namun aksi jual jelang penutupan perdagangan memaksa JII jatuh ke level terendahnya di level 722,098.
Pelaku pasar mengguyur saham-saham bluechips syariah dengan dana Rp 2,97 triliun dan 9,02 miliar saham yang beralihtangan.
Sama dengan ISSI, papan perdagangan JII juga dipenuhi saham-saham yang bergerak menguat. Sebanyak 16 emiten JII melaju positif dan 11 lainnya tertahan di zona merah.
Saham-saham tambang menjadi incaran pelaku pasar dipimpin emiten UNTR yang menguat Rp 750 per saham. Top gainer lainnya adalah ITMG yang menguat Rp 275, PTBA Rp 250, INCO Rp 140, dan ICBP Rp 75 per saham.
JII justru lebih merespon saham-saham bluechips syariah yang bergerak melemah dipimpin UNVR dan AALI yang melemah Rp 500 dan Rp 300 per saham. Top losser lainnya adalah SMGR yang melemah Rp 225, ASII Rp 200, dan PGAS Rp 100 per saham.
Meski ditutup melemah, bursa saham Indonesia di akhir Februari 2015 masih bertahan di level 5.400. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sore ini turun tipis 1,128 poin (0,02%)ke level 5.450,294.
Pasar modal Indonesia jelang libur akhir pekan ini diguyur dana investor hingga Rp 6,36 triliun. Pemodal asing mulai mengerem aksi beli dengan hanya mencatat nett buy Rp 211 miliar.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya