Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
IHSG
Dream - Bergabungnya sentimen pelemahan rupiah serta aksi jual investor asing membuat indeks bursa saham Indonesia tak berdaya. Indeks acuan saham syariah bahkan mendekam di zona merah.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu, 11 Maret 2015, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) terpangkas 1,477 poin (0,85%) ke level 172,352.
ISSI terseret pelemahan harga saham yang melanda 145 emiten syariah. Tercatat hanya 35 emiten ISSI yang melaju positif dan 55 lainnya stagnan.
Tekanan aksi jual asing membuat investor asing menahan diri melakukan aksi beli saham. Apalagi, sentimen rupiah yang hampir menyentuh 13.000 per dolar AS memicu kekhawatiran tersendiri.
ISSI yang mendekam di zona merah sempat terperosok dalam ke level terenda 171,728. Sementara posisi tertinggi hanya mampu dicapai di level 173,176.
Pelaku pasar tercatat memperdagangkan 36,31 miliar saham bernilai Rp 4,75 triliun.
Koreksi tajam juga melanda saham-saham unggulan syariah. Menurunnya harga saham dari 25 emiten bluechips syariah memaksa Jakarta Islamic Index (JII) terkoreksi 5,314 poin (0,73%) ke level 720,531.
Papan perdagangan JII hanya dihuni 4 emiten yang bergerak menguat dan 1 lainnya melaju stagnan.
Sama dengan ISSI, indeks acuan berisi 30 saham bluechips syariah ini mendekam di zona negatif. JII sempat terpuruk ke level 717,629 dan menyentuh posisi tertinggi 723,571.
Empat emiten bluechips syariah yang berhasil menguat itu adalah UNVR yang naik Rp 950 per saham. Diikuti MPPA Rp 70, AALI Rp 25, dan MNCN Rp 5 per saham.
Sebaliknya saham tambang mendominasi daftar emiten pencetak penurunan harga terbesar (top losser). Dipimpin INTP yang melemah Rp 800, top losser JII lainnya adalah UNTR yang turun RP 425, ITMG Rp 375, PTBA Rp 375, dan SILO Rp 250 per saham.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sore ini menutup perdagangan dengan melemah 43,362 poin (0,79%) ke level 5.419,566.
Lantai bursa dibanjiri dana investor hingga Rp 7,20 triliun dengan Rp 1 triliun diantaranya merupakan nett sell asing.
Dari pasar keuanga, rupiah benar-benar tidak berdaya. Kurs rupiah sore ini akhirnya menembus level 13.222 per dolar AS.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya