Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Seorang Pria Menatap Papan Perdagangan Yang Menunjukkan Pelemahan Perdagangan.
Dream – Indeks syariah melemah pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu 3 Mei 2017. Sektor pertambangan, industri aneka, dan infrastruktur turut membuat perdagangan menjadi terkoreksi.
Laju indeks syariah semakin terjal setelah investor asing semakin mengurangi porsi beli saham mereka di pasar modal Indonesia.
Pada penutupan perdagangan harian Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu, 3 Mei 2017, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), melemah 1,739 poin (0,95%) ke level 182,066. ISSI sebetulnya dibuka menguat di level 183,939 dan sempat menyentuh level tertinggi di 184,107.
Koreksi juga dialami indeks keping biru syariah, Jakarta Islamic Index (JII), yang melemah 8,537 poin (1,16%) ke level 727,656. Indeks JII menguat di level 737,565. Namun besarnya aksi jual jelang penutupan, membuat JII terseret masuk zona merah.
Transaksi perdagangan saham syariah pertengahan pekan ini juga berkurang signifikan. Dengan 58,19 juta saham, nilai jual beli saham syariah ini mencapai Rp 3,75 triliun.
Investor asing mengurangi porsi belanjanya pada saham-saham syariah. Meski masih mencatat nett buy, aksi beli bersih saham asing hari ini hanya mencapai Rp 91,85 miliar.
Aksi beli hanya mampu mendorong 54 emiten ISSI, 7 diantaranya bluechips, bergerak ke zona positif. Sementara 157 emiten syariah ramai-ramai berguguran.
Sebagian besar indeks sektoral memang mengalami koreksi. Koreksi terbesar ada di indeks pertambangan sebesar 1,21 persen, industri aneka 1,42 persen, dan infrastruktur 1,37 persen.
Hanya ada dua indeks sektoral yang menguat adalah sektor barang konsumsi sebesar 0,63 persen dan manufaktur 0,01 persen. Akan tetapi, penguatan dua indeks sektoral ini tidak cukup kuat menahan laju pelemahan perdagangan.
Emiten-emiten bluechip syariah top gainer adalah LPPF yang harganya naik Rp75, ICBP Rp50, INDF Rp50, INTP Rp50, dan Rp30.
Sebaliknya, emiten-emiten keping biru syariah top loser kali ini adalah SILO yang harganya terkoreksi Rp425, AKRA Rp200, UNVR Rp200, AALI Rp175, dan ASII Rp125.
Dari pasar uang, rupiah menguat terhadap dolar AS. Nilai tukarnya naik 19 poin (0,14%) ke level Rp13.286 per dolar AS.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya