Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?
Sampah Dibakar, Mikroplastik di Udara Mengintai
Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih
Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan
Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan
Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas
Ilustrasi
Dream - Penerbitan surat utang syariah (sukuk) global diperkirakan akan memperoleh momentumnya pada tahun 2015. Kebutuhan pembiayaan uang negara memicu negara pengekspor minyak Teluk dan Malaysia untuk memanfaatkan pasar sukuk.
Pertumbuhan penerbitan sukuk global tahun lalu relatif bergerak flat di US$ 114 miliar dibandingkan dengan US$ 120 miliar pada 2013. Penerbitan negatif tahun lalu dipengaruhi oleh penurunan 20 persen pasar sukuk Malaysia, yang mewakili lebih dari dua-pertiga dari penerbitan global.
Melemahnya kinerja sukuk Malaysia tahun lalu sedikit tertutupi dengan munculnya pendatang baru seperti Inggris, Luksemburg dan Afrika Selatan.
Tiga tahun terakhir pasar telah melihat pasar sukuk global berlipat gabda, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 33 persen selama 10 tahun terakhir. Stok sukuk yang beredar hampir empat kali lipat selama periode itu sebagai akibat dari penerbitan tahunan yang meningkat tajam.
Sebelumnya kurang dari US$ 32 miliar pada tahun 2010, namun naik hingga mencapai rekor US$ 118 miliar pada akhir tahun 2014.
Pasar sukuk negara telah meningkat tajam selama tiga tahun terakhir, dengan penerbitan tahunan meningkat tajam dari kurang dari US$ 15 miliar pada 2010, menjadi lebih dari US$ 20 miliar pada tahun 2014.
Analis Senior Moody's, Howladar menilai pertumbuhan penerbitan yang terus-menerus tersebut didorong sejumlah faktor seperti makin dikenalnya instrumen sukuk oleh investor global, meningkatnya likuiditas investasi syariah yang beralih ke sukuk, tumbuhnya permintaan ritel dan korporasi jasa keuangan syariah, serta meningkatnya standarisasi struktur syariah tanpa jaminan.
" Peningkatan dukungan kebijakan dari pemerintah baik negara non-Muslim dan Muslim membantu pertumbuhan penerbitan sukuk," katanya seperti dikutip laman Zawya, Rabu, 18 Maret 2015.
Howlader menambahkan, permintaan investor global dan likuiditas investasi syariah juga ikut mendorong permintaan sukuk. Sisi pasokan pasar disuplai oleh emiten dan pemerintah terkait.
Moody's mengakui industri jasa keuangan syariah memang kecil tapi tumbuh cepat. Industri ini diperkirakan memiliki aset global sekitar US$ 1,5 triliun, tingkat pertumbuhan tahunan sukuk lebih dari 10 persen.
Meningkatnya penetrasi di Teluk dan negara-negara Asia telah membuat sukuk sebagai salah satu sektor yang paling aktif.
Outstanding sukuk negara berkisar sekitar 36 persen dari pasar outstanding sukuk global yang mencapai US$ 296 juta pada Juli 2014. Dengan mempertimbangkan entitas pemerintah terkait, total gabungan melebihi satu setengah dari total penerbitan sukuk.
Volume sukuk negara telah tumbuh kuat selama dekade terakhir dan sekarang mencapai total penerbitan kumulatif US$ 438 miliar per Juli 2014. Banyak sukuk telah jatuh tempo sementara sukuk yang beredar sebesar US$ 105 miliar pada Juli 2014. (Ism)
Advertisement

3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi

Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026

Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya

Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil


Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?